Tough decision!

44.5K 2.2K 52
                                        

Brayen berjalan cepat memasuki kamar mandi siswi, meskipun tertulis jelas tentang larangan pria memasuki kamar mandi wanita, namun ia tak peduli sama sekali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Brayen berjalan cepat memasuki kamar mandi siswi, meskipun tertulis jelas tentang larangan pria memasuki kamar mandi wanita, namun ia tak peduli sama sekali.

Violence hanya diam saja, ia tau Brayen membelanya, namun perkataan Clara tentang tidur bersama Brayen terngiang-ngiang di kepalanya. Entahlah, yang pasti Violence tidak ingin wanita lain menyentuh Brayen selain dirinya. Tak peduli apapun status nya dengan Brayen sekarang, ia tetap mengklaim Brayen sebagai miliknya.

Brayen dibuat ketakutan karena Violence yang terus saja diam tanpa bicara sedikit pun. Ia menurunkan tubuh Violence lalu mulai membersihkan rok Violence.
"Sayang gue beliin lo rok baru ya?"ucap Brayen khawatir, ia takut, benar-benar ketakutan sekarang.

Violence menggeleng, namun tak juga menjawab, ia hanya terus membersihkan rok nya dan mengabaikan Brayen.
"Sayang, lo gak papa kan? Bicara dong sama gue?"mohon Brayen pasrah.

Namun Violence masih setia dalam diamnya, itu membuat Brayen benar-benar frustasi dibuatnya.

Brayen menarik tubuh Violence dalam pelukannya, matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan.
"Sayang, lo marah ya sama gue? Gue salah apa sayang? Hiks hiks."keluh Brayen sambil mempererat pelukannya pada Violence, sungguh ia benar-benar takut Violence meninggalkan nya.

Violence tidak marah, ia hanya ingin Brayen menjelaskan semuanya padanya, namun saat melihat Brayen menangis karenanya membuat Violence menyerah. Ia membalas pelukan pria itu sambil terkekeh pelan.
"Kok nangis sih, gue gak marah Brayen. Lo tuh nangis mulu heran, gimana kalau anak-anak Raystrack tau ketuanya nangis gini?"ledek Violence sambil terus tertawa.

Tangan Violence terangkat mengusap air mata pria itu, "Biarin aja, abisnya lo diam aja, gue takut sayang."rengek Brayen seraya menyembunyikan wajahnya pada leher jenjang Violence.

Violence menepuk-nepuk pelan punggung Brayen, "Udah gak papa, gue gak marah kok."ucap Violence menenangkan.

"Gue akan ceritain semuanya tentang Clara, gue janji sama lo, tapi jangan diemin gue kaya tadi, gue takut."rengek Brayen sambil mempererat pelukannya.

"Ia sayang, udah jangan gini dong, nanti anak-anak lain liat, apa kata mereka kalau tau lo nangis gini."protes Violence, ia tak bohong, sebenarnya Brayen benar-benar menggemaskan sekali. Rasanya ia tak bisa marah terlalu lama pada pria ini.

"Biarin aja, biar semua orang tau kalau gue sayang banget sama lo."kekeuh Brayen tak mau kalah.

"Ihh dasar bayi."ledek Violence lalu mengecup singkat puncak kepala Brayen.

"Jangan diamin gue lagi, kalau lo marah bilang aja sama gue, gue akan jelasin semuanya sama lo jangan diam kaya tadi, gue takut hiks hiks."rengek Brayen semakin menjadi-jadi.

"Iya sayang, udah ah nanti celana lo kotor lagi kena rok gue."peringat Violence.

"Biarin aja, biarin celananya kotor, tetep mau meluk lo kaya gini."jawab Brayen keras kepala.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang