Mahasiswa kini tengah di sibukkan oleh kegiatan KKN. Berlalunya 3 bulan bagai 3 hari bagi mereka, begitu singkat sampai kini mereka tengah menyiapkan barang-barang untuk di angkut oleh sebuah mobil pick up menuju lokasi.
Pun dengan Jaemin, yang saat ini tengah bersiap untuk berangkat menuju lokasi KKN.
Karna kelompok di tentukan, Jaemin dan Haechan tidak berada di kelompok yang sama.
Subuh yang sejauh itu, Jaemin sudah bersiap menuju tempat yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan teman sekelompoknya.
Jaemin melihat Jeno yang baru saja keluar dari kamarnya, dengan wajah kacau khas orang yang baru bangun tidur.
"Kemana lu?"
"Gue KKN."
"Oh, si mas mana?"
Jaemin menggedikkann bahunya, kemudian berjalan menyusuri tangga untuk mencari Haechan di mushola.
Dirinya dibuat berhenti saat melihat pintu kamar berwarna kuning itu terbuka. Jaemin menghampirinya, bermaksud untuk menutupnya kembali. Namun, semerbak wangi yang familiar membuat dirinya tertegun hebat.
Lututnya mendadak lemas. Jaemin menatap ke dalam kamar Almarhum Renjun, dan semerbak wangi itu kian tercium.
Jaemin melangkah mundur dengan degup jantung tak beraturan.
"Kak."
"Astaghfirullah, Adek ih!"
Jaemin merutuki Si bungsu yang tiba-tiba muncul dan membuat dirinya terkejut.
"Kak, minta uang atuh. Uang saku Adek abis kemarin di pake beli lato-lato."
"Masa udah abis lagi si, dek? Ayah kan kemarin udah transfer ke Abang buat jajan Adek sama lele."
"Adek aja kemarin jajan pake uang Minggu lalu kok, Abang belum kasih lagi."
Jaemin menghela napas berat, ia berdecak bahwa urusan uang memang sedang tidak beres di rumah ini. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet yang terdapat beberapa lembar untuk bekal KKN nanti.
"Kakak cuma bisa kasih 200, barengan sama Lele. Uangnya buat keseharian kakak buat KKN, dek. Kalo emang Abang belum kasih lagi, jangan minta dulu ke ayah. Pinjem dulu aja tabungan lele."
Jisung menunduk, "Sebenernya semua habis, kak. Card nya lele di tarik semua buat biaya sekolah, kemarin Bu Karin udah bilang lagi perihal anggaran wisuda."
Lelaki itu meremat ujung bajunya. Mengingat sekolah Ayah Pradika menyekolahkan 2 bungsu di sekolah elit, tentunya segala biaya keluar dengan jumlah diluar nalar.
Pantas saja Card yang selama ini di pakai tanpa pikir harga itu tak bisa di akses lagi, sebab Chenle tak ada uang untuk membayar perbulannya.
"Sama sekali gak ada sisa?" Tanya Jaemin.
"Ada, cuma kata Lele di simpan di rekening Teteh. Soalnya takut perlu banget, kondisi usaha ayah kan lagi gini kak."
"Rekening teteh? Kan teteh udah gak disini lagi, gimana coba?"
Jisung menggeleng. "Enggak kok, teteh sempet Nelfon pas kita di sekolah. Terus dispen 2 jam pelajaran karna teteh Nelfon, nah terus lele bilang nitp uang ke teteh, kata teteh gapapa soalnya teteh mau ke Jakarta lagi."
Si bungsu itu bercerita dengan binar mata yang kembali bersinar setelah sekian lama. "Pokonya ini rahasia, teteh kesini belum tentu kita bisa ketemu teteh. Gitu katanya."
Jaemin merasa tak ada lagi kesempatan untuk bertemu sosok gadis yang selama ini menempati singgasana hatinya. Erin benar-benar menjauh dari keluarga Pradika. Selain itu, Yeonjun membatasi segala komunikasinya bersama Erin sebab katanya, agar Erin bisa fokus sembuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teteh || Nct Dream
Fanfiction"TETEH! AA, ABANG, MAS, SAMA KAKAK SUKA SAMA TETEH KATANYA!" Pekikan Suara Chenle menggelegar di seluruh penjuru Rumah.. Erin tercengang...Heh?! Sementara disisi lain.. "Ck, Lele sama Adek tuh! Huh!" "Yaa, gimana ya...Mending kita bersaing secara se...
