(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024)
Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil.
Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
[Chasing The Bodyguard sudah sampai chapter 26 di Karya Karsa]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PASKA kejadian di Hollocaust, Damar jadi sedikit menjauh. Oke, dia memang tidak benar-benar mengajukan surat pengunduran diri seperti yang kutakutkan. Akan tetapi, perlakuannya jadi sedikit kaku terhadapku.
Jika biasanya pemuda itu akan masuk ke kamarku, lalu menyingkapkan tirai pada jendela hingga sinar matahari membangunkanku, maka dia hanya mengetuk singkat pintu kamarku untuk memberitahukan bahwa sarapan yang dibuatnya sudah siap pagi itu. Aku mengerti, dia mungkin takut aku akan kembali menyerangnya seperti tadi malam. Dan aku sama sekali tak menyalahkannya akan hal itu
Aku menyibak selimut hangat yang memelukku semalaman suntuk sebelum menjatuhkan kaki ke atas lantai. Kepalaku masih sedikit pengar karena efek alkohol yang masih tertinggal, ditambah tidurku semalam tidak nyenyak karena aku masih memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut Damar.
"Tolong berhentilah bersikap bodoh, Rayn!" Aku mengucapkan monolog itu untuk diriku sendiri. Bangkit menyahut piyama yang menggantung di dekat pintu dan mengenakannya, lantas menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan berkumur dengan mouthwash.
Ketika aku sampai dapur, Damar telah duduk di atas kursi kitchen island menikmati sarapannya. Di atas meja, sudah terhidang seporsi nasi goreng dengan sosis dan telur dadar serta segelas jus jeruk. Menarik kursi yang berseberangan dari tempatnya duduk, aku menjatuhkan pantat dan menyapa pemuda itu.
"Pagi, Mar," sapaku mengambil jus jeruk dan menyesapnya sedikit. Yang oleh pemuda itu dijawab dengan anggukan kecil tanpa sedikitpun kata-kata yang keluar dari bibirnya.
Damar mungkin sudah benar-benar marah padaku sekarang. Tiga kali percobaan yang kulakukan untuk menggodanya nyaris berhasil tadi malam. Sebenarnya, aku juga sempat tak percaya waktu Damar mau membuka bibirnya saat kucium. Namun mengingat bahwa pada akhirnya pemuda itu tetap bisa berpikir waras, aku menganggap bahwa mungkin dia hanya tak ingin membuatku kecewa saja.
"Jadi kamu masih marah soal tadi malam?" Aku menarik piring nasi goreng di atas meja, kemudian mulai menyendokkan nasi tersebut ke mulutku.
Yang kulempari pertanyaan, masih saja tak mengacuhkanku. Dia masih sibuk mengunyah sarapannya sementara tangan kirinya sibuk men-scroll layar ponselnya yang entah sedang menayangkan apa.
"Aku tahu kalau apa yang kulakuin ke kamu semalam itu sudah kelewatan, Mar." Kuputuskan untuk meletakkan kembali sendok yang kupegang ke atas meja. Bukan karena nasi goreng bikinan Damar ini tidak enak, tapi napsu makanku seketika menghilang merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada. "Aku memang bodoh dan egois karena tak bisa menahan hasrat sampai-sampai melapiaskannya ke kamu. Aku juga ceroboh, dan kamu berhak marah atas hal itu."
Pada akhirnya, pemuda itu memutuskan meletakkan ponselnya ke atas meja usai pengakuan sungguh-sungguh yang kuucapkan.
"Saya sama sekali nggak marah sama Mas Rayin." Damar mengangkat wajahnya menghadapku. Plester yang kutempelkan di alis kanannya masih menempel di sana. "Saya tahu Mas sedang dalam keadaan mabuk tadi malam. Dan saya ndak bisa ngelak karena Mas nyium saya secara tiba-tiba."