(Name) terbangun dengan kepala terasa berat. Pandangannya sedikit buram saat cahaya putih dari jendela bangsal rumah sakit menusuk matanya. Suara alat medis berdenging pelan di telinganya, bersamaan dengan aroma antiseptik yang menusuk hidung.
Perlahan, ia menggerakkan tangannya, merasakan perban yang melilit kepalanya dan punggung telapak tangannya. Detik berikutnya, ia menyadari ada seseorang duduk di kursi di dekat ranjangnya.
Seorang pria asing.
(Name) menatapnya dalam diam. Pria itu juga tidak bicara, hanya menatap balik dengan mata yang sulit terbaca. Ia tidak mengenal pria itu, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatnya tidak nyaman.
Sebelum ia sempat berkata apa-apa, pria itu bangkit dan berjalan keluar.
Tidak lama setelahnya, dokter dan seorang perawat masuk. Wajahnya penuh rasa khawatir.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya dokter itu dengan suara lembut.
(Name) hanya menatap kosong. Mulutnya terasa kering, dan kata-kata seperti tersangkut di tenggorokannya. Akhirnya, ia hanya mengangguk kecil.
Dokter menatapnya sejenak sebelum melanjutkan pemeriksaan. Ia menjalani perawatan di rumah sakit selama seminggu, tidak hanya untuk fisiknya tetapi juga mentalnya.
Namun, setiap kali ditanya bagaimana perasaannya, (Name) hanya menjawab, "Aku baik-baik saja."
Ia ingin cepat pulang. Tidak tahan berada di tempat ini lebih lama.
Setelah dokter memastikan kondisinya stabil dan hasil tes mentalnya menunjukkan
—tidak ada masalah, akhirnya ia diizinkan pulang.
Perawat mengantarnya sampai ke depan rumah. Begitu memasuki pekarangan, ia menatap bangunan yang selama ini menjadi tempatnya berlindung. Namun, sekarang rumah itu terasa begitu kosong. Sunyi.
Langkahnya berat saat membuka pintu. Udara dingin menyambutnya. Tidak ada suara tawa, tidak ada panggilan hangat dari siapa pun.
(Name) menarik napas dalam, lalu melepas sepatu dan melangkah masuk. Rumah itu kotor. Debu menumpuk di meja, lantai terasa lengket, dan sisa makanan yang sudah membusuk masih ada di dapur.
Tanpa berpikir panjang, ia mulai membersihkan semuanya. Membuang sampah, mengepel lantai, dan menyapu debu yang menutupi foto-foto lama di rak. Hingga akhirnya, saat sedang membersihkan meja di ruang tamu, ia menemukan sesuatu.
Secarik kertas.
Dengan tangan gemetar, ia mengambilnya. Matanya membaca setiap kata yang tertulis di sana.
"Jika kau benar-benar menyayangi Shinichiro, berkunjunglah ke makamnya."
Dada (Name) terasa seperti dihantam sesuatu. Jemarinya mencengkeram kertas itu erat. Ia menatap alamat yang tertera di bawahnya.
Hatinya sakit.
Sangat sakit.
Namun, tanpa sadar, tubuhnya sudah bergerak sendiri. Mengambil jaketnya, membuka pintu, dan melangkah keluar.
.
.
.
(Name) melangkah perlahan menuju alamat yang tertera di kertas. Hatinya terasa semakin berat seiring langkahnya semakin dekat. Jalanan menuju pemakaman begitu sepi, hanya ada suara angin yang berdesir pelan.
Begitu sampai, matanya langsung tertuju pada satu makam. Batu nisannya bersih, masih baru. Tulisan di atasnya jelas terbaca.
Sano Shinichiro
(Name) terhuyung. Lututnya melemas, dan sebelum bisa berpikir, tubuhnya sudah merosot jatuh di depan makam itu. Tangannya gemetar saat menyentuh batu nisan dingin di hadapannya. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐈𝐬 𝐌𝐲 𝐇𝐞𝐫𝐨?-𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑹𝒆𝒗𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒔 ✅
ФанфикшнPerlahan tenggelam dalam kehampaan. Satu per satu, orang-orang yang dulu mengelilinginya pergi. Beberapa dengan alasan, beberapa tanpa penjelasan. Dunia yang dulu terasa hangat kini dingin dan sunyi, meninggalkannya sendirian dalam gelap. Awalnya me...
