67. Pelabuhan terakhir

568 135 31
                                        

Ada hal yang membuat Erin selalu tersenyum pagi ini. Pertama, ia sudah jauh lebih baik. Kedua, hubungan Keluarganya dan keluarga Arjuna tetap baik meski Erin menolaknya.

Dan terakhir, ia mendapati Jaemin tengah duduk di motor Scoopy nya menunggu lama diluar gerbang rumahnya.

Erin tersenyum, memerhatikan betapa menawan ciptaan Allah di hadapannya, sesekali beristighfar dan mengucap 'Maa Syaa Allah' dalam hatinya.

Karna ini masih sangat pagi, bahkan langit masih menunjukkan kebiruannya seolah enggan meninggalkan waktu subuh yang sejuk.

Jaemin hanya menggunakan kaos putih dan sarung yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat menarik.

Rambut hitam yang legam, angin sejuk pagi hari mampu membuat Surai demi surai bergerak membuat siapapun terpesona sampai lupa dimana ia berpijak.

"Assalamualaikum, gadis mau kemana?"

Erin terkekeh kecil. Sungguh, tak ada senyum yang lebih cantik daripada Erin. Bagi Jaemin, senyum itu membuat siapapun yang melihatnya merasa bahagia.

Cantik, selalu cantik.

Jaemin tak heran mengapa Soraya begitu bergetar ketakutan ketika melihat kehadiran Erin, sebab bukan hanya kecantikan, istri dari masnya itu sadar bahwa Erin benar-benar bersinar di mata siapapun.

"Waalaikumussalam, Kak. Padahal Teteh udah bilang gak perlu dianter, soalnya ada Aa."

Dengan hijab instan berwarna hitam, yang membuat wajahnya kian manis. Serta setelah gamis berwarna pink muda bernuansa floral.

"Bunda juga nitip bahan di pasar, jadi ya bareng aja. Teteh beneran hari ini kosong?" tanya Jaemin.

Erin mengangguk mantap. "Iya, persiapan pindah tugas juga. Paling ada satu dua pasien yang harus dituntaskan konsultasinya."

Mengingat akan ada Mas yang datang, Jaemin hanya bisa mengangguk. Maka ia harus membawa Erin pulang sebelum mas tiba di rumah.

Bukan apa, untuk sementara ini Jaemin harus menjaga perasaan Mas. Bagaimanapun, lelaki itu masih menyimpan Erin dalam sebaik-baiknya tempat di hatinya.

"Mau pake helm gak?" tanya Jaemin. Terdengar aneh, namun Erin menggeleng sebab jarak pasar dari rumahnya tak begitu jauh. Tak harus melewati jalan raya besar sebab mereka bisa mengambil jalan lain.

Jaemin melepas helmnya, kemudian menenteng keduanya untuk ia titipkan di teras rumah Erin.

"Gak pake juga, Kak?"

"Enggak, ayo naik."

Jaemin melirik pergerakan Erin melalui spion. Perempuan itu hendak mengangkat gamisnya, Jaemin buru-buru memalingkan wajahnya meski kenyataannya kaki itu tertutupi kaos kaki atau celana panjang.

Erin menepuk pelan bahu Jaemin tanda dirinya sudah duduk dengan aman. Dan motor itu melesat, menembus sejuknya udara pagi Bandung menuju pasar sederhana Bandung.

Sepanjang jalan di isi oleh suara riang Erin, yang sesekali menunjuk kedai atau tepat yang sering ia kunjungi pada Jaemin.

Kemudian, Jaemin menanggapinya dengan senang. Sesekali tertawa melihat betapa lucu wajah Erin di belakang sana.

"Umi siang ini mau bikin kue, katanya nitip juga ke Bunda, Kak."

Sengaja Jaemin memelankan laju motor, selain karna ia ingin berlama-lama dengan Erin, ia juga ingin mendengar dengan jelas apa saja yang diceritakan gadis itu.

Terlepas dari menganggap apa Erin terhadapnya, yang jelas ia merasakan bahwa Erin tengah melepaskan rasa rindunya terhadap rumah di Jakarta beberapa tahun lalu.

Teteh || Nct Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang