Seminggu berlalu usai acara Khitbah Aa Yeonjun. Kini Erin selalu berkunjung ke rumah Pradika, membawakan kue buatan Umi sepulang kerja, atau sekedar memenuhi panggilan Bunda untuk memasak dan menghabiskan waktu lainnya.
Kekosongan kian terasa sebab yang ia harapkan untuk berjumpa, sudah mengambil jarak menuju Jakarta.
Erin merindukan Jaemin.
Kini dirinya hanya terdiam, sesekali menanggapi bunda yang membahas tentang tanaman hiasnya sembari memasukkan beberapa cookies ke dalam keranjang rotan miliknya.
“Nih, udah bunda masukin. Bilang umi kamu, kurangnya apa, biar bunda bisa belajar lagi.”
Erin mengangguk sembari tersenyum, “iyaa Bun. Kalo gitu Erin pamit yaa, makasih buat cookiesnya loh.”
Bunda tersenyum sembari memeluk Erin sekilas, setelah itu mengikuti langkah Erin menuju pintu depan. Dan berakhir melambaikan tangan saat Erin mulai melesat dengan mobilnya yang di kendarai oleh sopir pribadi.
Erin tak membuka suara sedikitpun setelahnya. Ia sibuk merasakan perasaan yang begitu campur aduk. Tatapannya tertuju pada langit-langit Bandung yang terlihat jelas cantiknya saat sore hari.
Mengingat senyapnya rumah besar Pradika, membuat Erin merasa sedih melihat bunda sendirian.
Semua putranya kembali ke Jakarta, yang satu harus ke Kudus bersama istrinya.
Begitu hampa yang jelas Erin rasakan sebagai bunda. Sebab sedari tadi, bunda hanya menceritakan tentang putranya.
Dimulai dari nasib Jeno, lalu bunda pernah hampir menyusul mas ke Kudus sendirian sebab putranya itu tak kunjung mengabari, tak sedikit juga bunda mengeluh soal kekhawatirannya terhadap 2 bungsu.
Ada fakta lain yang membuat Erin sedikit terkejut mengenai Jaemin.
Lelaki itu sama sekali tak pernah membahas perempuan. Bahkan sempat bunda mendengar dari Abang, satu keluarga mendatangi rumah di Jakarta hanya untuk meminang Jaemin menjadi suami putrinya.
Erin tersenyum tanpa sadar. Kepergian Jaemin ke Jakarta sama sekali tak meninggalkan kontak sedikitpun.
Itu syarat dari Abi.
“Sebelum kalian menikah, jangan pernah bertemu bebas seperti sebelumya. Jangan saling menghubungi. Belajar sebelum menikah, bahwa segala bentuk kedekatan antara lelaki dan wanita itu Zina. Kalian tau itu.”
Abi sekaligus menegur keduanya. Sebab tak ingat batasan saat pergi ke pasar waktu itu, Abi tak senang mendengarnya.
Meski saat itu Erin sangat yakin dirinya tak menyentuh Jaemin selain menepuk bahunya.
Nomor Jaemin masih setia ia lirik, barang kali ada keajaiban. Lelaki itu memberi kabarnya dengan satu dua patah kata pesan.
Namun sayang, sepertinya akan terus begini. Jaemin berpegang teguh pada pendiriannya, sebisa mungkin menuruti Abi dan menghindari masalah yang membuat dirinya gagal kembali.
Erin menghela napas berat, rumahnya kian tampak. Ada motor yang terparkir disana, yang ia ketahui itu bukan milik Aa.
Ada orang yang sedang bertamu.
“Pak, makasih yaa. Jangan lupa masuk dan makan bareng, neng duluan.” Ucapnya sebelum ia benar-benar keluar dan menutup kembali pintu mobilnya.
Dapat Erin lihat ada Aa dan Abi tengah berbincang dengan lelaki yang duduk membelakanginya.
“Assalamualaikum.”
Ketiganya sontak menoleh, lantas menjawab, “Waalaikumussalam.”
Erin menundukkan pandangannya, ia menyalimi tangan Abi dan Aa. Kemudian berbalik menyapa dengan kedua tangan bertaut tanda ia tak bisa bersalaman secara fisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teteh || Nct Dream
Fanfiction"TETEH! AA, ABANG, MAS, SAMA KAKAK SUKA SAMA TETEH KATANYA!" Pekikan Suara Chenle menggelegar di seluruh penjuru Rumah.. Erin tercengang...Heh?! Sementara disisi lain.. "Ck, Lele sama Adek tuh! Huh!" "Yaa, gimana ya...Mending kita bersaing secara se...
