48. Kenangan tertinggal

1.1K 237 31
                                        

Hari itu dimana Erin masih bisa menatap Renjun di depannya yang sedang menyetir motor dengan anteng.

Entah laki-laki itu hendak membawanya kemana, namun yang pasti, angin lepas serta seruan ombak terdengar dari jauh.

Perjalanan nya lumayan jauh. Tapi tak terasa sebab Erin mendengar suara merdu Renjun bernyanyi sepanjang jalan.

“Ku ingin saat ini,
engkau ada disini....
Tertawa bersama ku,
seperti dulu lagi....
Walau hanya sebentar,
Tuhan tolong kabulkan lah....

Bukannya diri ini tak terima kenyataan,
Hati ini hanya rindu....”

Erin tersenyum hangat. Tatapannya mengarah pada sisi kanan yang memperlihatkan sebuah pantai yang terlihat begitu tenang.

Renjun melirik Erin dari spion, sebuah senyuman terukir di wajahnya. Jantungnya berdebar begitu melihat Erin yang duduk di jok belakang dengan penampilan yang begitu cantik.

Erin selalu terlihat cantik.

Renjun memarkirkan motornya di area parkiran.

“Mau beli makanan dulu gak teh?” tanya Renjun sembari membuka helm nya.

“Aa lapar gak?”

“Enggak, teteh aja sih? Mau beli makanan dulu gak?”

“Enggak a, mau langsung kesana.”

Renjun tersenyum melihat tingkah Erin yang menggemaskan. Lelaki itu mengangguk, kemudian mengajak Erin untuk segera memasuki area pantai.

Keduanya berjalan berdampingan, angin menerpa wajah mereka begitu pantai benar-benar berada di dihadapan mereka.

Erin terlihat senang, kedua matanya tak berhenti menatap deburan ombak pantai.

Renjun menarik tangan Erin, lelaki itu tak lelah untuk tersenyum hari ini.

“Maa Syaa Allah,” decak Erin kagum.

“Sore ini, kita lihat keindahan yang diciptain sama Allah teh.”

“Aa emang gak sibuk ya bawa teteh kesini?”

Renjun mengusap kepala Erin. “Kalo aa sibuk kita gak ada disini sekarang, teh.”

Erin tersenyum, hingga kedua kakinya melangkah kecil mendekati tepian pantai. Gadis itu sempat melepas sandal nya, lalu ia letakkan di permukaan pasir yang tak jauh dari Renjun.

Gadis itu melangkah perlahan, membiarkan air sejuk pantai membasahi kakinya.

Pantai sore itu cukup sepi, bahkan Erin dapat memastikan bahwa saat ini disana hanya ada dirinya dengan Renjun saja. Sepertinya orang-orang berkumpul di bagian timur.

“Teh! Sini!”

Erin menoleh, ia berlari menghampiri Renjun yang tengah mengukir sebuah nama di permukaan pasir pantai menggunakan sebuah ranting pohon yang patah.

“Kita kasih tau Allah, meski Allah udah tau.” Ucapnya, kemudian mengukir sebuah nama yang begitu besar.

Renjun putra Pradika
&
Serin Aula Fidha

“Kayak nikahan a.”

“Semoga aja.”

Erin kontan mendonggak setelah mendengar ucapan Renjun. Gadis itu menatapnya hangat.

“Sore ini milik kita teh.” Renjun mendekat, membenarkan hijab Erin yang hampir terbuka. Tangannya yang bergetar meraih tangan Erin untuk di genggam.

Teteh || Nct Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang