PALING tidak, satu masalah yang menerpa hubunganku dengan Damar sudah berhasil kami selesaikan seperti seharusnya. Meskipun kemungkinan bahwa Kanaya bisa kapan saja kembali untuk membalas dendam tak bisa serta-merta kami elakkan, namun setidaknya, kami punya kesempatan untuk menikmati masa tenang. Bukan kehidupan namanya jika di masa mendatang, hidup kami akan lempeng-lempeng saja tanpa ada halangan. Seringkali, justru masalah dan hambatan yang kita temui itulah yang menjadikan kita mampu belajar untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan.
Damar sedang asyik dengan dumbell di kedua tangannya ketika aku sibuk dengan peralatan memasakku pagi itu. Ketika kami sama-sama terbangun tadi, aku memang sudah berniat menggantikan pemuda itu untuk membuat sarapan. Meskipun jarang, aku punya kemampuan memasak yang tak bisa dianggap remeh. Ketika masih tinggal bersama Mami dulu, perempuan itu sering mengajariku cara memasak makanan supaya aku tak sering-sering mengonsumsi makanan restoran ketika suatu saat aku memilih untuk hidup mandiri. Dan Mami benar, keterampilan itu benar-benar bisa kugunakan sekarang.
Di atas panci datar yang sesekali kugoyangkan, kini sudah tercemplung beberapa potong sosis dan ham yang mulai menguarkan aroma wangi. Tadi, aku juga membuat beberapa lembar pancake yang kubaluri dengan saus buah plum. Dan berhubung Damar tak terlalu suka makanan manis, maka aku turut menyiapkan nasi goreng dengan topping telur dadar dan potongan sosis.
“Hmm… wangi banget bau masakkannya, Mas.” Damar muncul dengan tubuh shirtless-nya yang menggoda. Handuk yang tergantung di bahunya, sesekali dia gunakan untuk mengelap keringat yang muncul di dahi dan lehernya. “Kayaknya, udah mulai ada yang nyaingin kemampuan saya di dapur, nih?”
Dicandai begitu, tentu aku tertawa kecil sembari meletakkan sosis dan ham yang sudah matang ke atas piring yang sudah kulapisi dengan tisu agar minyaknya terserap. “Biasa aja ah, Mar. Ini cuma menu sarapan yang sederhana, siapapun pasti juga bisa memasaknya.”
“Tapi kalau Mas Rayin yang memasaknya, rasanya pasti jadi istimewa.” Ketika mengatakan itu, kedua tangan Damar sudah lebih dulu merengkuh pinggangku sementara dagunya dia sandarkan ke bahuku. Pemuda itu mencium pipiku sekilas, sebelum mengatakan, “Masakan apapun, pasti akan terasa spesial kalau dibuat dengan tulus dan penuh cinta.”
Atas gombalan yang dikatakan Damar, aku segera mencubit hidung pemuda itu dengan gemas. “Kamu ini, Mar. Makin lama kok makin jago menggombal aja.”
Damar terkikik. “Lho, saya kan cuma ngomong kenyataan, Mas. Bukan lagi menggombal.”
“Iya, iya.” Aku mengalah. “Tapi tetep aja, kan, omongan kamu itu pasti ada sisi gombalannya meskipun sedikit?”
“Dan itu berhasil, kan?”
Aku menggelengkan kepala. Tak bisa kupungkiri, wajahku memang sedikit memanas karena malu usai mendengar apa yang dikatakan kekasihku itu.
“Udah ah, jangan ngegombal pagi-pagi. Pamali.” Aku memutuskan membawa sosis pun ham yang sudah siap ke atas meja makan. Mengekor di belakang, Damar membawa langkah sebelum mengambil duduk di atas stole tinggi di samping meja makan. “Omong-omong, hari ini kamu anterin aku ke studionya jangan siang-siang, ya? Takut nanti kita terlambat nyampenya. Hari ini aku ada meeting sama orang-orang dari Nagaswara.”
“Jadi proyek Mas sama penyanyi terkenal itu jadi dilakukan?” Mencomot sosis di depannya, Damar menimpal. “Siapa namanya? Rangga Ramadhan?”
“Rangga Rahardian, Mar,” koreksiku. Yang tentu segera diamini anggukan di kepala Damar. “Proyek video klipnya jadi. Minggu depan kami udah mulai proses pengambilan gambar.”
Mendengar jawabanku, maka Damar tak memberikan respons lain selain menganggukkan kepalanya dengan paham. Seperti yang sudah diberitahukan oleh Mas Lukman pada meeting sebelumnya, bulan ini aku mendapatkan tawaran menjadi model video klip untuk seorang penyanyi solo yang tengah naik daun. Rangga Rahardian, namanya. Seorang solois muda yang baru saja mengeluarkan beberapa single perdananya. Rangga adalah lulusan sebuah sekolah musik di Austria, dan di awal kemunculannya, pemuda tampan berusia dua puluh empat tahun itu sudah mencuri perhatian para penikmat musik di Indonesia.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASING THE BODYGUARD
Ficción General(TAMAT 16 SEPTEMBER 2024) Rayner Jeffrey Saloka, dua puluh tiga tahun, model, merasa bahwa hidupnya terkekang oleh perlakuan kakak dan kedua orangtuanya yang masih menganggapnya seolah anak kecil. Sebuah insiden yang membuatnya hampir masuk penjar...
