(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024)
Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil.
Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
[Chasing The Bodyguard sudah sampai chapter 35 di Karyakarsa]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BULAN November, menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh penggila fesyen Ibu Kota karena pergelaran busana terbesar di Asia Tenggara, Jakarta Fashion Week akan dihelat di bulan tersebut. Sebagai ajang pameran mode tahunan yang tak pernah gagal menghadirkan perancang-perancang hebat dari seluruh penjuru negeri, JFW selalu menjadi salah satu event yang paling dinanti-nanti. Maka tak mengherankan, bahkan sejak satu bulan sebelum event digelar sekalipun, tiketnya sudah lebih dulu habis diborong oleh para pecinta fashion baik dari Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia.
Micky mengatakan kalau pihak penyelenggara telah mem-book-ku untuk dua pagelaran di hari terakhir ketika aku sedang mengunyah Tuna Mayo di salah satu meja Subway siang itu. Kami baru selesai meeting dengan Mondial perihal kampanye untuk koleksi perhiasan terbarunya, dan kakak laki-lakiku itu memutuskan mampir sejenak ke FX Sudirman untuk makan siang.
"Jadi bisa dibilang, bulan ini lo bakal sedikit sibuk dari biasanya." Micky baru saja menutup buku kecil berisi jadwalku yang biasa dibawanya, lalu menyesap kola di depannya. "Maka dari itu gue minta, tolong lo lebih concern sama kesehatan lo. Just forget about that diet thing for a while. Badan lo udah kayak batang spaghetti sekarang."
Melemparkan pandangan ke arah lain restoran yang diselimuti keramaian, aku mengulum senyum kecut setelah kalimat terakhir yang Micky katakan. Dua hari yang lalu, aku memang sempat menimbang badan dan menemukan bahwa beratku turun hampir enam kilogram karena aku sering melewatkan sarapan beberapa minggu ke belakang.
Bukan berarti aku ingin menyalahkan Damar. Namun pada kenyataannya, semenjak pemuda itu pergi dari sisiku, aku kehilangan selera untuk makan. Mungkin aku memang sudah terbiasa dengan masakan-masakan buatannya, sehingga ketika aku kembali menyantap sarapan yang kupesan dari layanan pesan antar, aku jadi tak lagi bisa menikmatinya.
Sudah hampir satu setengah bulan pemuda itu hengkang dari kehidupanku. Dan lambat laun, aku mulai benar-benar merasa begitu merindukannya. Aku rindu suaranya yang berteriak membangunkanku setiap paginya. Aku rindu nyanyian tak jelasnya ketika dia sedang mandi atau menyopir mobilku. Pun juga, aku rindu dengan aroma bubur ayam yang pernah dibuatnya ketika kami pertama bertemu dulu.
Sekarang, tak ada lagi yang bisa membangunkanku selain pekikan alarm atau panggilan beruntun dari Micky. Ruangan besar apartemenku juga terasa kosong meski barang-barangku penuh menyesakinya. Tak ada tawa dan obrolan-obrolan yang membuat hari-hariku terasa hidup. Yang tertinggal kini hanyalah hening dan hampa. Perasaan tak genap yang perlahan-lahan hadir menyelimuti hati dan pikiranku.
"Apa lo masih kepikiran soal Damar?" Karena aku mengabaikan perkataan terakhir yang dilemparkannya, Micky melanjutkan. "Apa lo masih merasa bersalah karena apa yang lo lakuin udah ngebikin Damar sampai mundur dari pekerjaannya?"