(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024)
Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil.
Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
[Chasing The Bodyguard sudah sampai chapter 10 di Karya Karsa]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
KEESOKAN paginya, aku terbangun karena mencium aroma harum dari arah dapur. Mataku menyipit, mencoba membiasakan diri pada cahaya lembut yang diam-diam menelusup dari celah jendela apartemenku yang berada di lantai tiga puluh.
Mendapati waker di nakas yang menunjukkan angka setengah sembilan, aku kemudian menjatuhkan kedua kaki ke atas lantai keramik yang dingin. Kuraih sepotong kaus dari freestanding closet dan memakainya sebelum keluar dari kamar.
Tepat seperti dugaanku, Damar sudah berdiri di sana. Di depan kompor dengan celemek hitam membalut tubuhnya yang hanya mengenakan celana jogging pendek berwarna hitam.
"Masak apa, Mar?" Aku mengambil cangkir dari laci di sudut dapur, mencemplungkan sebungkus diet tea ke dalamnya dan menyeduhnya dengan air panas dari dispenser sebelum membawa langkah untuk duduk pada kursi di tengah dapur.
"Eh, Mas Rayin udah bangun. Selamat pagi." Pemuda itu menolehkan kepalanya ke arahku. Membuat wajahnya yang manis kembali menyapaku. "Ini lagi goreng ayam yang kemarin dibawain sama Pak Micky. Saya tadi bikin bubur buat sarapan."
Mendengar jawaban Damar, aku sontak bangun dari kursi dan melihat kedua tangan kokoh pemuda itu sibuk membolak-balik ayam di atas panci penggorengan. Aroma wangi dari ayam yang digoreng dengan minyak wijen seketika membuat perutku keroncongan.
"Kok kamu bisa masak sih, Mar? Belajar dari mana?"
Damar mengangkat ayam yang sudah matang dan meniriskannya di atas nampan yang dialasinya dengan kertas minyak. "Kalau di kampung saya sering masak, Mas. Suka diajarin sama Ibu."
"Terus ini kamu kenapa nggak pakai baju?" Iseng, aku mencolek dada Damar yang tertutup celemek, membuat pemuda itu terkikik kegelian dan mudur selangkah.
"Tadi saya olahraga dulu sebelum masak, Mas." Pemuda itu mengedikkan kepala ke arah dua buah dumbell yang terserak di dekat tempat jemuran. "Masih keringatan, jadi biar sekalian kering terus nanti tinggal mandi."
Entah apa yang mendorongku, aku iseng mendekatkan diri ke arah Damar. Dari jarak sekitar sepuluh senti, aku bisa mencium aroma alami yang menguar dari tubuhnya. Aroma keringat yang sama sekali tidak asam dan bau, namun cenderung seperti kayu basah yang segar, dan juga... seksi.
"Mas Rayin jangan dekat-dekat, ah!" desis Damar karena aku sama sekali tak berniat mundur. "Badan saya masih keringatan. Bau."
Namun bukannya mengindahkan perkataannya barusan, secara naluriah hidungku maju dan menyentuh bagian samping leher Damar yang jenjang. Membuat laki-laki itu seketika mematung di atas kedua kakinya saat hidungku bersentuhan dengan kulitnya yang telanjang.
"Aku suka bau kamu, Mar." Aku mendesis, melupakan akal sehat yang seolah lenyap dari kepalaku. Demi apapun, aroma yang sekarang menusuk hidungku seperti aroma kokain yang memabukkan. Aku mengulurkan tanganku ke depan, menjelajahi gundukan dada Damar yang padat dan kokoh. Feromon yang dimiliki laki-laki itu terlalu kuat untuk kutepis.