[Full chapter sampai tamat sudah bisa dibaca di karyakarsa.com/bgstito]
MINGGU pagi itu, seharusnya aku bisa bangun agak siangan sembari melakukan cuddle mesra dengan Damar andai saja Micky tak secara terus-terusan meneleponku dengan tidak sabaran. Aku baru saja membuka mata ketika ponselku berdering-dering dan layarnya memunculkan nama kakak laki-lakiku itu.
“Ya, Mick. Ada apa?”
Satu sapaan serak yang keluar dari mulutku itu, dibalas dengan dengusan kasar dari ujung sana. “Are you losing your mind, Rayn? Bagaimana bisa lo begitu ceroboh ngebiarin paparazzi menangkap kemesraan lo sama Damar?”
Atas satu kalimat yang menggaung dari balik corong telepon, tentu aku refleks mengucek kedua mata yang seketika terbuka. Melepaskan pelukan tangan Damar yang masih lelap dengan mimpinya, aku menjatuhkan kakiku ke lantai dan membawa diri menuju balkon.
“What do you mean, Mick?” kataku begitu aku sampai di balkon dan mengarahkan pandangan pada langit Jakarta yang masih diselimuti awan pagi. “Menangkap kemesraan? Kemesraan yang mana?”
Tak menjawab pertanyaanku, kudengar Micky mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tak lama setelahnya, aku mendengar penanda pesan masuk di aplikasi pesanku.
“Go check your fucking message, Rayn!” katanya setengah kesal. Yang dengan segera membuatku menjauhkan telepon dan mengecek pesan masuk yang dikirimkan olehnya. Di kotak masuk pesanku sekarang, aku menemukan hasil screenshot sebuah portal gosip yang cukup terkenal di Instagram yang menampakkan foto aku, Damar dan Mbak Mikaela yang sedang makan siang di kafetaria kantor Dolce & Gabbana. Damar yang membelakangi kamera, terlihat jelas sedang mengusap pipiku dengan tangannya. Foto itu telah mendapatkan sekitar dua belas ribu like. Dan mataku membundar membaca caption kontroversial yang disematkan di bawahnya.
“How could you let this happenned, Rayn?” Dari balik telepon, aku mendengar Micky kembali mengomel. “Kenapa lo bisa seceroboh ini ngebiarin orang lain melihat kemesraan kalian berdua? Bukankah sudah gue bilang supaya kalian berhati-hati kalau di luar?”
Diomeli begitu, tentu aku balik mendenguskan napasku.
“Ini cuma kesalahpahaman, Mick!” kataku membela diri. “Yang terjadi sebenarnya, Damar cuma ngelap whip cream yang nempel di pipi gue. Nggak lebih!”
“Oke, mungkin pada kenyataannya Damar memang cuman ngelap whip cream di pipi lo. Tapi apakah awak media dan netizen bakal berpikir hal yang sama?”
Kedua kakiku yang menjejak lantai balkon, seketika terasa lemas usai kalimat pamungkas yang dikatakan oleh kakakku tersebut. Hal seperti inilah yang seringkali tak kusukai semenjak aku menginjakkan kakiku di dunia modelling. Ketatnya persaingan, juga self image yang semakin besar, akan membuat semua orang berlomba-lomba mengulik kehidupan pribadimu dan menjadikannya sebagai sebuah bahan gunjingan.
“Gue bisa jelasin ini, Mick!” Pada akhirnya, aku mencoba meyakinkan Micky bahwa foto tersebut memanglah sebuah kesalahpahaman. Dilihat dari manapun, aku tahu bahwa orang yang memotret foto tersebut menyimpan perasaan tidak suka terhadapku. “Gue yakin, ini pasti ulah orang iseng yang merasa tersaingi sama gue.”
“Oke, kita ketemu di Escabar jam lima nanti,” tangkas Micky. “Kalau sampai penjelasan lo terdengar nggak masuk akal, gue bakal angkat tangan kalau sampai beberapa proyek lo dibatalkan karena lo udah berani membuat skandal.”
Maka setelahnya, telepon terputus bersamaan dengan embusan napas berat yang meluncur dari bibirku.
Dasar perempuan sialan! Aku yakin betul kalau ini pastilah ulah Kanaya. Setelah ultimatum yang sudah kuberikan padanya—serta tindakanku yang menolak penawarannya, tentu perempuan berlidah ular itu tidak akan tinggal diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING THE BODYGUARD
General Fiction(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024) Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil. Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
