N - 13
"Lo ngapain di sini?" suara yang direndahkan, mencoba mengintimidasi, seolah lupa suara Taehyung berat darinya.
Harus apa lagi Taehyung jika sudah di posisi tersudut, apakah tak ada tempat lebih luas lagi selain di samping lemari.
Dan Jungkook kenapa sedekat ini, tidak tahu saja Taehyung bisa memutar kepalanya hingga berbelok.
"Lo bisa gak ganggu keluarga gue?"
Alis Taehyung terangkat, namun dia tidak ucapkan apapun.
"Sekali lagi lo keliaran di deket nyokap gue, gue gak akan segan-segan buat hari lo di sekolah gak nyaman."
Taehyung mengernyit, total tak paham dengan kalimat itu.
Keadaannya di sekolah tak pernah lebih nyaman selain dengan Jimin dan Mingyu, harusnya Jungkook tahu dia tidak perlu repot-repot melakukan itu.
Jungkook memundurkan diri, selesai dengan urusannya ia berbalik , berjalan ke sisi jauh dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Bibirnya berdecak puas setelah melihat ekspresi ketakutan Taehyung.
Padahal Taehyung tidak takut, hanya terkejut mendengar kalimat kekanakan itu.
Di belakangnya, Taehyung mengangkat wajah, "Gak semua hal bisa diukur dari pandangan lo aja, Jungkook. Jangan bego." katanya tiba-tiba, berhasil membuat tubuh Jungkook membatu. Nafasnya terhenti satu detik, sebelum helaan nafas lelah terdengar dari Taehyung
"Salah gue apa sih sama lu?"
Pertanyaan itu membuat Jungkook hilang pikiran dalam beberapa detik sebelum menoleh, benar-benar membuat wajahnya kembali menatap Taehyung.
Sudut bibir tipis itu terangkat, lalu berdevih kecil. mengangguk dengan kekehan ringan, seraya membalas ucapannya, "Karena lo terlalu rendah."
Taehyung tercengang, bersamaan Jungkook berbalik kembali untuk pergi.
"Si anj-."
Waktu berlalu begitu saja, saat ini Taehyung berdiri di luar mobil, menghadap jendela di kursi penumpang depat pada sosok anggun yang dia sukai.
"Terima kasih tante atas tumpangannya."
Jiwon tersenyum lebar, disertai Taehyung nmengambil tangannya untuk salim.
Ia lalu mengusap rambut lembut Taehyung beberapa kali, sebelum mengangguk, "Gak papa dianter sampe sini aja? Itu jalannya gelap banget."
Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat 15 menit, setengah jam lalu adalah waktu terlarut untuk menghidupkan lampu jalan.
Orang-orang sini memiliki kebiasaan tak pernah pulang lebih lambat dari pukul 12. Dan Taehyung akan selalu mendapati dirinya pulang lebih larut. Suasana gelap, tanpa lampu adalah hal biasa di sela pulang kerjanya dan sudah dipastikan keesokan harinya Taehyung tidak akan pernah pulang selarut ini.
Jika lupa, dia sudah dipecat.
Taehyung tersenyum, "Gak papa tante. Udah biasa kok. kalo gitu, selamat jalan tante, Taehyung masuk dulu."
Segera berbalik pergi, karena Taehyung juga tak nyaman dengan kegelapan. Masuk ke lorong di mana susunan dari beberapa rumah berada, menuju salah satu pintu familier miliknya.
Meninggalkan mobil sedan yang belum bergerak sama sekali hingga sosok Taehyung hilang dibalik tembok.
Jungkook memindahkan tuas persneling ke posisi netral sebelum menyalakan mesin. Menjalankan mobil untuk kembali ke rumah mereka.
➖
"Kalo diliat-liat ganteng juga." pernyataan Yumi di sela cerita Seungyoun mengenai penampilan bandnya di salah satu kafe ternama yang jauh dari sini, menarik perhatian orang-orang di meja itu untuk menoleh padanya.
"Lo ngomongin siapa?" tanya Sania, si ketua kelas kompeten. Dia menyeruput teh manis hangatnya perlahan sebelum serukan pertanyaan.
Yumi menunjuk dagunya, pada satu orang yang sedang duduk dengan jarak 5 kursi meja kantin. Sedang asik dengan ponsel, sesekali menyahuti teman akrabnya yang sedang memesan makanan di dapur kantin.
Semua orang di meja Yumi menatap ke arah yang ditunjuk, seketika itu juga kernyitan sama berakhir di wajah mereka.
"Taehyung? Kang Taehyung." Soya tersedak sebelum dia mengelap bibirnya dengan punggung tangan, mata melotot pada Yumi yang mengangguk acuh, "Dih jijik banget ama kemiskinan."
"Kenapa lo tiba-tiba begitu." Yunho, bertanya dengan tatapan jengkel membuat Yumi tersenyum tipis.
"Kelintas aja di otak gue. Lagi pula emang tu anak cakep kok, wajar aja bang Seokjin teater ngebet banget ke dia." Yumi mengehendikan bahunya. Lalu menoleh pada satu orang lainnya yang sejak cerita Seungyoun dimulai, dia tidak ucapkan sepatah katapun.
"Menurut lo sendiri gimana Kook? Banyak hal menarik kan yang bisa diambil dari Kang Taehyung."
Jungkook melirik pada Yumi yang tersenyum, berita mengenai keributan kecil antara Jimin dan Jungkook sudah sampai ke seantero sekolah. Semua orang tahu bahwa alasan keributan itu dimulai dari Jungkook dan Taehyung.
"Gak semua hal bisa diukur dari pandangan lo aja, Jungkook. Jangan b*go."
Jungkook menggeleng cepat, mencoba mengenyahkan kalimat itu semalam.
"Apa sih ah. Gak usah bahas dia, benci banget gue." ketus Soya, berdecak kesal yang kemudian kepalanya diusap pelan oleh Seungyoun. Mereka pacaran ngomong-ngomong.
"Gue gak tau tujuan lo apa, Yumi. Tapi sekali bermasalah, Taehyung tetep bermasalah. Tu anak buruk, dari latar belakang sampai masa depannya. Jangan biarin lo sendiri kena imbas karena nyoba untuk lebih peduli." ujar Seungyoun. Membuat Yumi menekuk dahinya, "Maksudnya?"
Seungyoun menghela nafas, "Di tempat gue nge band kemaren, itu tempat kerja Taehyung. Dan dia dipecat karena ngelanggar aturan pekerjaan sejak hari pertama." Seungyun melahap mie kejunya, mengelap mulut, mengunyah dengan cepat, lalu kembali berbicara, "Gila gak tuh."
Mata Yumi menyipit, seolah mendapat hal lain dari cerita Seungyoun baru saja, "Lo tau tentang pemecatan pegawai di hari pertama lo nge band?"
Seungyoun terdiam, meneguk ludah lalu menoleh pada Soya. Sedang gadis itu ikut bingung, menoleh pada Yumi dan Seungyoun bergantian.
Sedangkan di samping Jungkook, Yunho, yang mengetahui hal itu lebih baik dibanding Soya, "Sekalipun karena gue yang aduin ke bos kafe itu, Taehyung tetep bakal dipecat karena ngelanggar, kan."
Mata Yumi melebar, "Gak waras. Lo ikut campur urusan orang."
"Lo kenapa jadi sok care begini si Yum. Mau apa lo?" intonasi suara yang bersar, berhasil menarik perhatian siswa lain yang berada di kantin. Termasuk Taehyung dan Jimin yang baru saja meletakkan dua pesanan mereka, menatap bingung pada meja itu.
Wajah Yunho memerah, menatap tajam Yumi yang tak lepas menatapnya juga.
Jungkook yang jelas berada ditengah mereka, memutar bola matanya, merasa jengah dengan situasi ini, "Stop di sini."
Kemudian dia beranjak, menarik Yunho untuk ikut.
Mengerti maksud Jungkook, pemuda itu ikut berdiri, berjalan mendahului Jungkook yang berhenti untuk menoleh pada Taehyung yang menatapnya bingung.
Jungkook berdecak sebelum pergi, membuat Jimin yang menyadari arah pandang Jungkook harus bertanya pada Taehyung, "Apasih? gangguin lo."
Taehyung bergeming sejenak, sebelum membalas, "Gak tau, gak gangguin gue juga."
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Nethink [END]
Novela JuvenilTaehyung, siswa SMA Mawar yang selalu dibicarakan setiap harinya mengenai latar belakang, perilaku, sikap dan sifat buruknya. Teman karib, Jimin yang setia selalu ada di sisinya walau pertengkaran tak pernah selesai. Jungkook, siswa pindahan yang m...
![Nethink [END]](https://img.wattpad.com/cover/287703437-64-k653774.jpg)