Shinichiro menghentikan langkahnya di depan halaman, alisnya bertaut melihat pemandangan yang ia lihat. Di antara tawa dan suara keras (Name) yang memekakkan telinga ada dua anak lain yang tidak ia kenal.
Mereka bercanda dengan (Name) seolah sudah lama berteman dengan mereka. Shinichiro menyandarkan diri pada pagar kayu, matanya masih penuh tanda tanya.
"Hei." Panggilnya membuat semua kepala menoleh.
"Siapa mereka?"
(Name) buru-buru berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor sebelum mendekat. "Oh, ini Ran dan Rindou! Mereka sekarang tinggal disini!"
Shinichiro menatap dua anak itu sebentar sebelum akhirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Jadi, kalian masuk ke dalam kekacauan rumah ini juga, ya?" Ucap Shinichiro, anak-anak didepannya tidak begitu mengerti jika dirinya menyampaikan sesuatu tersembunyi.
Shinichiro menghela napas pendek, tapi tidak bisa menyembunyikan rasa lelah di matanya. Sepertinya, rumah ini memang semakin ramai.
.
.
.
Mai duduk di atas tatami, menatap perlahan wajah putranya yang kini sudah tumbuh begitu dewasa. Tatapan lembut itu menyimpan banyak hal—rasa bersalah, sekaligus kebenaran.
"Bagaimana kabar Manjiro?" tanyanya dengan suara pelan.
"Dia baik-baik saja, kan?"
Shinichiro yang duduk bersila di depannya mengangguk perlahan. "Ya... dia baik-baik saja," jawabnya sambil menunduk sedikit.
"Baru-baru ini dia mengganti namanya. Sekarang dia ingin dipanggil Mikey."
Mai terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil sambil terkekeh pelan. "Mikey? Astaga... dia ingin jadi orang barat, ya? Anak itu memang suka hal-hal aneh."
Shinichiro ikut tersenyum tipis.
"Ibu tahu Emma, kan?"
"Anak... yah, intinya itu. Dia masih canggung di rumah. Manjiro bilang, kalau dia ganti nama jadi Mikey, mungkin Emma akan merasa lebih dekat. Katanya, biar kelihatannya mereka seperti saudara."
Nada suaranya sedikit bergetar saat menyebut nama—Emma. Ia masih menunggu reaksi ibunya, mengira mungkin ada kemarahan, atau setidaknya gurat kecewa di wajahnya. Tapi tidak. Mai tetap diam, bibirnya justru melengkung lembut dalam senyum samar.
"Hm... mereka pasti lucu sekali," katanya akhirnya, menatap keluar seolah bisa melihat dua anak kecil itu di netra kebiruannya.
"Aku bisa membayangkan, Manjiro dengan banyak tingkahnya, dan Emma yang kikuk mencoba menyesuaikan diri."
Shinichiro menatap ibunya dengan pandangan campur aduk. Ia menahan napas, lalu akhirnya bertanya dengan suara rendah, "Apa Ibu tidak marah?"
"Marah?" Mai menoleh pelan.
"Kepada siapa?"
"Kepada Emma."
Mai menatap putranya lama sekali, hingga suasana ruangan terasa sangat tenang. Lalu ia tersenyum lagi, kali ini dengan mata yang tampak sedikit berkaca.
"Tidak semua yang berkaitan harus disalahkan, Shinichiro," ucapnya lembut.
"Kadang... sesuatu terjadi bukan karena ada yang jahat, tapi karena hidup memang tidak selalu memberi pilihan yang adil."
Shinichiro menunduk, rahangnya menegang. "Tapi—"
"Ibu tahu," potong Mai perlahan.
"Kau ingin melindungi semuanya. Kau ingin memastikan tidak ada yang tersakiti lagi. Tapi kau harus tahu... luka orang dewasa, tidak seharusnya diwariskan ke anak-anak. Emma tidak mengerti, Manjiro pun tidak. Bahkan (Name) masih berusaha memahami dunia ini. Mereka tidak salah, Shin."
Ia menatap anak sulungnya dengan mata yang hangat. "Tugasmu bukan menanggung semuanya sendirian. Tugasmu hanya memastikan mereka tumbuh dengan hati yang tidak keras oleh kebencian."
Mai kemudian mengalihkan pandangan ke arah jendela tempat (Name), Izana, Kakucho dan Haitani bersaudara sedang bermain. Suara tawa kecil mereka mengudara di seluruh penjuru rumah.
"Lihat wajah mereka, Shinichiro…" ucap Mai pelan, senyumnya getir namun lembut.
"Bagaimana kalau nanti, wajah (Name) yang seceria itu justru berubah karena kebencian pada saudaranya sendiri?"
Shinichiro menoleh pelan, mengikuti arah pandangan ibunya. Anak-anak itu berlari kejar-kejaran, tanpa tahu betapa rumitnya dunia orang dewasa yang mengitari mereka. Ia menelan ludah, tidak menjawab.
Mai melanjutkan, suaranya tenang tapi tegas. "Kau tahu, Shin… kebencian itu seperti benih yang tumbuh tanpa kita sadari. Sekali ditanam, ia bisa menelan segalanya—cinta, kasih, bahkan ingatan yang indah. Ibu tidak ingin mereka tumbuh dengan beban yang bukan milik mereka."
Shinichiro hanya bisa menatap punggung ibunya. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang menusuk ke dadanya. Ia tahu, apa pun yang terjadi nanti, ia harus memastikan satu hal, bahwa adik-adiknya tidak saling melukai hanya karena dosa orang tua mereka.
Mai menatap Shinichiro sekali lagi, matanya lembut namun dalam.
"Kau tidak perlu menjadi tameng untuk semuanya, Nak. Cukup jadilah jembatan di antara mereka."
🥀🥀🥀
Waktu semakin berjalan entah sudah betapa lama, kini tawa bocah kematian itu memenuhi udara sore. Haitani bersaudara, Izana, Kakucho, dan (Name) bermain bersama, menikmati kebersamaan. Berbeda dengan Izana yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri, Ran dan Rindou dengan mudah berbaur, seolah mereka memang sudah menjadi bagian dari keluarga sejak lama.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu pagar kayu. (Name) menoleh dan melihat ibu tetangga berdiri di sana, tersenyum ramah sedangkan tangannya membawa sebatang pohon sakura muda.
"(Name) menanam ini di halaman rumahmu sepertinya bagus, jika pohonnya tumbuh mekar bunganya akan cantik sekali" ucapnya lembut.
Mata (Name) berbinar. Dengan penuh semangat, ia menerimanya dan membungkuk kecil sebagai tanda terima kasih. "Terima kasih banyak bibi! Aku akan menanamnya!"
Tanpa ragu, ia berbalik dan memanggil teman-temannya. "Bantu aku! Ran ambilkan sekop!"
Ran segera berlari ke gudang kecil di samping rumah, diikuti oleh Rindou dan Kakucho. Izana, meskipun sedikit malas, akhirnya ikut membantu setelah melihat (Name) sibuk menggali tanah dengan tangan kosong.
Mereka bekerja sama, sesekali bercanda dengan melempar gumpalan tanah yang menempel di tangan mereka.
Ran melempar sedikit tanah ke arah Rindou, membuat adiknya menggerutu sebelum membalas dengan menyiram air dari ember. (Name) tertawa keras melihat mereka, sementara Izana menggeleng, meski tak bisa menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.
Saat mereka hampir selesai, suara langkah kaki mendekat. Shinichiro berdiri di depan mereka, kamera tergantung di lehernya. Ia berhenti sebentar, menatap pemandangan di hadapannya—anak-anak yang tertawa.
Senyumnya muncul perlahan. Dalam hati, kata-kata ibunya kembali terngiang Tugasmu hanya memastikan mereka tumbuh dengan hati yang tidak keras oleh kebencian
Dan saat ia mengangkat kameranya untuk mengambil gambar, Shinichiro tahu—mungkin untuk pertama kalinya bahwa ibunya benar.
Anak-anak itu terlalu polos, terlalu murni… untuk ditanamkan benih-benih kebencian apa pun.
Sebuah klik terdengar, menangkap tawa mereka yang lepas, tangan mereka yang kotor oleh tanah.
Begitu batang pohon sakura tertanam sempurna, angin sore berhembus lembut. Dari antara ranting-rantingnya yang masih muda, seekor kupu-kupu kuning hinggap di salah satu daunnya, seakan memberi restu.
Bagai angin lembut sebelum badai.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐈𝐬 𝐌𝐲 𝐇𝐞𝐫𝐨?-𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑹𝒆𝒗𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒔 ✅
FanfictionPerlahan tenggelam dalam kehampaan. Satu per satu, orang-orang yang dulu mengelilinginya pergi. Beberapa dengan alasan, beberapa tanpa penjelasan. Dunia yang dulu terasa hangat kini dingin dan sunyi, meninggalkannya sendirian dalam gelap. Awalnya me...
