KEMBALINYA Damar sebagai bodyguard-ku, menjadi sebuah penanda bahwa aku dan pemuda itu kini telah menapakkan kaki pada sebuah babak baru kehidupan. Tak bisa dipungkiri, kami memang masih sama-sama belum terlalu yakin untuk benar-benar jatuh pada sebuah hubungan. Namun setidaknya, baik aku maupun pemuda itu, sudah sama-sama meyakinkan diri untuk belajar saling mencintai satu sama lain dengan sungguh-sungguh. Damar yang baru pertama kali mencintai laki-laki, tentu akan butuh waktu untuk dapat menyelami perasaan dengan sebagai mestinya. Pun begitu denganku, yang pada akhirnya memutuskan bangkit dari masa lalu kelam yang sudah terlalu lama menjadi bayang-bayang.
“Jadi mulai sekarang, kamu bakal tidur di kamar aku.”
Damar sedang sibuk menggoyang-goyangkan wajan datar berisi telur mata sapi ketika aku mengatakan kalimat tersebut. Sejak kemarin, Damar memang sudah resmi pulang dan kembali bekerja sebagai bodyguard-ku meski aku belum memberitahukan hal tersebut kepada Micky. Esok harinya setelah pergumulan kami di tempat geladi resik JFW, aku memaksa pemuda itu agar segera pindah dan membawa barang-barangnya ke apartemenku. Tak ada gunanya menunda-nunda waktu, sebab pada kenyataannya kuakui, aku merasa sepi tinggal di sebuah rumah besar seorang diri.
“Iya, Iya. Mulai nanti malam saya bakal ikut tidur di kamar Mas Rayin.” Damar menjatuhkan telur setengah matang yang selesai dimasaknya ke atas nasi gorengku. Lalu setelahnya, pemuda itu mengambil duduk di atas kursi yang berseberangan denganku. “Saya baru sadar sekarang, rupanya Mas Rayin ini manjanya kebangetan, ya.”
Diledek begitu, tentu aku langsung manyun seraya pura-pura melipat kedua tanganku tanda kesal. Enak saja. Aku ini bukan manja, Damar sayang. Cuma kadang suka kekanakan saja kalau sudah ketemu sama cowok yang disayanginya.
“Aku nggak manja, ya!” Cebikku pura-pura kesal. “Titik!”
Di atas kursinya, Damar tak bisa menahan gelak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu bangkit mengayun langkah untuk mendekat ke arahku, sebelum kemudian dengan penuh sayang menggusak rambutku dan mencium keningku dengan bibirnya.
“Iya Mas Rayin nggak manja,” katanya dengan nada paling lembut yang pernah kudengar. “Tapi kayak bayi gede yang kudu dijaga siang dan malam.”
Tak terima Damar menyebutku lagi dengan sebutan menyebalkan itu, aku memutuskan bangkit dan mendorong tubuhnya hingga pemuda itu jatuh terlentang di atas meja makan. Tanpa sedikitpun membuatnya sempat mengurai kata, aku sudah lebih dulu naik ke atas tubuhnya dan mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Tadinya, aku baru saja ingin mencium bibir Damar untuk memberinya hukuman ketika terdengar suara pintu apartemen berderit pada detik berikutnya.
Sialan!
Dari balik daun pintu yang menjeblak terbuka, Micky terlihat berdiri mematung dengan mulut yang nyaris terbuka tanda dia tak mempercayai apa yang baru saja ditangkap oleh kedua matanya. Baik aku maupun Damar, refleks saling melepaskan diri sebelum kemudian kembali ke tempat duduk masing-masing dengan ekspresi kikuk seolah kami ini adalah maling jemuran yang tertangkap basah mencomot sepotong beha.
“Kayaknya, sehari aja gue jauh dari lo, lo selalu berhasil membuat gue jantungan sama kejutan-kejutan yang lo buat, Rayn.” Micky berjalan mendekat ke arah aku dan Damar. Ketika pantatnya rebah di atas salah satu kursi yang kosong, tangannya menjatuhkan sekantung plastik yang kuterka adalah dua porsi bakmi hokkian yang baru saja dibelinya di restoran bawah. “Jadi sekarang, kalian udah kembali akur dan bahkan mulai berani bermesra-mesraan?”
Mendengar ucapan bernada mencibir itu, baik aku maupun Damar tentu langsung saling melemparkan pandangan. Kali terakhir kami bertemu, kakakku itu melihatku menangis putus asa karena kehilangan Damar. Namun sekarang, dia malah melihat aku dan Damar nyaris berciuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING THE BODYGUARD
Ficción General(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024) Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil. Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
