Slowly admire

59.1K 3K 12
                                        

Panti dan sekitarnya sudah ramai sekali dipenuhi anggota Raystrack yang berbondong-bondong membersihkan area sekitaran mesjid dan panti itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Panti dan sekitarnya sudah ramai sekali dipenuhi anggota Raystrack yang berbondong-bondong membersihkan area sekitaran mesjid dan panti itu. Banyak anak-anak panti yang antusias ikut serta membantu membersihkan lingkungan mereka.

Violence memarkirkan mobilnya, ia tak menggunakan motor kali ini, sedikit mengkhawatirkan kondisi Naura yang kurang enak badan. Ia takut Naura masuk angin jika ia ajak kebut-kebutan saat naik motor.
"Ayo Ra, ikut gue."ajak Violence seraya meraih tangan kanan Naura yang kelihatan begitu takut dengan geng motor ini.

Naura menatap mata Violence, hingga anggukan Violence membuatnya memberanikan diri untuk ikut.
"Eh ada bu bos, mau gue panggilin pak ketua gak?"tanya Reza yang menyadari kedatangan Violence.

Violence menggeleng pelan, "Gak perlu, ibu pantinya ada gak? gue mau bicara."tanya Violence.

"Ada kok, gue anterin ketemu ibu panti ya bu bos. Ini Naura kan?"tanya Reza seolah mengenal wanita yang menundukkan kepalanya di samping Violence.

"Iya ini temen gue."jawab Violence santai.

"Naura, lo bantuin anak-anak panti bikin kerajinan tangan aja, gak perlu takut sama kita semua, lo aman kok disini. Lo duduk sama anak-anak panti disana tuh."tangan Reza terangkat, menunjukkan tempat anak-anak terlihat gembira sambil membuat kerajinan ditangannya, ada beberapa anggota Raystrack juga disana.

"Ra, lo sama mereka dulu ya, gak papa kok, lo aman selagi ada gue. Gue mau bicara sama ibu panti sebentar."ucap Violence menenangkan.

Naura menghela nafasnya lega, ternyata geng motor yang terkenal mengerikan ini tidak seburuk apa yang ia pikirkan. Mereka terlihat seperti anak baik-baik.
"Gue kesana dulu ya, jangan lama-lama ya Violence, nanti samperin gue."pamit Naura yang sudah mulai memberanikan diri.

Violence mengangguk bersamaan dengan Naura yang melangkah menjauh darinya. "Ayo bu bos, gue anterin dulu."ajak Reza, membuat Violence mengiringi langkah kaki pria itu.

Sampailah mereka pada sebuah ruangan sederhana, tidak terlalu luas. Reza mengajak Violence masuk kedalam ruangan itu. "Bu Dina, ini ada yang mau bicara sama ibu."ucap Reza sopan.

"Iya nak silahkan masuk,"jawab bu Dina lembut sekali.

"Gue tinggal ya, lo ngomong aja sama bu Dina."pamit Reza lalu melangkah pergi meninggalkan Violence.

Ruangan yang cukup kumuh. Banyak buku yang berserakan dilantai karena fasilitas yang tidak memadai. Lemari yang sudah sangat penuh tak mampu lagi menampung buku-buku itu. Hanya kursi kayu yang ada di ruangan ini, tak ada sofa atau tempat duduk yang lebih layak.

Violence terdiam sesaat, hatinya merasa iba melihat semua ini, bagaimana bisa anak panti yang ia perkirakan sekitar 20 orang ini harus tidur dan belajar di ruangan yang sempit seperti ini. Bahkan tak ada kursi belajar, hanya ada meja-meja kecil untuk meletakkan buku mereka.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang