63. Akhir Penantian

527 134 77
                                        

Rumah besar kediaman Pradika saat itu terlihat ramai. Jaemin menoleh ke arah Jeno yang sama bingungnya, tampak mengerutkan alis sebab tak biasanya kediaman ayah ramai kecuali jika itu acara perusahaan yang sudah di agendakan.

Jaemin membuka pintu mobil, lebih dulu melangkah. Sedangkan Jeno harus membangunkan Jisung dan Chenle yang tengah tertidur.

“Bangun Lo curut, dah sampe.”

Jisung dan Chenle tampak terkejut. Dengan penglihatan yang samar dan nyawa yang belum sepenuhnya kembali, keduanya mengangguk dan segera menyusul Abang dan kakaknya itu.

“Assalamualaikum,” ucap Jaemin.

Dapat dia lihat ada begitu ramai orang di dalam. Tengah berbincang ria sebelum akhirnya hening dan memusatkan perhatian padanya.

Ayah tampak senyum, sedangkan bunda segera menghampiri mereka. Peluk hangat menyambut mereka, bunda dengan lembut mengusap punggung putranya satu persatu. Berakhir memeluk erat si bungsu, serta memukul nya pelan sebab si bungsu sangat sibuk akhir-akhir ini.

Jaemin mencari keberadaan Haechan. Namun ia di tarik oleh ayah untuk segera duduk di meja makan, berkumpul dengan tamu ayah. Begitupun dengan Jeno, yang masih bingung dengan keadaan hanya bisa menuruti ayah yang menyuruhnya untuk duduk.

Beberapa hidangan siap di atas meja, ada juga kudapan khusus untuk perjamuan.

Jaemin mengamati keluarga di depannya, ada sekitar 6 orang. Dia melirik orang yang menggunakan thawb berwarna coklat, sebuah terusan yang sering di pakai pria muslim Arab.

Itu sepertinya seorang pimpinan.

“Ini putramu?” suara bariton dari pria paruh baya itu terdengar, menginterupsi penghuni.

“Iya, Baba. Yang pertama anak saya sudah pulang duluan, yang kedua ini Jeno, di sebelahnya Jaemin anak keempat, yang berdua di ujung itu Bungsu saya.” ayah menjelaskan dengan senyum ramah dan sopan.

Sudah Jaemin duga. Keluarga di hadapannya ini adalah pemilik pesantren yang pernah ayah ceritakan.

Percakapan kecil antara ayah dan kyai itu terjadi lumayan lama, membahas bisnis serta sesekali bergurau. Sampai dimana seseorang yang begitu ia tunggu kehadirannya, datang.

Jaemin mengamati masnya itu dengan senyuman rindu. Haechan hanya membalasnya sekilas, lalu ia duduk di samping bunda.

Jelas dirinya heran, ada apa dengan raut itu?

“Karna semua anggota keluarga sudah hadir, boleh saya jelaskan maksud dengan kedatangan saya?”

Hening untuk beberapa saat. Ayah tak kunjung menjawab, sampai Jeno harus mengangguk meresponnya.

“Meski hubungan Haechan dan Soraya, putri saya sudah sah. Ada baiknya kita segera mengadakan acara untuk pernikahan mereka. Bagaimana?”

Tak ada yang berani membuka suara setelahnya.

Semua terlalu tiba-tiba.

Jaemin menoleh ke arah ayah yang tengah menunduk, lalu ia melirik Haechan yang sama bungkamnya, hanya menatap kosong arah depan.

Jantungnya berdegup kencang, Jaemin bahkan merasakan napasnya menyempit. Sulit untuknya hanya sekedar mengingat bagaimana kuatnya tekad Haechan untuk melaksanakan amanat Aanya.

“Sebentar, pernikahan siapa?” Jeno bertanya dengan suara bergetar.

Tak ada yang berani menjawab Jeno. Semua terlalu bingung, bahkan Kyai Zayn hanya bisa terdiam sebab paham keluarga ini tak mengetahui pernikahan Haechan yang dilakukan mendadak di Kudus.

Teteh || Nct Dream Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang