01: The Bodyguard

3.7K 275 9
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


AKU terbangun oleh ketukan bertubi-tubi di pintu apartemenku. Aku menyipitkan mata, mencoba menangkap penanda waktu yang tertera di sudut atas layar ponselku, sebelum kemudian mendenguskan napas kesal begitu menemukan angka delapan pagi di sana.

Demi apapun, tidak boleh ada yang menggangguku kalau masih jam segini. Terlebih, ini hari Minggu. Weekend. Hari di mana seharusnya aku terbebas dari pekerjaan, appointment, atau hal-hal melelahkan yang semacamnya. Pun, hari di mana aku bisa bebas bangun terlambat, sarapan sereal di jam sebelas, sebelum kemudian keluar makan siang di jam dua siang harinya. Jika saja yang mengetuk barusan adalah Micky atau petugas laundry, aku pasti akan dengan senang hati melemparinya dengan sepatu bots di sudut kamar.

Berusaha mengumpulkan kesadaran, aku bangkit dari selimut yang sejak tadi memeluk tubuhku, menapakkan kaki pada lantai keramik yang dingin, sebelum kemudian mendekat ke arah pintu kosen yang masih saja diketuk-ketuk. Setengah mengucek mata yang masih terasa lengket, aku mengulurkan tangan pada kenop dan memutarnya, membiarkan daun pintu di hadapanku terbuka dan menampakkan sesosok laki-laki tinggi dengan wajah yang begitu asing.

Sebentar-sebentar.

Laki laki tinggi? Berwajah asing?

"Selamat pagi, Mas Rayin, ya?"

Jauh sebelum aku sempat membuka mulut, sapaan ramah itu sudah lebih dulu menyapa gendang telingaku. Aku seketika tertegun sadar di atas kedua kakiku. Di hadapanku, berdiri sesosok laki-laki muda yang kutaksir berusia pertangan dua puluh dengan rambut berpotongan cepak serta tubuh tegap yang tebalut kaus hitam ketat.

"Iya, saya Rayn. Kamu ini siapa, ya?"

Tak segera menjawab, laki-laki beralis tebal itu malah mengulas sebuah senyuman manis. Menampakkan deretan gigi putih yang begitu kontras dengan kulit sawo matangnya yang eksotis. Sekarang coba bayangkan ini, sesosok laki-laki perempat usia berdarah Jawa dengan dua mata sayu serta wajah berpostur tegas pun hidung bangir dan bibir tebal berwarna merah pucat. Wajahnya mulus bersih, ditumbuhi bulu halus yang tumbuh malu-malu di bagian dagu dan bawah hidungnya.

"Saya Damar Pribadi, Mas." Laki-laki itu mengulurkan tangan kanan malu-malu. Melalui kedua mataku, aku bisa menangkap otot-otot bisep dan trisep yang menyembul di kedua tangannya yang kokoh. "Yang hari ini mulai kerja buat jadi bodyguard-nya Mas Rayin."

Tentu saja, aku mematung usai satu kalimat singkat yang dikatakan oleh laki-laki bernama Damar itu. Jadi Micky benar-benar mempekerjakan seorang bodyguard untuk menjagaku? Kenapa dia tak mendiskusikannya denganku terlebih dahulu?

"Oh, begitu, ya?" ucapku terbata. Kuakui, jantungku cukup berdegup menyaksikan sosok yang kini berdiri sekian sentimeter dariku itu. Dalam skala satu hingga sepuluh, aku akan memberikan angka sembilan untuknya. Coba lihat dada membusung yang dua putingnya mencetak bayangan di balik kaus yang dikenakannya.

CHASING THE BODYGUARDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang