(Name) pulang ke apartemennya setelah seharian beraktivitas. Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia menjatuhkan tasnya sembarangan lalu menghempaskan tubuh ke sofa, menyalakan game konsol untuk mengusir rasa bosan.
BRAK!
Gadis itu melempar game konsolnya, raut kesal menghiasi wajahnya.
"Menyebalkan! Kalah terus!" Dirinya mendengus, kemudian merebahkan tubuhnya di sofa.
Ia menghadap langit langit ruang tamu apartemennya, begitu gelap karena lampu tidak di nyalakan. Dirinya duduk kembali dengan tangan kanan yang memegang perutnya.
Kruyuk..
"Lapar." Gumamnya, dirinya langsung beranjak dari sofa yang didudukinya dan mengambil hoodie Dengan malas, ia bangkit dan mengambil hoodie yang tergantung di balik pintu.
🧚🧚
Perjalanan menuju minimarket terasa biasa saja. Hanya ada angin malam yang berdesir, suara kendaraan yang sesekali lewat, dan lampu jalan yang menerangi trotoar dengan cahaya kekuningan.
Kini jam sebelas malam, memangnya siapa yang keluar keluyuran jam segini? Lagipula (Name) pun enggan keluar kalau saja perutnya tidak meraung raung.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara gaduh dari seberang jalan. Sekelompok anak muda berseragam geng berkumpul disana. Dari tengah kerumunan itu, terdengar suara perempuan—suara yang asing di telinganya.
"AAA TOLONG!"
"HENTIKAN—KUMOHON!"
(Name) menghela napas, menunduk sebentar, lalu mendongak lagi. Ia bisa saja memilih untuk tidak peduli. Tapi kakinya justru melangkah mendekat.
"Bukan aku ya. Kakiku jalan sendiri."
.
.
Beberapa pasang mata langsung menatapnya saat (Name) mendekat. Ia menyapu pandangan ke sekeliling, lalu bertanya dengan suara datar namun bertekanan.
"Apa yang kalian lakukan?"
Sekelompok anak laki-laki itu terdiam sejenak sebelum tiba-tiba tertawa keras, seolah menganggapnya lelucon. Salah satu dari mereka, yang tampaknya pemimpin, melangkah maju.
Osanai menyeringai. "Kau ingin ikut campur ha? Atau mungkin... kau mau jadi seperti dia?"
Ia menganggukkan dagunya ke arah seorang perempuan yang berada di tengah-tengah mereka. (Name) mengalihkan pandangan dan langsung merasakan sesuatu yang panas naik ke kepalanya.
Perempuan itu terlihat sedikit lebih tua darinya, dengan pakaian compang-camping seolah telah dirobek paksa. Ada darah mengering di sekitar lehernya. Tubuhnya gemetar hebat, matanya seakan meminta pertolongan.
Jari-jari (Name) mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Dasar sampah."
Osanai mengerling. Ia menyeringai. "Apa kau bilang? Mau ikut?"
"AKU BILANG KALIAN ITU SAMPAH."
Rahang para pemuda-pemuda disana mengeras, salah satunya Osanai. Pikirnya, perempuan yang bahkan tidak memiliki senjata ini kenapa bisa begitu berani?
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐈𝐬 𝐌𝐲 𝐇𝐞𝐫𝐨?-𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑹𝒆𝒗𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒔 ✅
أدب الهواةPerlahan tenggelam dalam kehampaan. Satu per satu, orang-orang yang dulu mengelilinginya pergi. Beberapa dengan alasan, beberapa tanpa penjelasan. Dunia yang dulu terasa hangat kini dingin dan sunyi, meninggalkannya sendirian dalam gelap. Awalnya me...
