76. Di Rumah Kita

857 104 8
                                        

Bruk!

Tas serta koper berisi pakaian itu diletakkan di atas tanah.

Jaemin berdiri memandangi sebuah rumah bercatkan kuning pudar. Terdapat dua lantai, dan di atas Jaemin dapat melihat sebuah balkon luas tanpa atap, dibuat terbuka dengan beberapa kursi serta meja.

Senyuman terpatri diwajahnya. Terlihat sebuah kehidupan sebentar lagi akan mengisi setiap sudut rumah.

Sebuah sentuhan lembut di bahunya membuat Jaemin kembali tersenyum, ia menoleh, mendapati tangan putih Istrinya mengusap pelan bahu.

Diraihnya tangan itu dengan canggung, “gimana?”

Erin dengan mata berbinar masih sibuk memahat rumah itu. Ia tersenyum, karna ternyata, Jaemin menuruti keinginannya.

Membeli rumah di daerah Bandung, yang terletak di pemukiman warga ramai. Namun, rumahnya berada di urutan paling ujung. Menghadap pada sebuah gunung yang terlihat jauh, sawah-sawah hijau, serta pemukiman lain yang terlihat hidup di bawahnya.

“Rumah kita.” Ucap Erin, sukses membuat Jaemin mendengus menahan malu.

Sampai detik ini, Jaemin rasanya tengah bermimpi, berdiri dengan wanitanya, di hadapan sebuah rumah yang ia sebut 'rumah kita'.

Sebuah genggaman lembut berasal dari sepasang tangan kecil istrinya, membuat Jaemin tertegun. Ketika menoleh, ia mendapati sepasang mata cantik menatapnya hangat.

“Kita masuk yuk, beres-beres sebelum adzan ashar.”

Jaemin mengangguk, kemudian mengikuti langkah sang istri yang membawanya masuk ke dalam rumah.

Pintu utama terbuka, membuat keduanya memang dengan senyum penuh haru. Jaemin bahkan membaca doa dengan mata berpendar mengamati ruangan di dalamnya.

Ada sebuah sopa serta meja makan, yang sebentar lagi, hanya akan terisi oleh kebahagiaan saja.

Erin melangkah masuk membuka alas kakinya, dapat dirasakan sebuah debu mengganjal telapaknya. Erin mulai membuka korden agar entitas cahaya masuk menerangi rumah mereka.

Jaemin mengucapkan terimakasih kepada sopirnya yang membawa barang di mobil pick up, sedangkan mobilnya ditinggalkan untuk kendaraan di rumah.

Koper serta beberapa tas ia letakkan di sudut ruangan. Sedangkan Erin mulai menjamah seisi ruangan.

Jaemin menyusul langkah sang istri menaiki tangga menuju lantai dua. Sampai dimana sebuah pintu terbuka, membuat Erin terpaku dan melangkah pelan keluar.

Ternyata balkon dengan view bukit, sawah, serta pemukiman warga tak membuat Erin berhenti mengucap 'Maa Syaa Allah' mengagumi keindahannya.

Jaemin memerhatikan istrinya dengan senyum. Gamis yang jatuh meliuk bebas oleh angin, perempuan itu menoleh, menyambut dirinya dengan senyuman semanis madu.

“Sini, kak.” Ucapnya lembut.

Jujur saja, ini masih sangat canggung. Ia terbiasa berinteraksi dengan Erin sebagai 'Teteh' yang selalu bisa ia andalkan di rumah. Kini nyatanya, Erin adalah istrinya.

ISTRINYA!

Sambutan lembut yang menyapa telapaknya membuat Jaemin mendengus salah tingkah. Ia memalingkan wajahnya disaat Erin begitu terang-terangan memahat wajahnya.

“Inget gak kakak dulu tiba-tiba marah sama Teteh, karna katanya mau jauhin teteh. Boleh tau gimana perasaan kamu waktu itu?”

Jaemin menoleh, membalas tatap lembut sang istri. Kemudian tersenyum.

“Waktu itu kacau banget, kakak bukan lagi sekedar suka sama kamu. Tapi disaat yang bersamaan, kakak sadar bahwa yang sedang mengejar kamu bukan cuma kakak, Teh. Tapi Aa, Abang, dan Mas juga.”

Teteh || Nct Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang