Darrel

0 1 0
                                    

Jangan lupa beri vote ya...

°
°
°

Happy reading guys 🥳🥳🥳

Dira sudah bisa pulang dari Rumah Sakit, karena Dira hanya belum makan sedari siang. Ada kabar baik buat Dira, ternyata pada saat Dira pingsan, kepalanya terbentur pintu yang membuat dirinya mulai mengingat kembali

Jujur Fira sangat bersyukur karena Dira tidak mengalami apapun, Fira datang dengan membawakan semangkuk bubur

Dira yang tidak sadar kehadiran Fira pun terkejut karena Dira kini posisi membelakangi pintu sedang menghadap jendela melihat suasana pemandangan kota

"Eh Ibu, maaf Dira gak tau kalo Ibu datang"

"Saking fokusnya liat nya ampe gak nyadar ibu datang" ujar Fira terkekeh pelan

"Nih ibu bawain bubur, dimakan ya. Sini ibu suapin"

Dira yang merasa canggung pun hanya mengiyakan dan mulai makan bubur yg di suapi oleh Fira

'jika anakku masih hidup mungkin anakku sama seperti dia, aku rindu dia, tapi bagaimanapun dia sudah tiada'

"Ibu kenapa kok melamun?" Tanya Dira

"Gapapa Ra, ibu cuma keinget sesuatu aja" terangnya

"Cerita aja ke Dira Bu, siapa tau Dira bisa bantu. Dira udah anggep ibu kek ibu kandung Dira sendiri" ujar Dira yang membuat Fira terharu

"Makasih ya Ra, kamu udh anggep ibu seperti ibu kandung sendiri. Oh iya ibu boleh peluk gak?" Tanya Fira

"Boleh Bu" kemudian mereka berpelukan

Kemudian terbukalah pintu, menampakkan seorang lelaki yang tak lain adalah Brian

"Gak adil banget kalian pelukan tapi gak ajak Ian" ujarnya dengan muka ditekuk

"Sini kita peluk bareng" akhirnya mereka berpelukan ala teletubbies

'Semoga ini adalah awal kebahagiaan ku' batin Dira

             ^^^
                 

Vano kini terbangun dari tidurnya, tidurnya nampak tak tenang dengan keringat dingin membasahi tubuhnya, perlahan ia mulai membasuh muka dan bergumam

"Mengapa mimpi buruk itu hadir kembali?"

Saat berbalik menuju ranjangnya ia menemukan kertas yang ditaruh di meja belajarnya bertuliskan,

'Hi, ini gue Darrel. Gue izin mau balik ke kampung gue karena keluarga gue membutuhkan kehadiran gue, klo lo butuh apa - apa hubungi gue di no ini 083 *** *** ***.

-----------------------------

Gue berterimakasih sama Lo karena sudah banyak bantu gue, bahkan keluarga gue. Gue banyak berhutang Budi sama Lo.
Oh iya, saran gue Lo  jujur sama perasaan Lo terhadap Dira, gue tau klo selama ini Lo cinta dia, jangan sampe menyesal karena Lo gak ungkapin perasaan Lo untuknya dan Lo mulai berubah dari sekarang, kalo Lo mau hidup bahagia !!!'

                                                           ~Darrel

-----------------------------

Setelah membaca secarik kertas dari Darrel, Vano mulai flashback diawal pertemuan nya dengan Darrel.

_Flashback on

Padahal dulu tidak mengenal darrel sama sekali, ia menemukan Darrel dalam keadaan mengenaskan, keluarga mereka terlilit hutang hingga terpaksa rumah satu - satunya yg dipunya  di jual membuat Darrel sekeluarga tidak mempunyai apa - apa

mereka sudah disuruh oleh rentenir karena hutangnya belum dilunasi, padahal perjanjiannya hari ini ayah Darrel akan melunasinya dan dalam perjanjian nya dengan rentenir itu jika sampai tempo waktu melunasi hutangnya namun belum dibayarkan, maka secara paksa rumah yg keluarga Darrel tempati akan sebagai jaminan untuk melunasi hutang-hutangnya selama ini.

Pada saat itu Vano tidak sengaja melewati jalan sepi yang pada saat itu dirinya tengah dikejar oleh beberapa anak genk motor

Ia terus saja melewati jalan yg sepi juga dipenuhi dengan semak - semak. Ia tidak sengaja mendengar suara keributan dari arah seberang, segera ia mendekati sumber suara itu. Ia melihat sekeluarga diusir oleh rentenir itu, dan tak lupa keadaan keluarga itu dengan penampilan yang sangat lusuh juga membawa sebuah tas besar, bisa ia yakini seperti nya itu baju

Dengan beraninya Vano bertanya kepada rentenir itu.

"Maaf Bu, kalo boleh saya tau ada apa ya ribut - ribut?" Tanya Vano dengan suara rendah dan hati - hati

"Mereka sekeluarga sudah banyak berhutang pada saya, namun tidak ada sepeserpun ia membayarnya, sebagai jaminannya rumah mereka akan saya sita" terang rentenir itu dengan menunjuk keluarga Darrel dengan mimik muka yang menyiratkan amarah

Kemudian Vano bertanya kepada ayah dari Darrel

"Hmm...pak, mengapa bapak tidak membayar hutang - hutang bapak, kan bisa dicicil untuk selebihnya bisa dibayar di kemudian hari?" Tanya Vano

"Gini nak, jujur saya ini bukan terlahir dari orang kaya, saya hanya seorang petani dan istri saya sedang mengalami sakit keras hingga terpaksa saya berhutang kepada ibu ini dengan jumlah yg sangat besar" terang bapak Darrel

"Oke pak kalo begitu bapak bisa bekerja dengan saya untuk menghidupi anak - anak bapak dan membiayai istri bapak. untuk rumah ini biarkan saja disita karena bagaimanapun bapak berkewajiban untuk melunasinya" terang Vano

Bapak itu menimang dengan ucapan Vano tadi, kemudian menyetujuinya

"Oke Bu silahkan sita rumah saya, saya minta maaf yang sebesar - besarnya kepada ibu karena selama ini saya belum sempat membayarkan hutang - hutang saya, dan juga saya berterimakasih karena telah memberikan uang pinjaman kepada saya" terang bapak Darrel

Dan rentenir itupun pergi menjauh dan menyuruh suruhannya untuk menempelkan secarik kertas yang diberi perekat yg bertuliskan "Rumah ini disita"

Bapak itupun menunjukkan raut sedih sembari menatap kedua anaknya.

"Terimaksih ya nak, kau sudah membantuku untuk menangani masalah ini dan menawarkan saya bekerja, saya berjanji saya beserta anak saya yang sulung ini akan selalu membantu kapanpun dan dimanapun sebagai rasa terimasih saya" ujar bapak itu

Kemudian mereka berkenalan satu sama lain dengan Vano, hingga akhirnya mereka pergi bersama Vano menggunakan mobil pribadinya

Saat telah tiba di apartemennya, ia mempersilakan keluarga Darrel untuk beristirahat sejenak dan besok bapak itu akan bekerja di perusahaan milik ayahnya

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

→ [Btw, part ini author mau libatin Vano dan Darrel dulu ya, biar para readers gak bingung sma tokoh yg bernama Darrel] ←

/entah kenapa ide langsung mengalir gitu aja/😁

Untuk besok author masih mikir alurnya kek apa, oke Jan lupa untuk terus baca story ku ya...

Di Ujung PenantiankuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang