1

3.7K 295 2
                                        

Tak terasa waktu berjalan empat tahun lamanya. Kepedihan yang dulunya menyakiti, kini perlahan sembuh. Tumbuhlah bunga indah disela-sela sakitmu.

 Tumbuhlah bunga indah disela-sela sakitmu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

.

.

Gemuruh pada lantai kayu yang dipijak terdengar keras. Senyum terulas penuh semangat begitu melihat sosok kakaknya di depan rumah. Senyumnya lebar, kakinya nyaris melayang saat mendekat. Tapi langkahnya perlahan melambat ketika melihat dua anak kecil yang berdiri di samping kakaknya.

siapa mereka?

Dadanya terasa aneh, ada sesuatu yang mengganjal, tapi ia tidak tahu apa itu. Kakaknya tersenyum seperti biasa, tapi kini senyum itu juga diberikan kepada dua anak asing itu.

"Shinichiro-nii? Siapa mereka" Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada sang kakak. Jemarinya menunjuk pada kedua anak lelaki itu.

Sosok kakaknya memberikan senyum seperti biasanya, ke—tiganya melangkah mendekat sampai tiga puluh centi dihadapannya.

"Mereka kakak barumu, mulai sekarang kalian saudara. Yang akur ya."

Eh...?

Seperkian detik ia memproses apa yang baru saja kakaknya katakan. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba dapat kakak baru..?

"KAKAK BARU?!"

Mendengar ke antusiasan (Name), Shinichiro mengangguk bangga.

"Izana dan Kakucho ya?" Baru saja sosok kecil itu bertanya lebih lanjut, atensi mereka teralihkan oleh sosok wanita tidak tua, tidak muda. Siapa lagi kalau bukan ibunya.

Hal ini mengundang rasa penasaran pada kedua anak yang baru datang itu, mereka bertatapan seolah bertanya.

"Dia siapa Shin?" Bisiknya pelan.

Shinichiro tidak menjawab melainkan tersenyum, selang beberapa waktu mereka masuk kedalam ruangan.

🧚🧚

"(Name). Perkenalkan, mereka Izana dan Kakucho" Mai memulai pembicaraan, jemarinya menuangkan coklat panas pada cangkir yang tersedia. Senyuman tidak pernah luput dari bibirnya.

"Aku Kurokawa Izana senang bertemu denganmu" Perkenalan yang begitu mendasar. Anak kecil berkulit eksotis itu juga tidak terlalu tertarik, entah masih merasa perlu beradapsi atau bagaimana. Netranya melirik kesamping—

—berbeda dengannya, sedangkan Kakucho sedari tadi terlihat lebih antusias dibanding dirinya. "Aku Kakucho Hitto! senang berkenalan denganmu (Name)!"

"O-oh y-ya.." Cicitnya pelan

Yang namanya pertemuan pertama, ketiga anak kecil itu terlalu kaku. Tidak ada obrolan didalamnya, Shinichiro dan Mai saling pandang lalu terkekeh pelan.

"Aku tau kalian masih harus beradaptasi. Tapi Ibu harap kalian berteman dengan baik ya.." Ucap Mai

Shinichiro terkekeh singkat, netranya melirik kearah jarum jam dinding yang menunjuk pada angka lima. Seketika pemuda itu beranjak dari duduk nya.

"Sudah jam segini, aku pergi dulu Ibu"

Mai mengganguk, "Ya. Hati-hati jangan ngebut"

Beginilah kehidupannya setelah empat tahun, dirinya harus menjadi seorang kakak dari kedua adik kandungnya yang terpisah dan tidak tau apa-apa. Kalau bisa Shinichiro ingin membelah diri saja, belum lagi jika dirinya dihadapkan oleh pertannyaan salah satu adiknya yang bertanya, kenapa kau jarang dirumah? shinichiro tidak tau harus menjawab apa.

Salahkan ayahnya!

Pemuda itu melangkah keluar setelah pamit, ruangan senyap tanpa adanya suara. Dibeberapa waktu hanya terdengar suara sruputan Mai yang meminum coklat panas.

"Bibi.."

Mai mengerjap pelan lalu terkekeh melihat tingkah Izana yang canggung kepadanya. Lantas ia menaruh cangkirnya lalu mendekat.

"Panggil ibu! Kakucho juga ya! sekarang kita keluarga jadi jangan sungkan!" Mai berucap seraya membawa kedua anak lelaki itu didalam dekapannya.

Siapa yang naruh bawang plis? Mata Kakucho jadi panas, dirinya jadi teringat sosok ibunya dahulu. Sedikit isakan terdengar, Mai semakin mengeratkan dekapannya.

"Terima kasih Ibu.."

Adegan cukup mengharukan, Izana bukannya tidak tersentuh atau bagaimana. Tapi sorot matanya salah fokus pada (Name) yang menatap kearah dirinya dengan rasa iri dengki.

Bocah kulit eksotis itu jadi bertanya-tanya pada dirinya. Tidak lama terlintas didalam pikirannya ide jahil yang sepertinya akan membuat (Name) semakin iri dengki.

Izana menyeringai, wajah sok tengil yang kentara membuat (Name) menaikkan salah satu alisnya kesal.
Ia semakin memprovokasi, mulutnya berbicara tanpa suara, seolah mengatakan—

"Aku mengambil ibu mu! Hahahaha!"

***


Bejirlah ini hbs ku revisi yh ayangqies

𝐖𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐈𝐬 𝐌𝐲 𝐇𝐞𝐫𝐨?-𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑹𝒆𝒗𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒔 ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang