1. Mendeprok Akibat Ditinggal

2.9K 163 9
                                        

Aku menyender pada pembatas jembatan setelah penat berlarian di tengah rimba demi menemukan rumahku. Kaus merah jambuku basah oleh peluh, membuat bagian ketiak dan punggung menggelap serta lengket. Aku terus megap-megap kepayahan menghirup napas. Kesadaranku hampir buyar disebabkan lelah dan kantuk yang menderu tak dapat dihalang.

Namun, mataku melek sempurna seiring debaran jantung yang makin memukul rongga dada karena kaget oleh ledakan beberapa meter dariku yang mengepulkan asap kehitaman. Orang-orang sibuk pontang-panting menyelamatkan diri seraya berteriak tak jelas. Aku menghela napas jengah, frustrasi dengan peristiwa aneh yang tengah menimpa diriku. Aku cuma bocah lima belas tahun yang sedang sibuk belajar kenaikan kelas, malah kesasar di tempat peperangan yang gersang begini, tanpa tahu jalan untuk kembali ke rumahku. Makin banyak orang-orang yang keluar dari wilayah sumber ledakan, berdesak saling mendahului tanpa memikirkan lebar jalan yang mereka lalui. Kakiku yang berselonjor lemas terinjak-injak, semakin berat kukendalikan hingga lama-lama mati rasa.

Aku pasrah, meratap seraya bertanya-tanya akan apa yang tengah berlangsung. Kusandarkan kepala pada pembatas jembatan, menikmati pemandangan kakiku yang mau-mau saja diinjak kaki-kaki lain yang kotor dan kasar itu. Aku masih megap-megap, jantungku masih berdentum hingga terdengar di telingaku sendiri.

"Apa yang kaulakukan, Tolol?!" Sekonyong-konyong seorang pemuda memaki kemudian memanggulku bagai kayu gelondong.

Tubuhku yang kaget sama sekali tak menolong jantungku yang kian berdebar. Kepalaku pening luar biasa, kurasa kesadaranku sebentar lagi raib. Mataku menangkap jalan setapak becek yang dipijak oleh kaki lebar pemuda bercelana batik itu. Ia terus berlari menjauh dari teriakan histeris orang-orang yang melaju ke sembarang arah.

Aku tak merasakan apa-apa lagi sebelum semilir angin menarik kelopak mataku untuk terbuka, menyaksikan dedaunan nyiur yang menaungiku di tengah hutan. Tak kudengar lagi debum ledakan serta orang-orang histeris. Hanya tonggeret yang mengisi kesunyian hutan. Tubuhku masih bertengger di pundak si pemuda berbau keringat. Ia melorotkanku perlahan setelah tiba di pinggir kali kecil yang mengalir tenang. Kulirik ia yang mandi keringat bersandar pada batu besar.

"Kenapa kau tak lari?" Pemuda itu mengambil air kali dengan tangan kemudian meneguknya.

Aku bingung harus mengutarakan yang mana dulu. Atau, langsung saja kukatakan keanehan yang sedang menimpaku?

"Kau bisu?"

"Kakiku sakit." Aku tak menghendaki suara lirih ini, tetapi pita suaraku tak kooperatif.

Ia mengerjap, kemudian matanya beralih pada kakiku yang membengkak disertai darah merembes dari tungkai. Tanpa izin terlebih dahulu, ia memijat dan memuntir pergelangan kakiku hingga pekikan refleks terlontar dari tenggorokanku.

"Tak apa, nanti bakal membaik."

"Atas dasar apa aku harus percaya padamu?! Malahan, kakiku tambah nyeri." Mulutku berkedut menahan tangis bagai bocah yang merajuk tak dibelikan boneka.

"Bapakku ahli mengobati patah tulang. Sedikit banyak aku pun paham tekniknya." Pemuda itu membebat kakiku setelah menyobek ujung kaus putih kumalnya yang mungkin dicuci sebulan sekali, atau bahkan tidak sama sekali.

"Aku belum pernah melihatmu di wilayah ini. Siapa kau?" tanya pemuda itu dan aku tak minat menjawabnya sementara menahan nyeri luar biasa yang berpusat di kaki kananku. "Kau itu waras tidak sebenarnya?"

Tangisku pecah mendengar kalimat beroktaf tinggi darinya. Aku sepenuhnya waras, hanya saja bimbang bagaimana harus mengatakannya. Aku tak tahu tempat apa ini dan apa yang tengah terjadi. Aku cuma ingat, terjungkal di jalan berbatu saat mengikuti Mbah Buyut mengambil nira, kemudian tahu-tahu terbangun di hutan yang lain.

"Baiklah jika kau merahasiakan namamu, aku akan memanggilmu Rokimah saja."

Aku tak peduli! Sama sekali tak peduli. Aku hanya ingin pulang. Tempat dan orang ini sungguh asing, seperti yang pernah kulihat dalam film era kolonial, hanya saja ada warna lain selain hitam putih. Jika ini cuma tempat syuting film, mengapa aku sekonyong-konyong berpindah tempat setelah terjungkal? Mana mungkin aku bisa teleportasi apalagi menjelajah waktu. Mustahil, itu hanya karangan orang sinting.

"He Rokimah, kau dengar tidak? Aku akan memetik kelapa dan mencari ubi buat kita makan. Kau tetaplah di sini." Pemuda bau keringat itu melenggang dengan tampang kesal karena tak mendapat perhatian dariku.

Setelah raib dari pandangan, aku baru sadar kalau pemuda menyebalkan itu bisa saja meninggalkanku di tengah hutan belantara ini. Apalagi sikapku tak mengenakkan padanya, kemungkinan besar ia tak memedulikan nasibku lagi. Tak mau berpasrah diri terlalu cepat, aku berpegangan pada batu besar kemudian berjalan dengan kaki yang nyeri luar biasa. Netraku mengamati sekeliling yang dipenuhi pohon kelapa dan dedaunan kering yang menutupi tanah. Aku mendongak, mendapati kelapa-kelapa cokelat kering yang kapan saja bisa jatuh mengenai kepala manusia yang memasang diri di bawahnya. Lekas menjauhlah aku dari situ, menginjak sebatang kayu yang kemudian kujumput untuk kugunakan sebagai tongkat bagaikan nenek-nenek.

Aku tertatih berniat keluar dari ladang kelapa itu, daripada aku di sini sendirian sementara sinar keemasan rawi makin tergelincir ke barat. Nahasnya, tongkatku tergelincir batu yang membuatku mendeprok dan kakiku tambah nyut-nyutan. Benakku menggerutu pada si pemuda yang sampai hati mencampakkanku di sini sendirian.

"Rokimah, jangan berjalan dulu! Kakimu bakal terkilir lagi." Sekonyong-konyong si pemuda kembali membawa sepikul ranting, kelapa dan beberapa ubi ungu. Setelah meletakkan bawaannya, ia memapahku kembali ke pinggir kali dan menyandarkanku pada batu, tanpa khawatir di batu itu ada penunggunya yang bisa saja tak suka tempatnya disinggahi kami. Ah sudahlah, itu cuma takhayul.

"Mau kabur ke mana? Di luar tidak aman. Belanda telah membumihanguskan desa. Besok kita mesti beralih tempat sebelum mereka membabat hutan ini dan menemukan kita," kata pemuda itu sambil menyalakan api unggun dan membelah kelapa muda menggunakan golok yang tersampir di ikat pinggangnya.

"Belanda? Kenapa mereka ada di sini? Aku ada di mana sekarang?" tanyaku, mendapat tatapan heran darinya.

"Oh Rokimah ... benarkah kau hilang kewarasan?" Ia tampak nyengir dengan maksud menghina.

"Namaku bukan Rokimah! Aku tak mungkin menyandang nama kuno sejelek itu!" protesku menggebu-gebu.

"Salah sendiri tadi kutanya malah membisu."

"Citrakara Jasrin Reswara."

"Namamu susah sekali diucapkan oleh lidahku. Aku akan tetap memanggilmu Rokimah."

"Setidaknya jangan melenceng jauh. Kan bisa Ririn, Kara, Wara, atau sejenisnya. Aku tidak suka dipanggil Rokimah!"

Tanpa mengacuhkan ocehanku, pemuda itu sibuk menusuk ubi dengan ranting kecil. Aku curiga jika ubi itu adalah curian.

"Omong-omong, aku belum tahu siapa dirimu," celetukku mengalihkan prasangka buruk. Aku sama sekali tak berniat membantu pemuda sarkastis itu dan memilih menghangatkan telapak tanganku di dekat api.

"Wira."

Aku melirik parasnya, yang ternyata cukup manis dengan kumis tipis yang agaknya baru pertama kali tumbuh. Itu berarti, usianya mungkin belum kepala dua. Dengan posisi jongkok begitu ia tetap tampak jangkung. Namun, ada hal yang menghalangi parasnya yang bisa saja memukau jika rajin keramas sehingga rambut lebatnya tidak lepek. Ditambah lagi pakaiannya yang kotor, layak dijadikan keset ataupun kain pel. Eh, kenapa aku malah mengkritisi penampilannya? Tidak sopan. Yah, ini hanya pikiran yang otomatis terlintas dan terucap oleh batin.

"Namamu lebih cocok disandang pahlawan, bukannya pecundang yang kabur dari musuh," cibirku karena terlampau dongkol mengingat diriku yang mendeprok gara-gara ditinggalnya.

"Setidaknya aku cukup waras untuk lesehan di pinggir jalan menunggu ajal menjemput," sindir pemuda yang menyandang nama Wira itu.

Wiyata SaujanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang