(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024)
Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil.
Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
[Chasing The Bodyguard sudah sampai chapter 30 di Karyakarsa.com/bgstito]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DAMAR menutup wajah dengan jarinya. Meskipun aku tak bisa dengan pasti menebak ekspresinya, aku bisa menangkap bahwa ada penyesalan besar yang kini muncul di dalam dadanya.
"Kenapa kita harus melakukannya, Mas?" Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Damar yang bergetar. Aku mengangkat kepala untuk melepaskan kesepuluh jari yang masih menangkup wajahnya.
"It's okay, Mar." Aku menempelkan kening Damar ke keningku. "Kita melakukannya dengan keinginan masing-masing. Nggak ada yang dirugikan sama apa yang baru saja kita lakukan."
"Tapi ini hubungan seksual pertama saya, Mas." Pemuda itu masih merintih penuh luka. "Kenapa saya harus melakukannya sama Mas yang seharusnya saya jaga?"
Aku harus jujur, sesuatu di dalam dadaku terasa tersayat-sayat oleh apa yang dikatakan oleh Damar. Sebegitu hebatkah guncangan yang diakibatkan oleh percumbuan yang baru saja kami lakukan? Damar masih perjaka, jadi wajar saja dia shock atas hubungan seksual pertamanya yang dia lakukan dengan seorang laki-laki yang notabene adalah majikannya. Yah, meskipun kami tak sampai melakukan anal seks.
"Please look at me, Damar!" Aku mengangkat kepala Damar hingga wajahnya kini berhadapan dengan wajahku. Aku mengusap lelehan tipis di ujung matanya dengan ibu jariku. "Aku nggak akan mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi di antara kita. Aku menginginkan ini sejak lama. Dan aku rela melakukannya karena aku menyukai kamu."
Atas apa yang kukatakan, Damar menatapku dengan matanya yang sembab. "Kenapa Mas Rayin harus suka sama saya? Saya ini cuma seorang pemuda kampung, cuma seorang bodyguard."
Disudutkan dengan pertanyaan seperti itu, aku seketika kehilangan kata-kata yang sejak tadi menggantung di kerongkongan. Dengan gamang, aku menarik tubuhku lepas dari tubuh Damar dan memilih mengambil duduk dan menarik pakaian. Seketika saja, pikiranku carut-marut tak keruan. Apakah aku benar-benar menyukai pemuda di sampingku ini karena cinta, ataukah hanya sekadar hasrat untuk bisa melepaskan napsu sesaat dengannya?
"Sudah saya duga, Mas Rayin nggak bakal bisa menjawabnya." Usai mengatakan itu, Damar bangkit dari kursi dan memunguti pakaian yang berserak di bawah kakinya. Ketika pakaian yang diambilnya sudah berpindah ke tubuhnya, pemuda itu menyodorkan tangan mengambil gelas cokelat yang isinya sudah berceceran di lantai. "Mungkin bagi Mas Rayin, saya sama aja kayak laki-laki lain yang pernah Mas ajak tidur. Saya cuma sekadar objek yang dipakai Mas untuk melampiaskan hasrat menggebu di dalam kepala. Ndak lebih."
Sejujurnya, aku ingin menjawab tuduhan itu dengan segera. Namun rupanya, rasa gamang yang berliuk-liuk menggelayuti kepalaku, membuatku begitu susah untuk mengatakannya. Bagaimana jika pada kenyataannya, aku memang hanya menjadikan Damar sebagai objek dari fantasi mesumku? Bagaimana jika pada kenyataannya, aku memang hanya sekadar tertarik pada tubuh dan ketampanannya saja?