Suara langkah kaki kuda memnuhi pegunungan. Menurut laporan sekelompok orang menyebut diri mereka perampok tanpa batas melakukan pembunuhan pada wilayah kerajaan.
Bersama dengan pangeran domio kakak dari clarisa. Edgar terus melaju membawa kudanya menyusuri hutan. Hingga sebuah pondok kecil terlihat, dia merasa jika ada orang yang tinggal di sana. Dengan memberi aba-aba edgar meminta agar prajurit lain bersiap.
"Uji coba senjata" ujar edgar
Sebuah senapan laras panjang dia arahkan ke pondoh tersebut. Domio melihat benda yang di bawa edgar. Dia tahu benda itu karena edgar sempat memberinya sebagai hadiah. Namun dirinya tidak tahu bagaimana cara kerjanya.
Setelah penangkapan para bandit edgar maupun domio memilih beristirahat. Matanya menatap edgar, dia kadang kalah saing dengan sahabatnya ini. Untung saja dia sudah punya tunangan coba fikirkan jika dia belum punya. Lalu bersaing dengan edgar. Sudah pasti dia kalah.
Dari segi kekuatan dan kekuasaan mereka imbang namun ada beberapa bagian mereka tak sama. Dan perbedaan itulah yang kadang membuat dirinya sebagai calon raja kalah dengan edgar.
"Clarisa, dia sepertinya sedang tidak sehat" kata domio
"Maksudmu dia sakit?" tanya edgar
"Tidak, bukan tidak sehat dalam artian sakit. Tapi tidak sehat karena dia terus saja menyebut namamu. Ed kau apakan adiku huh! Kau pakai guna-guna!"
"Kau yang sudah tidak waras, untuk apa pakai hal kuno macam itu. Tanyakan pada adik mu sendiri kenapa menyebut namaku !" sewot edgar, yang membuat domio melongok, ya juga ya. Kenapa harus tanya edgar yang jadi topik. Harusnya tanya yang membuat topik.
Rasa lelah menghampiri edgar kala sudah kembali dari tempat tadi. Dia sedikit memikirkan perkataan domio. Kenapa ada apa, dan bagaimana bisa dia membuat clarisa jadi stres. Memang apa yang dia lakukan, sejenak dia berfikir. Hingga bayangan clarisa yang tersenyum padanya terlihat.
"Ya wajar saja sudah 10 tahun lebih aku bersama nya " kata edgar mencoba meyakinkan diri namun dia juga merasakan hal yang sama ketika dengan sizu. Wanita lembut penuh perhatian, membuat edgar nyaman denganya. Sedangkan clarisa sosok tegas dimana mirip ibunya yang memiliki pendirian tetap dan tak bisa di goyahkan.
"Dua wanita ini, kenapa harus mampir di hidupku. Apa menarik nya diriku? " memikirkan itu menbuat kepala edgar cenat cenut sendiri. Semakin di fikirkan semakin sakit kepala.
Mata edgar terpejam, sendiri sepertinya tubuhnya sudah meraung meminta di istirahatkan. Untung saja ke tiga adiknya tidak terlalu rewel saat ini. Jadinya dia juga bisa tenang karena tak harus menjaga adiknya.
Skip
Hari berganti dengan cepat, edgar diminta mengawal clarisa untuk pergi ke wilayah pinggiran. Harusnya clarisa dengan pengawal pribadinya. Hanya saja semua karena domio yang mengatakan jika clarisa akan lebih aman jika dengan edgar.
Akhirnya keduanya berangkat bersama, edgar hanya duduk dengan kaki yang menyilang. Dengan mata tertutup seperti memikirkan sesuatu. Clarisa jadi enggan bertanya pada edgar jika edgar sedang berekspresi atau bahkan terlihat seperti enggan di ganggu.
"Clarisa kenapa kau nekat ke desa pinggiran itu. Dari awal sudah ku bilang bukan jika wilayah itu masih bekum aman" kata edgar
Seketika jantung clarisa berdebar, bukan karena debaran jaruh cinta tapi malah debaran karena takut. Edgar yang bicara denfan nada datar dan serius adalah hal yang harus di hindari.
"Aku hanya ingin tahu ke adaan disana secara langsung" jawab clarisa
"Bagaimana jika kau terluka? Tidakah kau memikirkan itu juga?. Tak ada yang salah dari ke inginan mu clarisa. Hanya saja fikirkan juga resiko besar nya. Sudahlah, tiba di sana jangan coba menjauh se incipun dariku. "
Clarisa merasa sedih karena baru kali ini edgar marah padanya. Dia juga sadar akan resiko yang akan di terima namun. Entah kenapa dia malah tak bisa menuruti perintah itu. Perintah dimana semua melarangnya untuk tidak pergi. Namun dia malah mengabaikannya.
Akhirnya setelah perjalan jauh, mereka tiba di kota ALFER. Kota pinggiran yang baru saja mengalami masalah akibat ulah bandit dan juga para bangsawan yang melakukan tindakan ilegal. Dan yang lebih parah kota ini hampir di jual karena ulah bangsawan yang semena-mena memalsukan dokumen negara.
"Edgar, pertama aku ingin lihat kondisi pasar disini" hanya menurut, suasana jadi agak tegang. Beberapa bawahan yang mengikuti mereka juga enggan membuka suara.
Clarisa mengamati segala area pasar, semuanya benar-benar sepi. Tak ada pusat perbelanjaan yang ramai. Namun yang paling parah trauma para penduduk kota. Mereka bahkan enggan keluar saat ada orang datang. Pastinya ketakutan menyelimuti mereka.
Edgar terus memperhatikan sekeliking takut jika ada yang menyerang mereka secara diam - diam.
"Ayo lanjut" ajak clarisa yang memilih melihat area lain. Di ujung jalan dekat air mancur. Clarisa melihat anak kecil yang bermain. Syukurlah fikirnya, setidaknya anak - anak disini masih bisa bermain.
"Apakah para bandit benar-benar masih berkeliaran. Seingatku kau dan domio sudah mengurus mereka" kata clarisa
"Hanya setengah, penggerak mereka belum ketemu. Hanya para bandit tolol saja yang kami temukan" ujar edgar
Keduanya duduk du kurai sambil melihat anak - anak yang bermain. Clarisa jadi ingat masa kecil nya dnegan edgar dan domio. Dimana dia selalu menangis dan akan memeluk domio kala edgar mengabaikannya.
Bruk
"Huaaaaa hiks... Huaaaa " anak kecil yang bermian di depannya terjatuh. Clarisa langsung mendekat dan melihat apakah anak itu terkuka. Dan hanya ada lecet di lutut anak itu. Dengan cepat clarisa menutup lukanya dengan menyobek gaunnya.
"Lain kali hati-hati ya " mereka semua mengucapkan terimakasi pada clarisa lalu pergi dari sana. Clarisa kembali menemui edgar, terlihat pria itu menatapnya. Namun langsung mengalihkan pandangan.
"Permisi tuan " edgar berbalik kala melihat laki-laki tua yang menghampirinya.
"Ya? "
"Bisakah kau memberi tahuku dimana menara loceng berada?. " edgar mencoba mengingat, dengan sopan dia menujuk arah ke mana laki-laki tua itu harus pergi.
"Ed....... Hukkkk" clarisa tersentak kala seperti ada sesuatu yang menancap di lehernya. Ketika dia berbalik semua prajuritnya tergeletak di tanah. Clarisa merasa ada yang membekap mulutnya, hingga dirinya tak bisa berteriak memanggil edgar yang bicara dengan lelaki tua di depan sana. .
'Edgar..... ' lirih clarisa
Tbc
2/3 chap lagi END
KAMU SEDANG MEMBACA
I Make Duke Falling In Love ( END )
Romanceterbangun dengan tubuh yang berbeda membuat luna harus menahan nasib buruk dimana dia adalah istri seorang DUKE. yang di kenal kasar dan juga tidak memiliki simpati sama sekali. bahkan untuk sang anak sendiri Cover book : dari manhwa ( who made m...
