Perlahan tenggelam dalam kehampaan. Satu per satu, orang-orang yang dulu mengelilinginya pergi. Beberapa dengan alasan, beberapa tanpa penjelasan. Dunia yang dulu terasa hangat kini dingin dan sunyi, meninggalkannya sendirian dalam gelap.
Awalnya me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
.
"Darimana saja izana? Tumben sekali kau agak terlambat" Muchou angkat suara, semua petinggi tenjiku duduk melingkar disebuah meja sembari menunggu izana sedari tadi.
Izana terkekeh sembari berjalan ketempat duduknya. "Maaf aku sedang mengurus sesuatu tadi" Izana melihat siluet kakucho yang sudah duduk disampingnya. Entah kenapa moodnya cukup bagus. Membuanya ingin terus melengkungkan senyummannya yang terpatri.
Semua yang menghalanginya kini sudah hilang, Izana bebas melakukan apapun, tujuannya akan tercapai. "Mikey sudah pasti berada di titik terendahnya"
"Adiknya sudah mati..."
Semua terdiam, tidak ada yang membalas perkataan Izana. Seperkian menit ruangan senyap, hingga suara kekehan Kisaki terdengar.
"Sekarang akan mudah untuk mengalahkan Mikey" Kisaki tersenyum setan. Jika Izana merasa rencananya berhasil, apalagi Kisaki? Kini tidak akan ada yang menghalanginya
"Kakucho"
Izana memanggil Kakucho yang menjadi pendiam sejak beberapa hari yang lalu. Bibir ranumnya terulas senyuman. "Maafkan aku ya? Aku tak sengaja membunuh nya"
"Maksudnya?"
Tanda tanya muncul di kepala Kakucho, ia memiringkan kepalanya menandakan tidak mengerti perkataan Izana. Seperkian detik pupilnya mengecil, kemudian akhirnya mengerti maksud dari perkataan Izana. Kakucho menggigit bibir bawahnya, serta mengepalkan tangannya begitu kuat. Pikirannya seketika kalut akan (Name).
"Ada apa?" Tanya shion, akhir akhir ini Izana dan Kakucho begitu aneh mereka seperti menyembunyikan sesuatu dari mereka semua.
Izana menggeleng. Kakucho merasakan urat uratnya menonjol di pelipisnya, melihat Izana yang masih bisa tersenyum tanpa rasa bersalah entah kenapa membuat emosinya berada diujung tanduk.
"Kenapa...?"
Izana mengernyitkan dahinya. Apa karena (Name) Kakucho mulai berani mempertanyakan keputusannya?
"Selain Sano Emma apa ada lagi yang mati?" Tanya kisaki, ia ingin tau apa yang Izana dan Kakucho bicarakan. Namun pertanyaannya sama sekali tidak digubris oleh orang bersangkutan.
BRAK!
Izana menggebrak meja lalu mendecih. "Kau sudah mulai berani ya Kakucho..?!" Ia menyugar rambutnya lalu tertawa remeh. "Sepertinya pilihanku bagus membunuhnya. Kau sudah terjun terlalu dalam Kakucho, sudah kubilang lupakan dia, sepertinya kau terlalu terjebak di masa lalu ya?"
Sanzu yang kebetulan duduk disebelah Kakucho sangat tau jika kakucho sangat kesal. Ia melirik kearah telapak tangan kakucho yang merembes darah akibat terlalu dikepalkan. Kebetulan sekali, Kakucho ini orang yang bagus dalam mengatur emosinya sendiri. Jadi ia hanya diam, tidak baik jika dia membantah perkataaan Izana lagi.