13. Cigarette After Sex

1.8K 34 2
                                        

ALUNAN merdu Apocalypse yang dinyanyikan Cigarette After Sex mengalun dari sudut kamar. Asap putih mengepul dari batang rokok yang kuisap, menodai udara yang diembuskan air conditioner dengan aroma nikotin yang menusuk penciuman. Aku masih rebah di atas dada Damar yang telanjang sementara pemuda itu asyik memainkan game sejuta umat di gawainya. Setengah jam yang lalu, kami baru saja melakukan seks penuh gairah. Melalui indera penciuman, aku bahkan masih bisa membaui aroma sperma kekasihku itu yang lamat-lamat menguap di udara. Sebatang tembakau dan sentuhan ringan seperti ini, memang seringkali menjadi pencipta good mood setelah sebuah pergumulan panjang yang melelahkan.

Jika boleh kujabarkan, seks kami yang barusan terasa begitu mendebarkan. Damar yang perlahan-lahan mulai ahli mempermainkanku, tak bisa dipungkiri berhasil membuatku bertekuk lutut di bawah dominasinya. Bibir dan lidahnya semakin ahli mencecapi setiap inci tubuhku. Aku tak bisa mengelak saat lidah basahnya menyapu dan menggigit kecil puting, dada dan juga perutku. Pun, saat pemuda itu mulai memasukkan penisnya dan menyetubuhiku dengan gerakan lembut namun menyenangkan. Memang benar kata banyak orang bahwa seks memang bukanlah sesuatu yang perlu dipelajari. Seringkali ketika bertemu dengan orang yang tepat, kita akan bisa dengan mudah melepaskan insting naluriah yang tak pernah sedikitpun kita persiapkan.

“Jadi Mas Jordan yang kemarin itu, salah satu mantan cowok yang pernah jadi teman tidurnya Mas Rayin, ya?” Damar menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas setelah tiga kali memenangkan permainan. Jari-jarinya yang kokoh, bergerak mengelus puncak kepalaku dengan begitu lembut.

He is just a fuck buddy, Mar,” kataku meraih tangannya dan meletakkannya ke atas dadaku. “Cuma sekadar partner senang-senang yang sama sekali aku nggak punya perasaan terhadapnya.”

“Terus kenapa sama saya Mas Rayin mau pacaran?” lanjutnya. Membuat aku dengan segera menolehkan kepala kepadanya, dan menemukan senyuman usil di sudut bibirnya. “Padahal kalau dilihat-lihat, Mas Jordan itu jauh lebih ganteng dan kaya ketimbang saya.”

Mendengar kalimat itu, yang kulakukan selanjutnya hanyalah menelusupkan kelima jari Damar ke tanganku sebelum membawanya menuju bibirku dan mengecupnya. 

“Ada hal-hal tertentu yang nggak bisa diukur hanya dengan wajah tampan dan harta yang melimpah, Damar,” kataku perlahan. “Ketika kita jatuh cinta pada seseorang, kita jatuh pada siapa dirinya yang sesungguhnya, bukan pada wajahnya, uangnya, ukuran kelaminnya atau bahkan orientasi seksualnya. Aku mau pacaran sama kamu karena aku jatuh cinta sama kebaikan dalam diri kamu. Sama sekali bukan karena badan kamu yang besar ataupun wajah kamu ganteng.”

Di atas tempatnya rebah, bisa kurasakan salah satu sudut bibir Damar kembali terangkat setelah apa yang baru saja kukatakan. Pemuda itu mungkin akan berpikir bahwa apa yang keluar dari mulutku barusan adalah sebuah bualan. Tapi percayalah, pada kenyataannya, memang seperti itulah yang kurasakan kepadanya.

“Terus selama Mas Jordan sama Mas Rayin TTM-an, siapa yang lebih sering dimasukkin dan memasukkan?” Kali ini, Damar mengubah posisinya hingga kami sama-sama rebah dengan wajah yang saling berhadapan. “Selama ini kalau kita begituan, saya yang selalu masukkin Mas Rayin. Tapi saya yakin, Mas Rayin juga pernah masukkin punya Mas juga, kan?”

Aku tak bisa menyembunyikan tawa usai satu pertanyaan polos itu. Aku paham betul, sebagai seorang gay—atau lebih pantas menyebut pemuda itu sebagai biseksual—pendatang baru, Damar pasti punya segudang pertanyaan penuh rasa penasaran yang kini bercokol di dalam kepalanya. Layaknya seorang bocah TK yang baru saja mengenal dua puluh enam abjad alfabet, pemuda itu tentu ingin tahu lebih banyak hal.

Both of us are versatile, Mar,” jawabku singkat seraya menowel hidung bangirnya dengan gemas.

Damar mengerjap. “Versatile itu apa?”

CHASING THE BODYGUARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang