Hari hari berlalu seperti biasa, bagi orang yang yang tidak memedulikan dan memperhatikan. Dunia memiliki manusia yang sentiasa mengetahui perbedaan hari hari sebelumnya, hari apa yang sangat cerah, lalu hari apa yang begitu berharga, hari apa yang begitu menyebalkan serta lain lain.
Mereka pasti merasakannya.
Rasa kesepian yang kian hari terus menghantui tiada henti... Sebenarnya kapan ini berakhir?
.
.
Setelah seminggu berlalu sejak kepergian Haitani bersaudara, rumah terasa lebih sepi bagi (Name). Meskipun masih ada Izana, Kakucho, dan Shinichiro, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran Ran dan Rindou.
Hari ini, kesepian terasa semakin nyata. Izana dan Kakucho pergi entah ke mana, bahkan Shinichiro pun tidak terlihat batang hidungnya. (Name) hanya bisa duduk di teras, memeluk lututnya sambil menatap langit biru yang cerah. Angin sepoi-sepoi berhembus, namun tetap tak bisa menghilangkan rasa bosannya.
Dari dalam rumah, Mai memperhatikan putrinya yang melamun. Dengan langkah pelan, ia mendekat lalu duduk di sampingnya. "Kenapa cemberut begitu, hm?" tanyanya lembut.
(Name) menoleh dan menghela napas. "Aku bosan.. Izana dan Kakucho pergi, Shinichiro-nii juga entah di mana. Aku bosan sendirian.."
Mai tersenyum tipis, mengusap kepala (Name) dengan lembut. "Kau masih memikirkan Ran dan Rindou, ya?"
(Name) mengangguk pelan. "Aku rindu mereka,"
Mai terkekeh, lalu menepuk tangan (Name). "Kalau begitu, bagaimana kalau kau ikut Ibu ke rumah sakit hari ini?"
(Name) menoleh dengan cepat, matanya berbinar.
"Boleh?!" tanyanya antusias.
Mai mengangguk. "Tentu saja. Lagipula, Ibu harus periksa hari ini. Kalau kau ikut, setidaknya tidak akan bosan, kan?"
Tanpa ragu, (Name) langsung bangkit berdiri. "Aku ikut! Aku ikut!"
Mai hanya tersenyum melihat begitu antusiasnya putrinya, meskipun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang ia sembunyikan.
🍂🍂🍂
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, Mai dan (Name) akhirnya tiba di rumah sakit. Seperti biasa, Mai langsung menuju meja pendaftaran untuk mengambil nomor antrean, sementara (Name) duduk manis di sampingnya, memperhatikan sekeliling dengan rasa penasaran.
Saat giliran Mai tiba, mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Dokter yang sudah mengenal Mai dengan baik tersenyum begitu melihat mereka. Namun, begitu pandangannya jatuh pada (Name), ia sedikit terkejut sebelum akhirnya menyeletuk, "Wah, ini putrimu, Mai-san?"
"Imut sekali..!"
Mai mengangguk, tersenyum lembut. "Iya. Hari ini dia ikut menemani."
Dokter hanya tersenyum tipis, lalu melirik perawat yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan mendekati (Name), berjongkok agar setara dengan anak kecil itu.
"Bagaimana kalau selama pemeriksaan ibumu, kau ikut kakak perawat ini jalan-jalan sebentar?" katanya dengan suara lembut.
(Name) menoleh pada ibunya, meminta persetujuan. Mai mengusap kepala putrinya pelan, "Tidak lama, kok. Ibu hanya perlu diperiksa sebentar."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐡𝐞𝐫𝐞 𝐈𝐬 𝐌𝐲 𝐇𝐞𝐫𝐨?-𝑻𝒐𝒌𝒚𝒐 𝑹𝒆𝒗𝒆𝒏𝒈𝒆𝒓𝒔 ✅
أدب الهواةPerlahan tenggelam dalam kehampaan. Satu per satu, orang-orang yang dulu mengelilinginya pergi. Beberapa dengan alasan, beberapa tanpa penjelasan. Dunia yang dulu terasa hangat kini dingin dan sunyi, meninggalkannya sendirian dalam gelap. Awalnya me...
