Efan membuka matanya dengan perlahan. Rasa sakit masih menjalari tubuhnya, mengingatkan kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Pandangannya sedikit buram sebelum akhirnya ia melihat sosok yang duduk di samping ranjangnya.
Qila.
Wajahnya lelah, jelas terlihat ia belum banyak tidur. Namun, begitu menyadari Efan terbangun, matanya langsung membulat.
"Kakak sudah sadar?" tanyanya dengan suara pelan, namun ada kelegaan di dalamnya.
Efan mencoba tersenyum meski bibirnya terasa kaku. "Aku masih hidup, kan?"
Qila menghela napas berat, menundukkan kepala sejenak. "Kenapa Kakak nekat?" gumamnya. "Aku nggak mau ada orang yang terluka karena aku."
Efan menatap Qila dalam-dalam, lalu mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Qila dengan lemah.
"Aku lebih baik terluka daripada kehilangan kamu, Qil," katanya lirih.
Qila menatapnya dengan emosi yang sulit dijelaskan. Kata-kata itu begitu kuat, tapi apakah Efan benar-benar yakin?
Sebelum Qila bisa menjawab, pintu ruangan terbuka.
Zahra berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, matanya berkaca-kaca.
"Kak Efan…"
Suasana ruangan berubah seketika.
Efan dan Qila sama-sama menoleh. Mata Zahra langsung tertuju pada tangan Efan yang masih menggenggam jemari Qila.
Ekspresinya berubah. Ada kebingungan, ada kesedihan, tapi lebih dari itu, ada tanda tanya besar di dalam benaknya.
Namun, ia tidak langsung bertanya.
"Kak, aku dengar Kakak kecelakaan, jadi aku langsung ke sini," kata Zahra pelan, berusaha menahan emosinya.
Mendengar itu, Qila buru-buru menarik tangannya dari genggaman Efan. Ia sadar bahwa situasi ini bisa menjadi lebih rumit jika Zahra mulai curiga.
Efan menatap Zahra dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Aku nggak apa-apa," jawabnya akhirnya.
Zahra mengangguk pelan, lalu melirik sekilas ke arah Qila.
"Siapa dia?" tanyanya akhirnya.
Qila merasakan dadanya mencelos.
Efan menatapnya sekilas, seolah meminta izin sebelum menjawab. Namun, ia ragu. Jika ia langsung mengatakan yang sebenarnya, bagaimana reaksi Zahra?
"Aku… perawat di sini," jawab Qila buru-buru sebelum Efan sempat berkata apa-apa.
Zahra tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. "Oh, begitu. Aku kira…" Ia menggantungkan kalimatnya, lalu menggeleng pelan. "Maaf, aku nggak bermaksud aneh-aneh. Aku cuma kaget melihat Kakak tadi menggenggam tangannya."
Efan ingin mengatakan sesuatu, tapi Qila lebih dulu berdiri.
"Maaf, aku harus kembali bekerja," katanya sambil menundukkan kepala sedikit ke arah Zahra.
Efan ingin menahan Qila, tapi ia tahu ini bukan waktu yang tepat.
Zahra menatap punggung Qila yang menghilang di balik pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi ia belum tahu apa.
Efan menghela napas dan menatap Zahra dengan tatapan bersalah.
"Zahra…"
Zahra tersenyum kecil. "Kak, aku nggak akan tanya kenapa Kakak kelihatan begitu dekat dengan dia," katanya pelan. "Aku cuma ingin tahu… Kakak masih mencintaiku, kan?"
Efan terdiam. Pertanyaan itu menusuk tepat di hatinya.
Apa yang harus ia jawab?
Ia menatap Zahra yang masih berdiri di hadapannya, menunggunya memberikan jawaban. Tapi jawaban itu tidak pernah datang.
Untuk pertama kalinya, Efan menyadari bahwa ia tidak bisa lagi berpura-pura.
Dan untuk pertama kalinya, Zahra mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang mungkin akan lebih menyakitkan dari yang ia kira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentara I Love U
Narrativa generaletidak selamanya perjodohan itu buruk, apalagi kalau dijodohinnya sama tentara. "Gk mungkin kita akan selamanya seperti ini"Efan "Mungkin suatu saat nanti akan ad keajaiban untuk kita berdua"Qila
