CHAPTER 19

117 18 3
                                        

Tanpa menghiraukan terpaan angin dingin yang menusuk kulit, Iyon tetap bersandar pada pagar balkon kamarnya. Raut wajahnya sangat jelas mengatakan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.

Otaknya berputar memikirkan kembali deretan perkataan yang mengusiknya beberapa hari ini. Di saat dia sudah menyadari bahwa hatinya kini berlabuh pada sosok sekretaris seksi bidangnya, yang ia temui nyatanya bukanlah pelabuhan untuk menyandarkan perasaannya namun dia harus menerima keadaan bahwa dia telah karam duluan sebelum menyentuh daratan.

Pengakuan Seya beberapa minggu lalu benar-benar mengusik pikiran serta hatinya. Bagaimana bisa dia menyukai gadis yang menyukai sahabatnya, Sean. Terlebih lagi perkataan Sean yang akan menerima Seya jika gadis itu menyukai Sean sungguh membuat hati dan logikanya berperang hebat.

Iyon mengacak rambutnya frustasi, dia bingung dengan situasinya saat ini. Apakah dia harus memperjuangkan gadis pujaannya atau memilih untuk menyerah?

Hatinya mendorong untuk terus berjuang, tetapi logikanya memilih untuk menyerah. Dia takut, bagaimana jika dia gagal? Terlebih jika ternyata Sean tau fakta bahwa Seya menyukainya sebelum dia berhasil meluluhkan hati sang gadis. Apakah Seya akan memilih Sean dibandingkan dirinya?

Besok awal semester baru yang menandakan dia sekarang sudah kelas XII dan sebentar lagi dia akan demisioner dari Osis. Dia akan sibuk mempersiapkan UN, dan waktunya untuk mendekati Seya akan semakin tipis.

Semakin tipis waktu yang dihabiskan dirinya bersama Seya, bukankah artinya semakin kecil peluangnya untuk meluluhkan hati sang gadis?

Biarlah malam ini menjadi malam dengan seribu gejolak. Dia harus memutuskan kearah mana hatinya bergerak sebelum dia semakin jatuh pada sosok sekretaris sekbidnya, Raseyanna Amelgie Dyalo.

"Nyerah?"

Yah, mungkin keputusan itulah yang akhirnya dia pilih. Dia tak ingin merasakan sakit. Dia harus menghentikan hatinya selagi masih awal. Dia harus mengantisipasi rasa sakit berlebih akibat ulah gadis pujaannya, Seya. Cukup sekali dia merasa sakit setelah mendengar pengakuan Seya, kali ini jangan.

Merasa cukup dengan keputusan yang diambilnya, ia pun segera masuk kembali ke kamarnya. Mengistirahatkan sejenak raga, jiwa, dan hatinya yang terasa lelah padahal sejatinya hari ini dia tak melakukan apapun.

*****

Matahari telah menunjukkan dirinya, Semester baru telah dimulai. Satu tingkatan telah berhasil dilalui oleh para murid.

Seya dan Joy tengah berdiri didepan sebuah papan pengumuman. Wajah mereka terlihat kusut setelah membaca berita yang disampaikan melalui papan pengumuman tersebut.

"Sianjir. Kok pisah kelas sih? Mana gue sendiri doang lagi" Joy tak mampu lagi untuk tidak mengeluarkan umpatan setelah melihat pembagian kelas untuk dua semester kedepan.

"Leo juga sendiri tuh"

"Kan Leo sendiri atau nggak ya gak berarti buat dia. Dia gak butuh teman, gak kayak kita yang butuh buat ngerumpi. Lo mah masih enak sekelas bareng Erin, masih ada teman buat ngerumpi. Lah gue? Ngerumpi bareng kuda nil? gak lucu!"

"Yang bilang lucu emang siapa?" jawab Seya datar.

"Sey? loh kok makin hari makin ngeselin?"

"Kan definisi teman yaitu orang pertama yang ketawa ketika lo menderita"

"Sumpah Sey, prinsip lo itu aneh banget"

"Yaudah gak usah diterapin. Gue juga gak minta"

Saking kesalnya Joy dengan Seya, dia pun memiling leher Seya ke bawah. Secara otomatis kepala Seya pun ikun menunduk yang artinya memudahkan Joy untuk menjitak kepala Seya.

Sekedar RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang