5. AKU KHAWATIR

349 42 2
                                        


Jam pelajaran berakhir aku membereskan buku buku dan bersiap pulang, Hyungseok menunggu ku, "pulang saja duluan tak perlu menunggu ku." Ujar ku mendahuluinya keluar kelas. "Ayo lah aku hanya berniat baik~" ucap Hyungseok menyamai langkah nya dengan ku.

...

"Hyungseok!" teriak seseorang yang sangat familiar suaranya. Langkah kami terhenti di depan gerbang sekolah, "ada apa Vasco?" tanya Hyungseok.

"Rumah Kalian searah?" tanya Vasco, "iya kami searah," jawab Hyungseok melirik ku. "Baguslah aku mengira Putri pulang sendirian kini ada kau yang bersamanya." Hyungseok menatap ku lama, apa yang dia rencanakan kali ini pikirku.

"Aigo~ maaf Sarang aku lupa ada janji dengan Zin, hei Zin!" teriak Hyungseok pada Zin yang baru keluar gerbang, "ayo kita pergi" Hyungseok merangkul Zin yang terlihat bingung, "YA! apa apaan kau?" ucap Zin tak terima, "kau lupa kita ada janji?" ucap Hyungseok mengedipkan sebelah matanya, "matamu sakit?" tanya Zin polos.

"Kami buru-buru, Vasco temani Sarang pulang ya! kami duluan sampai jumpa!" Hyungseok menarik Zin menjauhi area sekolah meninggalkan ku dan Vasco seperti tadi di UKS.

Hyungseok sialan, aku menatap Vasco canggung, "aku bisa pulang sendiri kamu pergilah." Ku harap Vasco pergi agar jantung ku baik baik saja, "biar ku antar, Hyungseok minta aku jaga kamu." 

Ah sial aku bisa bisa semakin menyukainya jika begini, "ya sudah ayo," kami pun berjalan, saat  belum jauh dari area sekolah kami mendengar teriakan seseorang.

"Vasco!" teriak Bumjae nafasnya yang tak beraturan membuat ku bingung begitupun Vasco, "ada apa Bumjae?" Bumjae mengatur nafas nya sebentar, "ada yang menyerang... anak-anak Burn.. Knucles hufh... mereka banyak dan menyerang begitu saja..."Bumjae mencoba menatur nafas nya.

Bisa ku sadari pias wajah Vasco berubah, " Putri maaf sepertinya hari ini aku tak bisa menemanimu, pulanglah dengan aman." Ucap Vasco berniat meninggalkan ku, aku merasa tak tenang. 

"Aku ikut!" ucap ku spontan, "jangan ini bahaya untukmu pulang lah." Vasco berusaha menjelaskannya.

"Aku ikut." Ucap ku penuh paksaan, Vasco menghela nafas berat, "tetap bersama ku dan Bumjae, ayo." Kami bertiga berlari entah kemana.

...

Setibanya di tempat yang belum pernah ku datangi, banyak anak arsitektur yang sudah tidak sadarkan diri dan pertama kali nya kulihat darah berserakan, "jaga Putri." Ujar Vasco meminta Bumjae menjaga ku dan kami melihat anak SMA lain yang aku yakini ketua nya yang menggunakan knuckle itu, melihat kedatangan kami dia tersenyum.

"Apa kau pemimpin crew lemah ini?" tanya cowok itu, "Kami bukan crew dan ada apa kau menyerang teman teman ku?!" tanya Vasco yang menahan amarah nya, baru kali ini aku melihatnya seperti ini.

"Kalian yang lebih dulu mencari masalah dengan kami, teman-teman ku di pukuli bawahan mu!" ucap cowok itu membuat ku bingung crew apa yang dia bicarakan ini, "Sudah ku bilang kami bukan crew dan Burn Knuckles tidak pernah memulai masalah." 

"Tanya saja pada bawahan mu." Cowok itu menarik salah satu anak Arsitektur, "kami melihat mereka memeras pedagang kecil dan gelandangan, BNC ada untuk melindungi yang lemah kan?" ucap cowok itu, "benar, teman ku melakukan hal yang benar, kau yang salah sudah menjadi orang jahat." 

Cowok itu tersenyum meremehkan. "Jika kau bisa mengalahkan kami semua... aku tak akan memeras orang lemah itu lagi, bagaimana?" tawar cowok itu, "pegang janji mu, orang jahat harus di beri pelajaran, Bumjae bawa Putri masuk." 

Bumjae terlihat khawatir dan Vasco menyadari itu, "percaya pada ku Bumjae, aku tidak akan kalah dengan orang jahat itu." Vasco meyakini, "baiklah..." 

Bumjae menarik lengan ku kasar semua anak SMA antah berantah itu menatapku seperti hidangan yang nikmat membuatku ingin mencolok mata mereka satu persatu. Anak-anak arsitektur yang ku ketahui bernama Burn Knuckles itu ikut melindungi ku membuat ku tak bisa melihat Vasco, aku khawatir...

Aku benar-benar tak bisa melihat apa pun aku hanya mendengar suara suara pukulan, "kita harus menolong Vasco!" ucap salah satu anak arsitektur itu, "kita harus percaya pada Vasco, mereka bukan apa apa untuk Vasco sesuai perjanjian tadi!" jawab Bumjae. 

"Jangan menghalangi ku, aku mau melihatnya!" aku mendorong tubuh Bumjae yang tak bergerak sedikitpun, "diam disini, ini perintah Vasco untuk menjaga mu." Sebenarnya kalian ini apa kenapa menuruti perintah Vasco? apa itu Burn Knuckles? banyak pertanyaan yang tidak terjawab, aku melihat sekitar sepertinya ini tempat perkumpulan mereka.

"Vasco!" teriak Bumjae membuat ku khawatir, aku mendorong Bumjae sekuat tenaga dan akhirnya berhasil namun pemandangan ini mengerikan, kaki ku lemas aku tak pernah menyaksikan orang bertarung sedekat ini, Bumjae menarik dan menutup mata ku, membuat ku menghadap tubuhnya, "jangan lihat." Ucapnya, tubuh ku gemetar, tubuh Vasco penuh darah apa ini tontonan biasa bagi anak cowok? mereka seakan sudah biasa melihat ini.

...

"Pergi, dan pegang janjimu." Seketika suasana hening, "sudah kubilang ini bukan apa apa untuk Vasco!" ucap Bumjae yang kembali melepaskan tangannya dari ku, "kalian baik baik saja?" tanya Vasco pada teman temannya, mereka mengangguk dan tersenyum menang, Vasco beralih menatap ku ia berjalan dengan tertatih menghampiriku. 

"Bagaimana dengan mu? kamu baik-baik aja?" tanya nya pada ku, aku ini cengeng kenapa dia bersikap seperti ini, "dia hanya syok..." ucap Bumjae. 

Air mataku mengalir, baju yang tadinya bersih kini berlumur darah, entah darahnya atau orang orang jahat itu, Vasco menyadarinya. 

"Hey... kenapa menangis? ini bukan luka yang parah atau kamu juga terluka?" tanya nya, aku melayangkan tamparan.

PLAK 

Vasco meringis kesakitan dan mereka yang menyaksikan itu terdiam, "aku menampar mu pelan tapi kamu kesakitan, berarti ini luka parah." Ucap ku santai. "Apa kalian ada P3K?" tanya ku, "ada." Jawab Bumjae dan aku mengikuti langkah nya sementara Vasco di bantu yang lainnya.

~ ~ ~ 

"Duduk, harus di bersihkan agar tak infeksi." Ucap ku pada Vasco dia menurut, aku membersihkan lukanya, dengan kain lembut dan air hangat, jantung ku berdebar cepat kali ini bukan karna salah tingkah atau gugup, perasaan ini aku belum pernah merasakannya aku hanya ingin menangis rasanya melihat Vasco yang terluka namun masih memikirkan teman- temannya lebih dulu, air mata ku tak bisa ku bendung, aku tertunduk tidak mau di anggap cengeng.

Vasco manangkup dagu ku agar menatap matanya, "kenapa menangis apa ada yang luka?" tanya Vasco khawatir, rasa sesak itu semakin menjadi, aku memasang plester di pelipisnya, tak menjawab pertanyaan itu, "sudah selesai, aku pulang dulu." 

Aku bergegas meninggalkan tempat itu Burn knuckles terlihat menguping pembicaraan kami aku mengabaikan semuanya bisa kulihat Vasco yang berniat mengejarku namun kakinya terluka.


Dear My Euntae Lee (Vasco)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang