Ada banyak hal yang perlu kita lepaskan, tapi tak ada banyak hal yang kita miliki.
Semua itu perihal singgah yang tak bisa menjadi tetap.
Siklus yang paling akurat dalam hidup adalah menyambut, menerima, melepas dan mengantar.
Menyambut kedatangannya, menerima kehadirannya, melepas kepergiannya, lalu mengantar pada tujuan terakhirnya.
Sama halnya Aa, dia hanya tau ketika lahir nanti ia harus hidup, setelah hidup nanti ia harus menjalankannya lalu menunggu waktu mati.
Karna Lahir, Hidup, dan Mati adalah alur yang mutlak. Semua sudah di atur oleh Tuhan yang maha Esa.
Tak pernah Haechan membayangkan bahwa hidupnya akan di permainkan seperti ini, dan Haechan tak menyalahkan Tuhan.
Dia menyalahkan dirinya sendiri.
Menyesal tak kepalang saat kakinya berdiri dengan terpaksa di hadapan banyak orang. Merutuki diri dalam hati.
Kenapa ia harus takut menolak permintaan kyai Fateer?
Kenapa juga ia harus mengalah untuk Soraya?
Harusnya jadi brengsek sekalian, menjadi orang yang tak tau terimakasih karna menolak permintaan tolong dari seseorang yang sudah merawat dan menjaganya selama 4 tahun.
Alasan kenapa dirinya memilih untuk merelakan Teteh untuk menerima permintaan Kyai, bukan hanya karena Kyai saat itu tengah di ambang kematian. Meminta saat dirinya sekarat.
Tapi Aa pernah berpesan, dan Haechan ingat persis.
“Apa yang dikatakan seseorang di detik-detik terakhirnya itu, adalah hal yang perlu kita bantu wujudkan. Tandanya dia mau sekali melakukan itu, tapi waktu tak cukup untuk dia arungi lebih lama. Dia harus pulang.”
Haechan sangat ingat, dan hal ini menjadi perdebatan sengit antara batin dan fikirnya.
Sekarang, ia kalah dalam perdebatan itu. Gagal untuk menjadi kepercayaan Aa.
Haechan memandangi kaca besar, menampilkan diri yang terbalut Thawb putih bersih, Jas ikut memadui, lalu sorban yang terlipat di bahu, serta kepala yang tertutupi Kopiah.
Ia di dampingi Bunda yang masih menangis melihat penampilannya.
“Mas, anak bunda. Sini mas Echan.”
Bunda memanggil lembut, seolah saat ini adalah saat terakhir Bunda memperlakukannya seperti anak kecil. Sebab nanti, tak bisa lagi.
Haechan menurut, ia berbalik pelan. Menghampiri bunda yang duduk di tepi kasur.
Berlututlah dirinya di atas lantas berlapiskan karpet, menyandarkan kepala yang terasa berat. Bunda turut mengusap kepala putranya.
“Abang sudah nikah, Mas juga sebentar lagi akan Akad ulang. Bunda boleh ya, Nak, perlakukan kamu seperti putra kecil bunda?”
Haechan tak dapat menahan air matanya, ia mengangguk dengan air mata terjatuh.
“Mas, dengerin bunda ya, Nak. Terlepas dari masalah kemarin, Soraya itu istri kamu. Perempuan yang harus kamu bimbing, Mas. Tolong sayangi dia,” Bunda mengusap bahu kokoh putranya lembut.
“Kamu gak gagal menjaga amanat Aa, kamu sudah berusaha, cuma gak kesampaian aja. Semua sudah di atur sama Allah, Nak. Tolong jalanin ini dengan ikhlas.”
Haechan mengangguk, dipeluknya daksa kecil Ibunda. Yang sudah melahirkannya hingga merawatnya sampai saat ini.
“Maafin mas ya, Bun? Maaf udah kecewain bunda.”
“Gapapa, Nak. Posisi kamu pasti sulit juga. Bunda udah maafin, bunda doakan akadnya lancar.”
Haru membiru memenuhi seisi kamar hotel singgahan Pradika. Ibu dan Putranya tengah saling memeluk, menyalurkan perasaan tak rela akan berpisah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teteh || Nct Dream
Fanfiction"TETEH! AA, ABANG, MAS, SAMA KAKAK SUKA SAMA TETEH KATANYA!" Pekikan Suara Chenle menggelegar di seluruh penjuru Rumah.. Erin tercengang...Heh?! Sementara disisi lain.. "Ck, Lele sama Adek tuh! Huh!" "Yaa, gimana ya...Mending kita bersaing secara se...
