Malam ini Sean datang berkunjung kerumah Seya. Katanya bunda kangen dengan Sean. Sean dan Leo memang sudah sangat akrab dengan ibunda sahabatnya itu sehingga tak heran jika bundanya menanyakan keberadaan Sean ataupun Leo.
Rencananya malam ini mereka hanya akan quality time diantara mereka bertiga. Tetapi Leo akan datang terlambat karena suatu urusan.
Sekarang Sean sudah berada dalam kamar Seya selagi menunggu Leo datang. Sementara sang pemilik kamar akan membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Sean... ambilin ikat rambut gue dong dia meja" teriak Seya dari balik kamar mandi.
"Lah? Ngapain ikat rambut? Buat apa coba?"
"Gue mager keramas"
"Cewek kok malesan, rambut lo lepek ntar"
"Gue udah keramas ya tadi pagi mon maap. Gue gak suka keramas malem-malem, ntar gue pilek"
"Kan ada air hangat Sey? Kamar aja yang gede, kalau gak ada air panas percuma"
"Bacot Seanjing! Ambilin aja napa?"
"Iya-iya bacot banget kunti!" Walaupun kesal, Sean pun tetap mengambilkan ikat rambut Seya. "SEY?" panggilnya lagi dengan nada teriak.
"Apalagi sih bangsat?"
"Meja lo luas egeb, yang mana dah dimari?"
"Laci atas di dalam kotak"
Sean pun segera membuka laci meja yang dimaksud Seya untuk mengambil ikat rambut gadis itu. Namun tanpa sengaja Sean menemukan foto dirinya bertiga bersama Seya dan Leo di dalam laci itu.
Sean hanya memandangi foto itu dan tersenyum hangat. Dia mengambil foto yang telah dibangkai rapi oleh sang empunya berniat untuk menilik kembali masa kecil mereka bertiga.
"SEAN!"
Teriakan Seya pun menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia menaruh foto itu di meja dan segera melangkah memberikan ikat rambut yang diminta oleh Seya.
Usai memberikan ikat rambut itu, Sean pun mengambil kembali foto semasa kecil mereka bertiga. Diperhatikannya lamat-lamat foto itu dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya.
"Masih disimpan aja ternyata nih foto. Tapi kenapa ditaruh di laci? Saking bencinya apa dia sama gue sampai-sampai foto gue aja dianggurin di laci?"
Tak ingin ambil pusing lagi, Sean kembali memandangi foto tersebut. Matanya tampak fokus hingga dia menemukan suatu keanehan di foto tersebut.
Manik hitamnya membulat tatkala ia membaca sebuah tulisan yang ada di dalam foto tersebut. Ia tak pernah menyangka bahwa ini akan terjadi. Sangat di luar nalarnya.
'IMPOSSIBLE CRUSH'
'Sean maaf, gue udah berani ngambil langkah tanpa mempertimbangkan persahabatan kita. Tapi tenang aja, perasaan gue biar gue yang atur. Gue pastiin perasaan suka gue ke lo gak bakal ngancurin persahabatan kita' Kurang lebih seperti itulah pesan yang tercantum di dalam foto tersebut.
Seya yang selesai dengan urusan bebersihnya pun keluar untuk menemui sang sahabat. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Sean sedang memegang bingkai foto yang berisi rahasia terbesarnya.
"Sean?" Yang dipanggil pun menoleh dan hanya menampilkan senyum yang tak dapat diartikan oleh Seya. "Lo udah baca ya?"
"Oh yang ini?" Sean memperlihatkan foto itu pada Seya. Seya pun hanya mengangguk. "Sejak kapan?" lanjutnya dengan sebuah pertanyaan.
"SMP kelas 2"
Emosi Seya sedikit naik ketika Sean hanya be-oh-ria sebagai bentuk tanggapannya. Padahal Seya sudah setengah mati menahan rasa gugupnya, namun pria ini hanya memberi respon santai? What?!
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekedar Rasa
Teen FictionTentang rasa yang menghiasi kehidupan yang penuh liku ini. Rasa yang mampu membangun dan membangkitkan semangat hingga meruntuhkan tembok terkuat yang telah dibangun bertahun-tahun. Akhir dari rasa ini mengiring setiap jiwa merasakan bahagia maupun...
