CHAPTER 8

158 32 19
                                        

Setelah melalui berbagai tahap rekruitasi Osis yang memakan waktu lumayan panjang, akhirnya Seya, Leo, dan Erin kini sudah menyandang status sebagai anggota Osis.

Leo, Erin, dan Seya saat ini tengah duduk mengelilingi salah satu meja lebar bersama anggota osis bidangnya untuk membahas program kerja seksi bidang mereka kedepannya. Berbicara mengenai bidang, mereka bertiga ternyata secara kebetulan ditempatkan di seksi bidang yang sama dan secara sah akan dilantik beberapa minggu lagi.

Mereka bertiga diletakkan di Seksi bidang prestasi akademik, seni, dan/atau olahraga sesuai bakat dan minat dengan Koordinator merupakan sosok yang begitu dingin, Iyon.

Semula Erin, Seya dan anak bidangnya terlihat sedang asik mengobrol tiba-tiba diam dikarenakan kemunculan koordinator bidang mereka. Tak butuh waktu lama, mereka pun segera membahas program kerja untuk satu tahun masa jabatan mereka kedepannya.

Usai membahas program kerja yang membuat pusing kepala para anggota bidang, mereka pun mengobrol ringan untuk mengistirahatkan otak mereka yang terlihat sebentar lagi akan meledak.

"Kak, semenjak ikut rekruitasi osis sampai sekarang kok kita belum liat Ketua Osis ya?" tanya salah satu anggota osis penasaran.

"Iya kak, yang selalu hadir hanya kak Viktor sebagai perwakilannya. Dari semenjak ospek juga belum pernah keliatan. Waktu itu cuma kak Viktor, gue malah mikir kalau kak viktor itu ketua osis" sambung Seya penasaran.

"Waktu itu dia ada di luar negeri mewakili sekolah untuk lomba sains tingkat Internasional" jawab Iyon.

"Woah" kagum anak osis sambil bertepuk tangan ringan mendengar kehebatan sang Ketua Osis.

"Tapi setelah itu Erin liat dia masih sering absen. Apa dia mager kak? Minta diganti kayaknya, kakak gak minat gantiin dia?"

"Kenapa diganti?" tanya Iyon pada Erin.

"Dia kan jarang hadir kak. Kalau diabsen, dia pasti udah tinggal kelas atau bakal dibalikin ke SD lagi kak"

"Gak separah itu juga" tutur Leo singkat.

"Intinya dia itu malas Leo" balas Erin yang disetujui Seya.

"Gak ada gitu petisi yang mau nurunin si Ketos-Ketos itu?" tanya Seya.

"Nah iya Sey, petisi turunin ke SD kan?" Erin balik nanya.

"Bukan itu maksud gue, maksud gue tuh diturunin dari jabatan Rin"

"Emang dia gak bisa turun sendiri?" tanya Erin polos yang membuat Seya juga ikutan loading.

"Ehh iya ya? dia gak mau gitu turun sendiri daripada diturunin?"

"Ihh tumben Seya pinter. Gini dong, kita sepemikiran kan?"

"Iya Rin, kita kan selalu kompak. hehehe" mereka berdua pun saling tos.

"Tapi, ketosnya beneran gak bisa turun sendiri? Padahal kan ada tangga? Apa perlu Erin pinjemin tangga?" tanya Erin polos dengan nada cemberut yang sontak membuat Seya menggerutui dirinya sudah main menyetujui perkataan Erin. Dia lupa dengan fakta kalau otak Erin itu kurang setengah.

"Lo berdua sama aja, sama-sama bego" ucap Leo menohok.

"Kok gitu sih Leo? Kita gak bego ya! Kan itu fakta, ketosnya malas turun tangga" bantah Erin tak setuju dengan perkataan Leo. Sementara Seya sudah dipastikan hanya diam menerima hinaan itu karena dia sadar dia memang bego karena langsung menyetujui perkataan Erin.

Iyon yang mendengar perdebatan kecil itu pun angkat bicara, tak mau melihat anak-anak bidangnya semakin sesat. Mereka membutuhkan sosok Iyon untuk meluruskan kembali hidup mereka kejalan yang benar.

Sekedar RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang