Erin menarik selimut Jisung. Pagi-pagi, anak ini udah demam karna kemarin hujan-hujanan sama abangnya.
Setelah selesai ngurus Jisung, Erin turun ke bawah buat siapin sarapan.
Di sopa, udah ada ayah Pradika beserta Jeno, Jaemin dan Haechan. Mereka tampak serius berbicara, bahkan kedatangan Erin gak mereka sadari.
Erin berusaha pelan menata beberapa piring berisi roti bakar yang dia buat dengan kursus dari umi.
Kemudian, susu kotak serta teh buat ayah Pradika.
Sampai Erin selesai dengan urusan dapurnya, keempat orang itu masih di tempat dengan sorot mata serta nada bicara ayah Jaehyun yang semakin serius.
Erin terdiam, apa ada masalah?
“Teh,” panggil Renjun.
Erin menoleh, kemudian tersenyum menyambut kedatangan Renjun yang udah wangi pake Hoodie dan sarung.
“Aa sarapan dulu.” Erin narik kursi mempersilahkan Renjun untuk duduk. Renjun senyum tipis kemudian mengangguk.
Erin dengan telaten menyiapkan sarapan Renjun, mulai dari roti diletakkan ke piring, sampai menuangkan susu ke gelas Renjun.
“Aa katanya harus banyak minum vitamin, mau teteh ambil vitaminnya?”
Renjun terdiam sejenak, “teteh tau darimana?”
“Ayah yang bilang, gimana?”
Renjun mengangguk ragu. “Boleh, vitaminnya di tabung yang kertasnya warna hijau ya teh.”
Erin mengangguk dan segera pergi ke kamar Renjun. Pertama-tama yang dia lihat setelah membuka pintu kuning Renjun, adalah kamar yang rapi dam bersih.
Erin memerhatikan setiap inci kamar Renjun, wangi khas Renjun menyambut Indra penciuman nya.
Cewek itu menghampiri nakas, mencari tabung vitamin yang Renjun maksud. Tanpa lama, Erin udah nemuin tabung obatnya, namun salah satu buku disana terjatuh tersenggol Erin.
Erin meraih buku itu, dilihatnya Lekat karna buku itu terjatuh dengan posisi terbuka. Erin tau ini lancang, tapi rasa penasaran nya begitu membludak sehingga matanya mulai bergerak membaca kalimat demi kalimat disana.
Kertasnya kotor, tepatnya ada sebuah bercak coklat yang sudah lama terabaikan.
Hari ke 3 pengobatan aa, dan hari ketiga juga aa bohong sama teteh dan keluarga ...
Ya Allah, ampuni aa karna telah berbuat kebohongan sebesar ini. Aa pengen sembuh tanpa harus dikhawatirkan dan menyusahkan semua orang.
Aa pengen sembuh tanpa harus menghambat kuliah dan hari-hari semua orang.
Ya Allah, aa sanggup dan ikhlas memenuhi panggilan engkau sewaktu-waktu.
Tapi, aa mau satu saja. Beri aa waktu hidup sedikit lagi untuk dipenuhi bersama keluarga aa dan juga Teteh...
—Jogja, tertanda:
Renjun Putra Pradika
Penderita leukimia
Erin meluruh ke lantai, isakan tersedu-sedu mulai terdengar. Tangannya bergetar masih dengan memegang buku itu.
Sesak mulai menguasai dadanya.
Kenyataan pahit yang seharusnya tak ia kagetkan lagi.
Jadi selama ini kekhawatirannya benar-benar terjadi. Erin sakit hati mengetahui kenyataan bahwa Renjun pengidap leukimia.
“Aa...” lirihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teteh || Nct Dream
Hayran Kurgu"TETEH! AA, ABANG, MAS, SAMA KAKAK SUKA SAMA TETEH KATANYA!" Pekikan Suara Chenle menggelegar di seluruh penjuru Rumah.. Erin tercengang...Heh?! Sementara disisi lain.. "Ck, Lele sama Adek tuh! Huh!" "Yaa, gimana ya...Mending kita bersaing secara se...
