05: Pesta Ulang Tahun

1.7K 140 4
                                        

[Chasing The Bodyguard sudah sampai chapter 20 di Karya Karsa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Chasing The Bodyguard sudah sampai chapter 20 di Karya Karsa.]

BULAN Agustus tanggal lima, adalah hari ulang tahun Micky. Biasanya, ketika hari spesial itu tiba, Micky akan merayakannya dengan open table di salah satu pub terkenal yang menjadi langganannya. Berdansa, minum-minum sampai menjelang subuh, lalu membawa pulang gadis cantik dan bercinta di apartemennya.

Jika kalian penasaran tentang status Micky, dia adalah seorang duda. Laki-laki itu pernah menikah sekali, punya anak, lalu memutuskan bercerai karena baik Micky maupun istrinya sama-sama tak menemukan kecocokan setelah dua tahun membangun rumah tangga. Sama sepertiku, Micky adalah tipe laki-laki yang tak suka dengan keterikatan. Bedanya, kakakku itu masih straight dan doyan perempuan. Hak asuh anak memang jatuh kepada sang istri, namun sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab, Micky masih sering mengirimkan uang untuk sang putera dan mantan istrinya tersebut meski keduanya mungkin tak membutuhkannya.

Kembali ke tempatku sekarang berdiri, lamunanku dibuyarkan oleh Damar yang mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. Kami berdua kini berada di depan Hollocaust, salah satu kelab VIP yang menjadi langganan selebriti dan orang-orang kelas atas Ibu Kota. Damar baru saja menekan tombol lock pada kunci mobil di genggamannya, sementara aku sibuk membalas pesan Micky yang menanyakan apakah aku jadi datang.

"Ini beneran pesta ulang tahunnya Pak Micky diadain di sini, Mas?"

Aku menyimpan kembali Iphoneku ke saku celana dan menoleh atas pertanyaan Damar itu. Aku merendahkan kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung, meneliti penampilan Damar yang kini dibalut kemeja biru tua dan chino pendek sebatas lutut yang membuatnya nampak lebih segar.

"Ya beneran lah, Mar," jawabku lelah. "Ngapain kita jauh-jauh ke sini kalau pesta ulang tahunnya di adakan di Ritz Carlton?"

Sebagai respons dari jawabanku, lagi-lagi Damar menggaruk tengkuknya. "Saya ndak pernah datang ke tempat-tempat kayak gini e, Mas."

Sebagai jawaban, tentu aku membiarkan tawa lolos dari bibirku. Seriusan pemuda itu tak pernah pergi ke diskotik meski sudah dua tahun lebih merantau ke Jakarta? Memangnya selama ini kalau pengein cari hiburan, dia kemana?

"Ya nggak apa-apa lah, Mar," kataku membenarkan bagian belakang kerah kemejanya yang sedikit terlipat. "Sekali-kali kamu juga perlu ke tempat kayak gini untuk melepaskan penat. Lagipula, nemenin aku ke sini juga masuk dalam job desk kamu. Kamu nggak boleh nolak."

Seolah sangsi dengan perkataanku, Damar akhirnya menurut saja ketika aku mulai melangkah masuk dan memberinya isyarat untuk mengekor. Memasuki bagian depan, kami disambut oleh musik trance yang menggebuk-gebuk telinga serta puluhan pasangan yang asyik berdansa-dansa di tengah ruangan. Dari kejauhan, Micky yang rupanya mem-booking VIP room, terlihat melambai-lambaikan tangannya ke arahku.

Menyeret Damar yang masih sibuk meneliti setiap jengkal, aku bergegas menuju dan menyampaikan ucapan selamat kepada laki-laki itu. Dia memelukku sekilas, sebelum mengangsurkan tangan untuk menerima kado yang kuberikan dengan tawa bahagia.

CHASING THE BODYGUARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang