[ Full chapter ssmpai tamat bisa dibaca di karyakarsa.com/bgstito ]
.
.
“GUE membantu Kanaya buat memeras lo, bukan karena gue masih merasa berhutang sebagai mantan suaminya,” lanjutnya sementara kurasakan, keringat dingin mulai mengembun di kedua telapak tanganku. “Bukan pula karena gue membutuhkan uang yang akan didapatkan Kanaya dari lo.”
Kulihat Micky kini menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tapi karena dengan begitu, gue bisa membalaskan sakit hati yang selama ini gue rasakan ke lo, Rayn.”
Bersamaan dengan kalimat terakhir Micky yang menyentuh gendang telingaku, aku merasakan dadaku seketika mencelos. Kurasakan, ada balon besar yang tiba-tiba meledak di dalamnya. Membuatku terkesiap karena dentuman keras yang diakibatkannya, juga terkesiap oleh rasa sakit yang terasa dengan serta-merta.
“Sa-Sakit hati?” tanyaku terbata. Sama sekali tak mengira kalau kakak laki-lakiku itu telah menyimpan perasaan yang menyiksa. “Sakit hati macam apa yang lo maksud, Mick?”
Tanpa kata, Micky kemudian membawa tubuhnya untuk jatuh ke atas kursi malas di dekatnya. Dengan pandangan gamang, laki-laki itu menggelengkan kepalanya seraya meloloskan tawa sesak yang terdengar begitu menyakitkan.
“Look at you, Rayn,” cicitnya nelangsa. “Seorang model besar yang namanya terkenal di mana-mana kayak lo bahkan sama sekali nggak paham bagaimana perasaan orang yang sudah begitu lo kecewakan.”
Kurasakan, ada panah tajam yang kini menusuk bahuku. Anak panah imajiner yang dilemparkan oleh kata-kata yang terucap dari mulut kakak laki-lakiku itu.
“Apa lo pikir, selama ini gue nggak menahan beban setiap kali lo hadir dengan masalah-masalah yang harus gue selesaikan?” lanjutnya membakar sebatang rokok dan menyelipkannya di antara telunjuk dan jari tengahnya. “Meskipun gue ini manajer sekaligus kakak lo, apa lo pikir gue bakal menerima begitu saja setiap kali gue harus menanggung kesalahan yang bahkan gue sendiri nggak pernah melakukannya?”
Oke, aku mulai mengerti ke mana arah pembicaraan yang Micky maksudkan. Aku mulai paham bahwa laki-laki itu mulai jengah dengan semua tingkah lakuku yang selalu membuatnya harus memikul kesalahan.
“Ketika kecil, gue selalu berdoa kepada Tuhan supaya gue menjadi satu-satunya anak Mami dan nggak perlu punya seorang adik. Bukan karena gue nggak mau menjadi yang tertua dan mengharuskan gue menjadi contoh yang baik bagi adik-adik gue. Bukan pula karena gue nggak mau direpotkan jika harus membantu adik gue yang kesusahan. Tapi karena dengan gue punya adikpun, nggak pernah ada yang sekalipun mau ngedengerin keluh kesah gue.”
Ada sesak yang terasa di dalam dada. Kata-kata Micky yang barusan, adalah sebuah kejutan yang tak terduga.
“Semenjak lo lahir ke dunia ini, semua orang seolah berpindah haluan ke lo. Ketika gue mulai merasa kesepian dan butuh sosok yang bisa gue harapkan bisa menjadi sandaran, semua orang justru hanya peduli sama lo. Apapun yang gue katakan, Papi sama Mami hanya peduli pada Rayn. Semuanya hanya soal Rayn, Rayn dan Rayn.
“Mereka ngebeliin lo mainan bagus, memakaikan lo pakaian-pakaian yang selama ini gue inginkan, menyekolahkan lo di sekolah yang keren, sampai-sampai mengiakan dengan mudahnya ketika lo memutuskan untuk terjun sebagai seorang model.
“Lo bisa dengan mudahnya mendapatkan apapun yang lo mau. Sementara gue, gue tak ubahnya kapal rusak yang harus mereka sopiri tanpa sedikitpun pernah diberikan pilihan. Mereka memaksa gue masuk sekolah bisnis yang sama sekali nggak gue sukai. Mereka juga meminta gue menjadi penjaga setiap kali lo ikut les piano, padahal jika boleh jujur, gue sangat ingin kabur untuk main basket bersama teman-teman gue.”
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING THE BODYGUARD
Fiksi Umum(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024) Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil. Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
