[ Full chapter sampai tamat sudah tersedia di karyakarsa.com/bgstito]
“Mas, please, tolong berhenti! Saya nggak tahan!”
JAMBAKAN Damar pada rambutku semakin menggila ketika lubang anusnya semakin basah oleh liur yang tercipta dari lidahku. Aku tersenyum tipis mendapati lubang di hadapanku kini nampak mengkilat dengan warna kemerahan yang begitu menggoda. Aku membawa jari tengahku ke mulut, menjilatnya sebentar sebelum kemudian meneroboskannya ke lubang Damar yang masih perawan.
“Akhh!”
Aku menemukan tubuh Damar mengejang bersamaan dengan jariku yang berhasil masuk ujungnya. Berulang kali aku berusaha menekan jariku agar semakin masuk, namun otot-otot rectum Damar sudah lebih dulu mencengkeramnya hingga aku kesusahan.
“Relax, Sayang. Jangan ditahan.” Bersamaan dengan kalimat tersebut, aku menunduk untuk memasukkan penis Damar yang layu ke mulutku. Dengan gerakan pelan, aku mulai menaik turunkan kepalaku dan membiarkan kelamin kekasihku diremas-remas oleh mulutku. Desahan dari mulut Damar kembali terdengar bersamaan dengan penisnya yang mulai mengeras. Aku mendorong lagi jariku, dan kali ini mulai dengan mudah masuk ke dalam pantatnya.
Bersamaan dengan penis Damar yang ku-blow job, jari tengahku lantas semakin aktif memainkan lubang perawannya. Berulang kali Damar mendesah, menjambaki rambutku dan mengejan setiap kali bibir dan jariku mengenai titik sensitifnya.
“Aduh, Mas! Kok sakitnya ilang, ya?” Suara Damar yang memberat, menjadi tanda bahwa laki-laki itu mulai menikmati dengan fingering yang kuberikan. Lubang Damar semakin basah oleh ludah yang kembali kuberikan. Tanpa ampun, aku turut memasukkan telunjukku hingga kini kedua jariku tertangkap oleh otot-ototnya yang berkedut-kedut.
“Enak, Sayang?” Aku membisikkan itu. “Suka?”
Dari sudut pandanganku, Damar hanya mengangguk-angguk tanpa suara. Kedua matanya tertutup sementara bibirnya masih belum berhenti mengeluarkan erangan.
Begitu puas mengerjai anusnya, aku lalu bangkit untuk mencium bibir Damar dengan buas. Dengan gerakan tak memaksa, aku membimbing kepalanya untuk menjangkau selangkanganku yang sudah menggunduk. Kupelorotkan celana boxer-ku sebatas lutut, lalu membiarkan Damar memasukkan penisku yang sudah menegang ke mulutnya. Rasa hangat dan basah yang kini menyelubungi kelaminku, tak pelak membuat refleks menutup mata seraya meloloskan satu desahan pelan.
“Shit, Mar! Aku nggak tahu kalau kamu rupanya jago nyepong!”
Isapan bibir Damar memang masih terasa ragu-ragu. Namun gesekan demi gesekan yang dirasakan setiap kali bibirnya menyedot penisku, kontan saja membuatku merasakan rasa nikmat yang luar biasa. Pinggulku mulai bergoyang bersamaan dengan kepala Damar yang bergerak maju mundur dengan cepat. Beberapa kali, pemuda itu sempat tersedak karena aku mendorong batangku terlalu dalam ke tenggorokannya. Namun seolah tak kapok, Damar kembali menyesap penis tersebut seolah dia sedang mengisap es krim rasa cokelat favoritnya.
Puas merasakan blowjob yang diberikan Damar, aku lantas menarik pemuda itu bangkit hingga kini kami berdiri berhadapan. Aku mencium bibirnya sebentar, mengangkat sedikit kausnya sebelum turun dan mulai menggigit kecil puting di kedua dadanya yang menantang. Mengabaikan pemuda itu merintih geli sekaligus keenakan, aku iseng membuka perekam video pada ponsel dan meletakkan benda tersebut di atas nakas. Penanda waktu yang perlahan mulai berjalan, menjadi saksi setiap adegan mesum kami yang mulai terekam. Aku perlu mengabadikan momen pertama kali aku menggagahi Damar yang masih perawan.
Berhubung napsu di ubun-ubunku sudah mulai tak tertahankan, aku menyodorkan tangan untuk mengambil kondom dan juga lubricant yang selalu kusediakan di laci nakas. Memasangkan benda tersebut ke penisku dan mengolesinya dengan gel lengket berwarna bening, aku lalu memposisikan Damar agar menunduk dan memamerkan lubang seksinya tepat di depan wajahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING THE BODYGUARD
Fiction Générale(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024) Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil. Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
