(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024)
Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil.
Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
[Chasing The Bodyguard sudah sampai chapter 28 di Karya Karsa.]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JIKA aku tak salah mengingat, itu adalah hari yang mendung di penghujung bulan Desember. Di hampir setiap sudut kota, ornamen-ornamen beraksen merah dan putih nampak menghiasi mal-mal dan pusat pertokoan. Lagu-lagu bertema natal terdengar menyelimuti dengan suasana syahdu dan tenang. Anak-anak kecil tersenyum bahagia, bersemangat menantikan kado misterius yang akan mereka dapatkan dari Sinterklas.
Aku baru saja melangkahkan kakiku keluar dari Gaudi petang itu. Menenteng satu stel koleksi terbaru clothing line rintisan Nathalia Napitupulu dan Janet Dana itu sebagai kado natal untuk kekasihku. Malam ini, kami membuat janji untuk christmas dinner di salah satu restoran di Grand Indonesia, sekaligus merayakan hari jadi kami yang keempat.
Romeo Aldian Gantara, laki-laki yang kukenal dari salah satu proyek dengan Versace. Dia adalah salah satu fotografer yang terlibat dalam kampanye stop asian hate yang diadakan fashion brand tersebut. Kami saling tertarik pada pandangan pertama, beberapa kali menyempatkan diri untuk nge-date hingga saling jatuh cinta pada akhirnya. Usiaku enam belas tahun ketika mengenalnya, sementara dia sudah hampir di penghujung tiga puluh.
Mungkin karena aku memiliki daddy issue—aku tidak terlalu dekat dengan Papi sejak kecil jika kalian ingin tahu—kami berdua cocok meski pertautan usia di antara kami cukup signifikan. Dari yang kuingat, Romeo adalah sosok dewasa yang mengayomi. Berseberangan dengan aku yang masih cenderung kekanakan, laki-laki itu lebih sering menjadi penyeimbang ketika kami mulai bertengkar karena hal-hal sepele. Entah kenapa, kedewasaannya selalu berhasil membuatku merasa terjaga. Aku mencintainya terlalu dalam. Dan aku rela memberikan apapun yang kupunya untuk membahagiakannya.
Jarum pendek pada arlojiku sudah menunjuk angka tujuh ketika aku menginjakkan kakiku di lobby Kempinski. Rumah Romeo di Cikarang, makanya aku memintanya untuk menginap di hotel ketimbang harus melakukan perjalanan panjang yang akan membuatnya lelah.
Resepsionis yang dengan baik mengenalku memberitahukan kamar mana yang ditempati Romeo. Merapikan parka dengan bulu beruang yang memeluk tubuhku, aku membawa langkah memasuki lift yang kebetulan sedang terbuka.
Perlu waktu setengah menit untuk sampai di lantai lima belas. Begitu pintu besi di hadapanku kembali membuka, aku mengayunkan pantofelku, gegas melangkah menuju salah satu kamar executive suite di antara koridor yang lantainya dilapisi karpet beludru.
Buku jariku terayun mengetuk pintu bernomor 1508. Perlu waktu hampir lima menit bagiku untuk menunggu sebelum pintu terbuka dan Romeo muncul dari balik pintu yang dibukanya sedikit.
"Ah, hei! Kok nggak ngabarin dulu kalau kamu mau nyamperin ke sini?" Laki-laki itu tersenyum kikuk sebelum menjatuhkan bibirnya ke bibirku singkat. Kedua mataku yang melucuti sosoknya, menemukan tubuh laki-laki itu hanya terbalut handuk berwarna putih yang menutup bagian pinggul ke bawahnya.