CHAPTER 31

70 17 2
                                        

Seperti kata Iyon kemarin bahwa besok hari senin, dan tepat hari ini adalah hari senin. Seya dan Leo pun berjalan berdampingan menuju kelas masing-masing yang bersebelahan.

Ditengah perjalanan, entah Dewi Fortuna yang memihaknya ataukah Dewa Moros. Di koridor menuju kelasnya, mereka berdua berpapasan dengan Claery yang muncul entah dari mana.

"Kak Seya, Kak Leo" sapa Claery ramah.

"Hmm, dari mana?" balas Leo Sementara Seya hanya tersenyum samar.

"Dari ruang guru kak, kakak sendiri baru datang?"

"Seperti yang lo liat"

"Clae, gue duluan ya, ditungguin Erin" pamit Seya meninggalkan Claery dan Leo.

"Clae?" panggil Leo pada Claery yang memandang sedih kepergian Seya. "Lo baik?"

"Maksudnya?" tanya Claery.

"Gue tau lo pura-pura. Lo pasti paham maksud gue" Claery akhirnya tersenyum kecut mendengar penuturan dari seniornya ini.

"Aku gakpapa kak. Mungkin kak Seya butuh waktu" Senyum terpaksa pun ia tampilkan di wajah cantiknya.

"Lo yang sabar hadepin Seya" ucapnya menepuk pelan pundak Claery yang menyusut karena mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari Seya.

"Aku gapapa kok kak"

"Hmm, kalau gitu gue duluan" pamitnya yang dibalas anggukan oleh Claery.

Sepeninggalan Leo, kini senyumnya luntur begitu saja. Dia sudah tidak sanggup untuk berpura-pura baik-baik saja, padahal sejatinya dia juga merasa sakit. Sakit karena mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari sosok seniornya, Seya.

Walau Seya berusaha terlihat baik-baik saja, ternyata terselip kecanggungan dan rasa tidak nyaman yang berusaha disembunyikan olehnya. Namun untuk sosok yang sangat sensitif seperti Claery tentu saja sangat mudah memahami tingkah seniornya iu.

Satu yang dapat disimpulkan oleh Claery, Seya kini menghindarinya.

*****

"Sey, lo tadi pagi kenapa?" tanya Leo.

Mereka berdua sekarang sedang dalam perjalanan menuju kediaman mereka setelah seharian menuntut ilmu.

"Gue kenapa? Perasaan gue fine-fine aja deh?"

"Claery"

"Claery kenapa? Yang tadi pagi? Kita ketemu dia kan, dia nyapa, gue nyapa balik, udah. Ada yang salah gitu?" jawabnya enteng. Padahal dalam hatinya tahu betul apa yang sedang dibicarakan oleh Leo.

"Sey, gue gak bodoh. Gue juga tau kalau sekarang lo pura-pura gak tau maksud gue"

Seya meringis mendengar perkataan Iyon. Memang sahabatnya ini sangat sulit untuk dikelabui. Dia sudah mengetahui semua hal tentang dirinya.

"Gue juga bingung. Gua gak tau kenapa tiba-tiba pas liat Claery tubuh gue bergerak sendiri untuk menghindar. Padahal gue udah yakinin diri gue buat bicara baik-baik sama Claery" jawabnya sambil menunduk.

"Gue paham maksud lo. Tapi lain kali jangan menghindar kayak tadi pagi, lo secara gak langsung ngelukain hati dia" Seya mengangguk sebagai respon dari ucapan Leo.

"Maafin gue" cicit Seya dengan pandangan menunduk.

"Jangan minta maaf sama gue, lo harusnya minta maaf sama Claery bukan gue"

"Gue butuh waktu tapi"

"Iya, gue tau. Pelan-pelan aja" ucap Leo dengan senyuman terbit wajahnya.

*****

Sekedar RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang