Gea langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur Vita.
"Gimana?" tanya gadis itu dengan raut wajah penasaran.
"Nggak diizinin sama papa," sahut Vita pasrah.
"Whattt!" pekik Rosa dengan suara menggelegar. Lalu menutup mulutnya dengan tangan karena sadar sedang ada dimana ia sekarang. Bisa jadi papa Vita mendengar perkataannya.
"Kok bisa sih?" tanya Rosa dengan suara lirih dan tampak keheranan. Gadis itu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan merapat ke arah Vita.
"Enggak tahu," sahut Vita yang tampak sangat lemas.
"Gila! Bokap lo overprotektif banget," ujar Gea sambil geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Makanya aku minta kalian nginep di sini," ujar Vita.
Gea dan Rosa kompak mengerutkan dahinya. Tak mengerti apa yang sedang Vita katakan.
"Maksudnya gimana?" tanya Gea penasaran.
"Aku rasa papaku ngalami trauma dimasalalu, makanya dia ngelarang aku pacaran sampe segitunya," ujar Vita.
"Bisa jadi itu," sahut Rosa.
"Masuk akal," imbuh Gea sambil menjentikkan jarinya.
"Apalagi papa lo keliatan masih muda," ujar Rosa.
"Ngomong-ngomong usia bokap lo berapa?" tanya Gea tiba-tiba.
Vita tampak berpikir sejenak.
"Tiga puluh delapan tahun," sahut Vita.
"Buset! Gue kira wajahnya awet muda, ternyata usianya memang masih muda," ujar Gea tampak tak percaya.
"Yang bener lo?" tanya Rosa memastikan lagi.
"Iya tiga puluh delapan tahun, aku pernah liat ktpnya," sahut Vita mencoba meyakinkan kedua sahabatnya.
"Wah gila! Bokap lo masih enam belas tahun waktu lo lahir," ujar Rosa heboh.
"Kayaknya bokap lo ngehamilin mama lo waktu masih muda," ujar Gea dengan suara lirih.
"Jadi maksud kamu aku anak diluar nikah gitu?" tanya Vita tampak sedih.
"Bukan gitu maksudnya," sahut Gea sambil menggaruk kepalanya dan merasa tak enak hati atas perkataannya barusan.
Beberapa detik kemudian, ekpresi Vita berubah drastis.
"Santai aja keles, aku nggak pa-pa kok," ujar Vita yang benar-benar terlihat sangat santai.
"Sorry ya," ujar Gea tampak sangat menyesal.
"Iya Gea," sahut Vita sambil memeluk sahabatnya itu untuk mengurangi rasa bersalah Gea kepadanya.
"Elo ada album foto nggak?" tanya Rosa tiba-tiba.
"Aku pernah liat album foto di kamar almarhumah oma, buat apaan sih?"
"Buat nyelidiki sesuatu," sahut Rosa.
"Aku ambilin kalo gitu," sahut Vita.
Gadis itu beranjak dari atas ranjang lalu keluar kamar. Hanya membutuhkan beberapa menit akhirnya Vita sampai di depan kamar almarhumah oma.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Raka tiba-tiba hingga membuat Vita yang hendak memegang gagang pintu melonjak kaget.
"Aku mau ambil album foto di kamar oma," sahut Vita sambil menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah papanya yang selalu datar dan dingin itu.
"Ambil lalu cepat keluar," ujar Raka dengan nada datar.
"Iya pa," sahut Vita.
"Tunggu sebentar," ujar Raka hingga membuat Vita kembali mengurungkan niatnya membuka pintu.
Raka mengamati baju yang dikenakan Vita saat ini.
"Kamu jangan pernah berpakaian seperti itu saat di luar rumah," ujar Raka.
Akhirnya Vita melihat kembali pakaiannya, ia menggunakan kaos polos dengan ukuran besar dan memakai celana super pendek, hingga terlihat seperti tidak memakai celana sama sekali.
"Iya pa," sahut Vita singkat.
"Dan satu lagi," ujar Raka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan pernah, posting foto di medsos dengan baju seperti itu," ujar Raka.
"Iya pa," sahut Vita lagi.
Setelah memberikan larangan akhirnya Raka pergi meninggalkan Vita. Sontak Vita menggerutu kesal. Sejak kapan ia suka posting foto di media sosial memakai baju seperti ini, posting foto saja jarang. Apalagi keluar rumah memakai baju seperti ini, yang ada pria-pria hidung belang di luar sana mendapat rezeki nomplok.
Tak membutuhkan waktu lama, Vita masuk ke dalam kamarnya sambil membawa album foto yang disimpan di kamar oma.
Gea dan Rosa berebutan ingin melihat ibu kandung Vita atau foto pernikahan antara Raka dan ibu kandung Vita.
Keduanya heboh membuka lembar demi lembar halaman. Namun dialbum foto yang dibawa mereka hanya berisi foto Vita dari bayi sampai beranjak dewasa.
"Kenapa isinya foto elo semua," protes Gea.
"Bukan album yang itu, tapi album yang ada ditanganku," sahut Vita cengengesan.
"Lah ngapain elo bawa album yang isinya foto elo semua?" tanya Rosa.
"He.. he.. siapa tahu kalian pengen liat fotoku waktu masih kecil," sahut Vita masih cengengesan.
"Nggak ada kerjaan banget gue ngliatin muka lo waktu kecil," ujar Gea sambil menoyor kepala Vita.
"Siapa tahu kalian penasaran," sahut Vita.
"Ini nyokap lo Vit?" tanya Rosa tampak takjub melihat foto seorang wanita yang tengah hamil besar berdiri di tengah-tengah antara wanita paruh baya dan juga Raka waktu masih muda.
"Iya," sahut Vita.
"Ya ampun cantik banget, wajahnya persis banget sama elo," ujar Rosa tampak terpukau. Ini pertama kalinya Gea dan Rosa melihat wajah ibu kandung Vita, karena biasanya mereka tidak pernah membahas ibu kandung Vita lantaran takut gadis itu sedih mengingat Vita tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Vita terlahir ke dunia dengan selamat, namun semua itu harus dibayar dengan sangat mahal. Karena nyawa ibunya lah yang harus menjadi penggantinya.
Sementara mereka juga jarang bertemu dengan Raka lantaran pria itu selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan terkesan menghindar. Terakhir kali mereka bertemu Raka saat Raka datang ke SMA untuk mengambil rapot Vita, itupun sudah sangat lama. Sementara saat menjemput Vita, Raka selalu datang terakhir. Sedangkan mereka sudah dijemput oleh sopir masing-masing. Alhasil Gea dan Rosa tidak pernah lagi bertemu dengan Raka.
Bahkan saat ini saja mereka tidak bertemu dengan Raka, padahal saat ini mereka berada di dalam rumah yang sama. Tak heran kalau Vita jarang berkomunikasi dan bertemu dengan papanya. Bagaimana mereka bisa akrab sebagai anak dan papa kalau bertemu saja jarang.
"Bokap lo masih tetep ganteng ya Vit," ujar Gea.
"Kenapa lo? Naksir bokapnya Vita?" tanya Rosa.
"Ya nggak juga, ganteng sih ganteng, tapi kalo sikapnya dingin kayak gunung es, mana kuat gue. Gue aja heran sama Vita, kok elo betah jadi anaknya bokap lo?"
Plak!
Rosa langsung memukul punggung Gea saking kesalnya.
"Aduh!" pekik Gea kencang. Vita justru tertawa senang melihat kedua sahabatnya bertengkar seperti itu.
"Mulut tuh dijaga, jangan asal ngerocos," ujar Rosa.
"Ampun gusti ratu," sahut Gea sambil menempelkan kedua telapak tangannya lalu menundukkan kepalanya. Meniru adegan kolosal yang ada di televisi.
"Saya ampuni kesalahan rakyat jelata sepertimu," sahut Rosa dengan ekpresi angkuh.
"Ebuset! Gue dikatain rakyat jelata, awas lo ya!" ujar Gea tak terima. Gadis itu menggulung lengan piyamanya dan bersiap-siap memukul Rosa.
"Udah-udah, jangan bertengkar. Kalian mau liat nggak?"
Vita menghentikan keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Future Wife
RomansaVita harus hidup dibawah aturan papanya. Tidak boleh pacaran, bahkan tidak boleh berdekatan dengan seorang pria. Sampai-sampai gadis itu tidak pernah merasakan indahnya pacaran seperti teman-temannya. Hingga suatu hari tepat sebulan sebelum wisuda...
