Saat Susan berjalan tiba-tiba ia tersandung, refleks tangan wanita itu menarik dasi yang Raka pakai hingga pria itu ikut terjatuh menindih tubuhnya.
Ceklek!
"Pa!"
Vita membeku setelah membuka pintu ruangan Raka. Gadis itu melihat Susan tidur terlentang di atas sofa dan papanya mengungkung tubuh Susan dengan jarak yang sangat dekat.
Raka dan Susan menolehkan kepalanya ke arah Vita yang tampak syok.
"Vita!" panggil Raka dengan pupil mata melebar.
"Maaf ganggu, aku cuma mau nganterin flashdisk papa yang ketinggalan di rumah."
Buru-buru Vita meletakkan flashdisk yang dipegangnya ke atas meja. Lalu gadis itu berjalan cepat keluar ruangan papanya dengan detak jantung yang entah kenapa terasa nyeri.
"Aku kenapa?" tanya Vita pada dirinya sendiri. Gadis itu memukul-mukul dada kirinya dengan pelan. Berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang terasa nyeri.
Melihat Vita keluar ruangannya dengan terburu-buru, akhirnya Raka bangun lalu berlari mengejar Vita dengan hati kalut.
"Yah udahan," desah Susan yang masih ingin lebih lama di dalam kungkungan pria itu.
"Vita!" panggil Raka seraya mengejar Vita yang berjalan di depannya.
Mendengar panggilan dari Raka, Vita justru melangkahkan kakinya dengan cepat dan menulikan pendengarannya.
"Vita tunggu! Papa bisa jelasin!"
"Vita!" Raka mencekal tangan Vita sebelum gadis itu masuk ke dalam lift. Menghentak tangannya hingga tubuh Vita berbalik ke arahnya dengan sempurna.
"Papa bisa jelasin, yang tadi itu cuma salah paham aja," ujar Raka tampak panik.
"Ayo ke ruangan papa dulu," ujar Raka lalu pria itu menarik tangan Vita kembali ke ruangannya.
Vita duduk berdampingan dengan Raka, sedari tadi pria itu tampak enggan melepaskan genggaman tangannya di tangan gadis itu.
"Papa sama Susan nggak ada hubungan apa-apa."
"Yang tadi itu nggak sengaja, Susan jatuh terus dia nggak sengaja tarik dasi papa," ujar Raka berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Vita menundukkan kepalanya.
"Vita, kamu jangan mikir yang aneh-aneh, papa nggak bohong, papa berani sumpah," ujar Raka tampak frustrasi.
Vita mendongakkan kepalanya menatap mata papanya. "Kalo papa ada hubungan sama tante Susan, aku nggak pa-pa kok pa, tadi aku cuma kaget aja," ujar Vita lirih.
Senyum Susan terpancar mendengar ucapan gadis itu. Namun tidak dengan Raka, tampak dengan jelas pria itu tidak menyukai perkataan Vita. Terlihat dari raut wajahnya yang tiba-tiba saja menjadi dingin.
"Aku setuju kalo papa pacaran sama tante Susan, tapi lebih baik papa sama tante Susan cepet-cepet nikah aja sebelum terjadi emm... sesuatu," ujar Vita tampak ragu.
"Papa nggak ada hubungan apa-apa sama Susan, tadi itu cuma salah paham aja," ujar Raka tampak frustrasi. Bagaimana menjelaskan kepada Vita kalau apa yang dilihat gadis itu bukanlah kejadian yang ia sengaja.
"Susan!"
"Iya pak," sahut wanita itu dengan semangat.
"Cepet kamu jelasin ke Vita kalo yang tadi itu cuma salah paham," perintah Raka yang sudah mengacak-acak rambutnya. Baru kali ini Raka tampak frustrasi, padahal biasanya pria itu tidak pernah sekalipun seperti ini. Raka adalah pria yang dapat bersikap tenang di segala masalah. Meski masalah yang dihadapi Raka sangat berat, tapi tidak sekalipun Raka sampai mengacak-acak rambutnya seperti ini.
Memang pria itu selalu tenang dalam menghadapi segala masalah. Namun anehnya baru kali ini pria itu tampak frustrasi dan terlihat sangat khawatir. Entah apa yang pria itu khawatirkan.
Susan menjelaskan kejadian yang tadi terjadi kepada Vita sesuai perintah Raka. Walaupun begitu, hati Susan tengah bergembira. Wanita itu yakin sebentar lagi Raka akan menikahinya karena permintaan Vita.
"Aku udah paham," ujar Vita hingga membuat Raka tersenyum lega.
"Akhirnya kamu paham juga," ujar Raka.
Vita menggenggam kedua tangan Raka, hingga pria itu terkejut. Namun, lambat-laun senyum pria itu mengembang.
Vita memberanikan diri menatap mata Raka.
"Tapi aku berharap papa mulai mencari pendamping hidup, supaya papa ada yang ngurusin," ujar Vita dengan lembut.
"Dan aku rasa tante Susan wanita yang pantes buat dampingi papa," lanjut gadis itu.
Mendengar hal itu Susan tampak bersorak gembira dalam hati.
"Memang the best calon anakku," batin Susan kegirangan.
Wajah Raka mengeras. Tatapannya tajam dan pria itu mengambil alih genggaman tangan Vita. Menggenggamnya dengan erat.
"Kamu tenang aja, papa udah ketemu sama calon pendamping hidup papa, lagi pula kamu juga kenal siapa dia," ujar Raka tanpa keraguan.
Susan semakin kegirangan karena menurut perkataan Raka barusan, ciri-ciri calon pendamping hidup Raka mengarah kepada dirinya. Ia tidak kepedean, memang hanya dirinya yang sedang dekat dengan Raka selama ini. Dan hanya dirinya yang pernah dikenalkan oleh Raka kepada Vita. Jadi tidak ada kandidat lain selain dirinya. Karena itulah Susan mengulum senyum saking gembiranya.
Bukannya lega papanya sudah mendapatkan calon pendamping hidup, yang ada Vita justru merasa kecewa. Dan entah alasan apa yang mendasarinya.
***
Vita tidak bisa tidur pada malam harinya. Ia terus memikirkan perkataan papanya, kalau papanya sudah mempunyai calon pendamping hidup yang akan menggantikan posisi mamanya yang sudah meninggal.
Harusnya Vita senang, karena sebentar lagi papanya akan lebih mengurusi istri barunya dan membuatnya terbebas dari segala aturan papanya yang menyebalkan.
Tapi anehnya kini justru perasaannya menjadi tidak karuan.
Entah kenapa Vita merasa kalau setelah papanya menikah lagi, maka ia akan dibuang begitu saja. Dan papanya akan bahagia dengan istri barunya, lalu mereka mempunyai anak yang lucu. Dan pada akhirnya ia akan dilupakan oleh papanya dengan begitu mudahnya.
Mungkin saat itu, papanya tidak lagi melarangnya melakukan ini dan itu. Atau lebih parahnya ia akan hidup seperti sebatang kara yang tidak memiliki seorang ayah.
Apakah ia cemburu?
Vita menggelengkan kepalanya dengan kencang.
"Nggak! Aku nggak cemburu," elak gadis itu cepat.
"Nggak mungkinlah aku cemburu sama istri papa, aku kan udah dewasa. Kalo pun aku dibuang, aku sanggup kok hidup sendiri," ujar Vita untuk dirinya sendiri.
"Justru bagus kalo papa nikah lagi, jadi papa nggak akan larang-larang aku buat pacaran, soalnya dia bakal fokus sama istri barunya," ujar Vita dengan semangat. Lebih tepatnya pura-pura semangat.
"Jadi aku bisa deket lagi sama kak Boy," lanjut gadis itu.
"Ngomong-ngomong gimana ya kabar kak Boy sekarang?"
Vita berusaha mengalihkan pikirannya supaya tidak terus memikirkan papa dan calon ibu tirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Future Wife
RomantikVita harus hidup dibawah aturan papanya. Tidak boleh pacaran, bahkan tidak boleh berdekatan dengan seorang pria. Sampai-sampai gadis itu tidak pernah merasakan indahnya pacaran seperti teman-temannya. Hingga suatu hari tepat sebulan sebelum wisuda...
