Prangggg…….!!!!
SUARA benda pecah-belah yang menyentuh lantai terdengar memekakkan telinga. Kepingan-kepingan gelas, piring dan benda lainnya kini berserak tak karuan. Menjadi saksi akan rasa percaya di dalam diriku yang telah hancur berantakan.
Demi apapun aku masih tak percaya bahwa Micky bersekongkol dengan Kanaya untuk menghancurkanku. Ketika selama ini laki-laki itu telah menjadi sosok yang paling kupercaya, rupanya dia justru dengan teganya menusuk punggungku dari belakang. Sungguh, aku sangat kecewa dengan betapa lihainya dia memakai topeng kemunafikan di balik setiap tindakan penuh perhatian yang dia tunjukkan kepadaku.
Damar yang tadinya tidur siang di kamarnya, gegas keluar dan memelukku dari belakang. Tanpa sedikitpun membiarkan aku menghancurkan barang-barang lain untuk meluapkan emosi, pemuda itu sudah lebih dulu mengunci tubuhku hingga terasa sesak. Sesak karena rasa sakit yang kini meninju-ninju di dalam dada. Juga sesak karena aku bahkkan tak mampu menyembunyikan amarahku di hadapannya.
“Lepasin aku, Mar!” pintaku parau di antara tangis yang lagi-lagi keluar tanpa bisa kutahan. “Tolong lepasin aku!”
Namun alih-alih mengiakan, Damar justru menarik tubuhku dan membawanya rebah di atas sofa. Pemuda itu menjatuhkan kepalaku di dadanya, membiarkan tangis yang tadi hanya serupa isakan berubah menjadi derai tangis yang sesenggukan.
“Mas Rayin ini kenapa, tho? Kok tiba-tiba marah sambil mecahin barang-barang? Ada masalah apa?”
Membiarkan pemuda itu mengelus kepalaku dengan sayang, aku melesakkan kepalaku semakin dalam ke dadanya. Entah bagaimana aku harus menjelaskan duduk permasalahku padanya. Yang kutahu pasti, perasaan sakit dan kecewa itu semakin terasa setiap kali kepalaku memutar ulang suara tawa Micky dan Kanaya yang kudengar di rumahnya. Perasaan terluka sekaligus tak percaya bahwa satu-satunya orang yang kupercaya, telah tega menikamku dengan tanpa sedikitpun rasa kasihan.
“Lihat mata saya, Mas.” Karena aku masih tak mengeluarkan sepatahpun jawaban, Damar menyorongkan tangannya untuk menangkup wajahku dan mengangkatnya. Membuat kedua mataku yang bersimbah air mata bertubrukan dengan matanya yang kini menatapku tajam. “Lihat mata saya! Dan Mas bisa ceritain apapun yang ingin Mas sampaikan kepada saya.”
Kurasakan, ada pendar hangat yang coba disampaikan Damar melalui matanya. Melalui ekspresi peduli yang ditampakkannya, aku tahu bahwa pemuda itu tak ingin melihatku begini. Bersimbah air mata dengan perasaan luluh-lantak tak berdaya.
“Kita berdua sudah berjanji untuk saling kasih tahu kalau sedang punya masalah kan, Mas?” Menyeka air mata yang tak henti jatuh, Damar menambahkan. “Jika Mas terus berdiam diri tanpa sedikitpun punya keinginan buat ngasih jawaban, bagaimana saya bisa bantuin Mas?”
Maka setelah kalimat tersebut, aku tak kuasa menahan kepalaku yang seketika tertunduk.
“Aku baru tahu kalau ternyata Micky itu adalah orang yang jahat, Mar.” Dengan suara serupa desisan, aku mengatakan itu. “Aku baru tahu kalau ternyata Micky itu adalah seorang kakak yang punya keinginan untuk menghancurkan adiknya sendiri.”
Di atas duduknya, tentu Damar terdiam dengan isi kepala yang susah payah mencerna apa yang baru saja kukatakan. “Pak Micky… jahat? Jahat bagaimana maksudnya, Mas?”
“Dia bersekongkol dengan Kanaya untuk menghancurkanku, Mar,” kataku cepat. “Dia bekerja sama dengan Kanaya untuk menjebakku hingga aku terpaksa harus membayarkan sejumlah uang padanya!”
Atas satu kalimat yang terucap tersebut, bisa kurasakan tubuh Damar yang berubah menegang. Dari suara gemerutuk yang kutangkap dari sudut bibirnya, aku tahu bahwa emosi pemuda itu pasti terpancing begitu mendengar aku menyebutkan nama Kanaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING THE BODYGUARD
Fiction Générale(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024) Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil. Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
