Malam ini, langit tampak muram. Lampu-lampu taman redup, seperti merestui pertemuan yang penuh dengan ketidakpastian.
Efan duduk di salah satu bangku taman, dengan perasaan bercampur aduk. Pikirannya melayang pada percakapan terakhirnya dengan Qila. Ia ingat dengan jelas bagaimana nada suara istrinya terdengar tegas, nyaris tanpa ragu.
"Jangan kamu berpikir sekali pun untuk mempoligamiku, Kak. Aku nggak akan menerima itu semua. Lepaskan aku. Dan berbahagialah bersamanya."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak. Apakah ini benar-benar akhir? Apakah ia akan kehilangan Qila selamanya?
Efan mengusap wajahnya, mencoba mengendalikan perasaannya. Ia tak bisa membiarkan semua ini berakhir begitu saja.
Tiba-tiba, suara langkah kaki menggema di antara sunyinya taman. Efan mengangkat kepalanya, dan di sanalah Qila berdiri, wajahnya tetap setenang biasanya.
"Aku nggak akan bertele-tele, Kak," ucap Qila tanpa basa-basi. "Aku udah mutusin buat pergi. Aku udah urus surat cerai, dan aku harap Kakak nggak akan menghalangi aku lagi."
Deg.
Efan merasakan jantungnya mencelos. Jadi, ini benar-benar keputusan akhir Qila? Ia mengira masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
"Jangan," ucapnya, suaranya terdengar lebih serak dari yang ia inginkan.
Qila memejamkan matanya sejenak sebelum menghela napas. "Kak, selama ini aku udah coba bertahan. Aku berusaha menerima semuanya. Tapi aku capek, Kak. Aku nggak bisa terus-terusan jadi orang yang tersakiti."
Efan menatapnya dalam. "Aku tahu," katanya lirih. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku brengsek. Tapi aku sadar, Qil… Aku sadar aku nggak mau kehilangan kamu."
Qila tersenyum miris. "Tapi hatimu masih di Zahra, kan?"
Efan terdiam. Dulu, mungkin iya. Tapi sekarang, setelah melihat bagaimana Qila berkali-kali terluka karenanya, ia sadar bahwa yang ia butuhkan bukan sekadar seseorang dari masa lalu. Yang ia butuhkan adalah seseorang yang selama ini ada, meski ia abaikan.
"Aku akui, aku pernah mencintai Zahra. Tapi dia memilih pergi. Dan sekarang aku sadar… Aku nggak mau kehilangan orang yang masih ada di sisiku."
Qila terdiam. Ia ingin mempercayai kata-kata Efan, tapi luka yang sudah terlalu dalam membuatnya sulit untuk yakin.
Saat Qila hendak membalas, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Dokter Qila, ada kecelakaan di jalan utama! Kami butuh dokter di IGD secepatnya!"
Qila menegang. Dengan cepat, ia mengiyakan panggilan itu. Tanpa sempat berkata apa-apa lagi pada Efan, ia berlari ke arah jalan, mencari taksi.
Namun, sebelum ia sempat menyeberang, Efan meraih tangannya.
"Qila, dengerin aku sebentar aja!"
Qila menoleh, napasnya memburu. "Kak, aku harus ke rumah sakit. Aku nggak punya waktu lagi buat ini."
Efan menggenggam tangannya erat. "Aku akan berubah. Aku janji. Aku akan ngelakuin apa pun buat menebus semuanya."
Qila menatapnya, mencari kebohongan dalam kata-kata itu. Tapi kali ini, Efan terlihat tulus.
Namun, sebelum Qila bisa memberikan jawaban, klakson mobil membuyarkan momen mereka.
Efan menoleh dan matanya melebar.
Sebuah mobil melaju kencang ke arah mereka.
"Qila!"
Tanpa pikir panjang, Efan menarik Qila ke dalam dekapannya.
Bruakkk!
Tubuhnya terhantam, namun ia berhasil membuat Qila tetap aman. Yang terakhir ia dengar sebelum semuanya gelap adalah suara Qila yang menjerit namanya.
Dan di saat itu, ia benar-benar yakin.
Ia mencintai Qila.
Dan ia tak akan melepaskannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentara I Love U
General Fictiontidak selamanya perjodohan itu buruk, apalagi kalau dijodohinnya sama tentara. "Gk mungkin kita akan selamanya seperti ini"Efan "Mungkin suatu saat nanti akan ad keajaiban untuk kita berdua"Qila
