Sacrifice.

31.3K 2K 169
                                        

"Lo gak tidur sama sekali ya Violence? Liat tuh kantong mata lo jelas banget

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo gak tidur sama sekali ya Violence? Liat tuh kantong mata lo jelas banget. Lo gila ya? Gue nyuruh lo tidur, kenapa lo malah gak tidur semalaman, lo bisa sakit Violence."omelan Naura memenuhi telinga Violence sepagi ini, setelah ia bangun tidur dan menyadari jika Violence masih tidak beranjak dari tempat duduknya. Naura kesal bukan main, ia khawatir pada kesehatan Violence.

"Ngapain sih lo berdua pagi-pagi udah ribut aja."kesal Daniel yang tiba-tiba masuk ke kamar Violence karena merasa terusik oleh keributan itu.

"Ini loh Daniel, Violence gak tidur semalaman, liat aja tuh dia lemes banget, gimana dia bisa sekolah kalau gini?"protes Naura.

Sakit kepala yang menyerangnya tanpa ampun, pandangan yang mulai kabur. Tubuh yang memang dari awal sudah kelelahan tapi kini harus bergadang semalaman. Rasanya Violence tak punya tenaga lagi, kesadaran nya juga nyaris hilang namun Daniel mengangkat cepat tubuh Violence dari kursi itu dan membaringkannya di atas kasur dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Rose lo bisa denger gue?"tanya Daniel panik, begitu juga dengan Naura yang kelimpungan mencari air hangat untuk Violence.

"Violence minum dulu."ucap Naura.

Violence menggeleng pelan, "Gue baik-baik aja kok, cuman kecapekan aja kali. Nanti juga sembuh."ucap Violence dengan senyuman penuh paksaan.

"Cuman kecapekan lo bilang? Lo gak tidur semalaman Violence, lo itu manusia asal lo tau!"kesal Naura.

"Gue gak bisa diam gini aja Rose, gue harus kasih tau daddy soal ini. Kesehatan lo jauh lebih penting dari semua hal gila ini."tegas Daniel berniat pergi dari kamar Violence namun tangan lemah Violence menahannya.

"Daniel jangan. Gue gak mau daddy tau soal ini, please. Kalau sampai daddy tau, daddy akan anggap gue gagal jalanin tugas ini, gue gak mau Brayen kenapa-kenapa gara-gara gue. Gue gak papa kok. Nanti habis sekolah gue langsung tidur, gue janji."lirih Violence lemah.

"Berhenti mikirin Brayen, Rose. Lo nyiksa diri lo sendiri. Pikirin diri lo sendiri sebelum lo mikirin orang lain."protes Daniel.

"Daniel gue mohon, Brayen rela babak belur demi bisa masuk ke rumah ini. Bodyguard daddy bukan orang biasa, dan Brayen sendiri? Apa lo pikir dia baik-baik aja? Gue juga tau badan dia sakit semuanya tapi dia tetap berusaha baik-baik aja di depan gue? Dia rela ngelakuin apapun buat gue Daniel, gue juga akan ngelakuin hal yang sama."tegas Violence.

Violence berusaha sekuat tenaganya untuk duduk dan bersandar di sisi ranjang. Ia meraih tangan Daniel untuk ia genggam.
"Udah cukup Clara yang bikin dia hancur, gue gak mau kaya gitu Daniel. Dia berkorban sebanyak itu buat gue, kenapa gue enggak? Gue sanggup kok. Gue baik-baik aja selagi Brayen ada di samping gue. I need Brayen."ucap Violence penuh penekanan.

Daniel menghela nafasnya pasrah, sembari duduk di samping Violence dan mengusap rambutnya pelan.
"Gue tau lo sayang sama Brayen, tapi gue gak bisa liat lo gini cuman demi dia Rose, gue khawatir sama lo."ucap Daniel melemah.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang