(18+)
🦋Novel by LsnaaLuna_🦋
PLAGIAT PERGI JAUH-JAUH! HARGAI KARYA YANG SUSAH PAYAH SAYA BUAT⚠️
"Gue gak janji gue bisa nahan diri gue kalau posisi lo gini Violence, gue udah mati-matian nahan diri gue biar gak kurang ajar sama lo."ucap Brayen bera...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DOR!
DOR!
DOR!
Suara tembakan menggelegar di seluruh penjuru, bersamaan dengan Violence yang tersenyum puas karena tembakannya tepat mengenai sasaran. "Kemampuanmu sudah jauh lebih baik Rose, berlatihlah lebih giat setelah ini."Johannes mengelus pelan kepala putrinya.
"Kupikir kemampuan menembakku sedikit menurun daddy? Sepertinya aku perlu seseorang untuk uji coba keahlian ku ini."Violence menyeringai seraya menatap tajam sang ayah yang tentu saja mengerti maksud dari Violence.
"Siapa yang ingin kau tembak Rose?"tanya Johannes lembut.
"Berikan musuh daddy padaku, aku akan menghabisi nya sendiri."jawab Violence yakin.
Johannes tertawa bangga, "Belum saatnya, dia bukan orang biasa, persiapkan dirimu lebih baik dari ini. Maka aku berjanji akan membiarkanmu menghabisi musuhku."janji itu terlontar dari mulut sang ayah.
Violence terkekeh pelan,"Akan ku buktikan jika aku layak mendapatkan kepercayaan itu daddy."jawab Violence lantang.
"I trust you, cukup untuk malam ini. Apa kau tidak ingin balapan malam ini?"tanya Johannes, mengerti segala hal yang disukai sang putri.
Seketika senyuman lebar terbit di bibir Violence. "Daddy selalu tau yang aku suka, aku akan pergi balapan malam ini, and one more thing, aku akan pergi sendiri, no bodyguard."peringat Violence.
"Tentu Rose, pergilah. Pastikan kau pulang dalam keadaan utuh."canda Johannes tertawa pelan.
"Memangnya siapa yang berani menyentuh seorang Roseanne Violence daddy? I can kill him easily."jawab Violence dengan penuh penekanan di akhir kalimat.
Johannes mengusap kepala Violence pelan, "Pergilah Rose, berhati-hatilah."pesan Johannes, karena sekuat apapun Violence bisa melindungi dirinya sendiri, Johannes tetap seorang ayah yang penuh akan kekhawatiran.
Ada banyak sekali bahaya yang mungkin saja bisa mengancam setiap detiknya, karena itulah ia begitu mempersiapkan Violence untuk berbagai kemungkinan yang akan dihadapi nanti.
***
Violence mengernyit bingung tatkala sebuah kertas menumpuk di atas meja disamping ranjang kamarnya. Merasa penasaran hingga jemari lentiknya mulai membuka lembar demi lembar kertas itu.
Seutas senyumpun terbit di bibir Violence, bodyguard ayahnya memang benar-benar bisa diandalkan, hanya dalam waktu singkat data yang ia minta tentang 3 pria itu sudah lengkap ditangannya.
"Jadi kita mulai dari mana? Doni? hm, terlalu mudah. Arsen? Gue belum tau sih dia gimana. Bagaimana kalau Brayen dulu, dia lebih menantang untuk gue tundukin, come on Selena, Brayen incaran pertama lo, gue yang akan lebih dulu bikin Brayen bersimpuh di kaki gue."tawa Violence menggelegar memenuhi kamarnya.