6

1.6K 192 9
                                        

Suasana di dalam gedung upacara pemakaman begitu sunyi, hanya sesekali terdengar suara isakan tertahan dari beberapa orang yang hadir. Aroma dupa memenuhi ruangan, bercampur dengan kesedihan yang mengudara.

Koushi memasuki ruangan dengan langkah mantap, namun dalam dadanya ada sesuatu yang terasa berat. Mata hitamnya mengamati sekeliling, melihat wajah-wajah yang tidak lagi asing baginya—terutama wajah seorang bocah kecil yang duduk diam di kursi, kepalanya tertunduk, bahunya tampak sedikit gemetar.

(Name).

Gadis itu terlihat begitu kelelahan. Tidak banyak ekspresi yang ia tunjukkan, tapi dari posturnya saja, Koushi tahu bahwa gadis itu sedang memikul kesedihan yang terlalu besar untuk usianya.

Ia melangkah maju, mengikuti antrean untuk memberikan doa terakhir bagi Mai. Saat akhirnya tiba di depan altar, matanya menatap pigura foto Mai yang terpajang di sana. Wanita itu tersenyum lembut dalam fotonya, seakan tidak ada beban yang ia pikul selama hidupnya.

Koushi tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan sosok itu dengan gadis kecil yang duduk di sudut ruangan.

Sangat mirip.

Terlalu mirip.

Ia mengalihkan pandangannya ke samping, di mana Mikey berdiri di dekatnya. Bocah kecil itu tampak begitu penasaran dengan sosok dalam foto, seakan ada sesuatu yang terasa familiar baginya, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Koushi hanya diam, tidak ingin berpikir lebih jauh. Ia kembali ke kursinya, mencoba mengabaikan semua emosi yang perlahan-lahan menghantamnya.

Namun, berbeda dengan ayahnya, Mikey masih sibuk mengamati seluruh ruangan. Ia berusaha menjaga tingkahnya, tidak ingin menarik perhatian lebih dari yang seharusnya. Namun, begitu matanya kembali ke pigura foto di depan sana, ia merasakan sesuatu yang aneh—takjub, bahkan—

"Dia cantik…" gumamnya pelan.

Mikey tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita di dalam foto itu. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik, meskipun ia tidak tahu apa. Namun, saat ayahnya melangkah menjauh, sesuatu yang lain lebih menarik perhatiannya.

Di sudut ruangan, duduk seorang anak perempuan dengan rambut hitam panjang dan mata biru yang redup. Perlahan kepalanya naik ke atas keduanya tidak sengaja bertatapan, Mikey membelalakkan mata. Seperti sengatan listrik, hatinya tiba-tiba sakit begitu melihatnya.

". . . . . ."

"Siapapun kau. Kuatlah menghadapinya.."

.

.

.

Ruangan itu terasa begitu hampa bagi (Name). Meskipun banyak orang yang datang menghampiri, memberi semangat, atau sekadar meremas lembut pundaknya, dia tidak bisa merespons dengan baik. Semua terasa seperti gema yang jauh, tidak benar-benar sampai ke hatinya.

Dadanya terasa kosong. Otaknya memahami bahwa ibunya telah tiada, tetapi hatinya menolak menerima kenyataan itu.

Mungkin karena terlalu lama menunduk, ia akhirnya mengangkat kepalanya, membiarkan netra birunya menyapu ruangan. Saat itulah matanya terhubung dengan seseorang di sudut ruangan.

Anak laki-laki itu menatapnya. Tatapan itu bukan tatapan penasaran seperti yang biasa ia dapatkan dari anak-anak lain, melainkan tatapan penuh kasihan. Seolah-olah anak itu mengerti betapa hancurnya perasaan (Name) saat ini.

Jantungnya berdetak pelan, lalu dengan cepat ia menundukkan kepalanya lagi, merasa malu karena tertangkap basah sedang saling menatap. Namun, rasa malu itu tidak bisa mengalahkan kehampaan yang semakin menggerogoti hatinya.

𝐖𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐈𝐬 𝐌𝐲 𝐇𝐞𝐫𝐨?-𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑹𝒆𝒗𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒔 ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang