Liberation.

95K 2.8K 58
                                        

Sesuai ucapannya, Violence sama sekali tak menemani Naura untuk menemui Arsen, gadis itu ia biarkan sendirian menuju ke belakang sekolah, lokasi yang ditunjuk Arsen untuk bertemu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sesuai ucapannya, Violence sama sekali tak menemani Naura untuk menemui Arsen, gadis itu ia biarkan sendirian menuju ke belakang sekolah, lokasi yang ditunjuk Arsen untuk bertemu.

Namun Violence tak bodoh, ia tak membiarkan sesuatu terjadi pada Naura sedikitpun. Ia bahkan membuntuti Naura dari kejauhan sambil memastikan Brayen dan anggota Raystrack lainnya sudah benar-benar pulang.

Jangan lupakan tentang Violence, ia tentu tak akan membiarkan video itu tersebar dan membuat nama baik Naura tercoreng. Ia tak akan tinggal diam saat Arsen menggunakan video itu sebagai ancaman terbesar dalam hidup Naura. Arsen bahkan tak menyadari apa saja yang bisa Violence lakukan dengan mudah.

Tepukan pelan pada pundak Violence membuat gadis itu langsung menoleh, seorang pria berpakaian serba hitam memakai masker dan topi untuk menyembunyikan wajahnya.
"Semuanya sudah beres nyonya."bisiknya pelan.

Violence menyeringai puas, "Kau yakin tak ada yang tersisa dimanapun?"tanya Violence tajam.

"Saya bisa memastikan nyonya."jawab pria itu yakin, lalu pergi dari area itu dengan cepat, ia tak ingin orang lain mengetahui identitas nya.

Tak ada yang begitu sulit untuk dilakukan Violence, ia bisa mengatasi semuanya dengan mudah.

Naura menggenggam tangannya erat kala kakinya semakin mendekat kearah Arsen yang sudah berdiri dengan tatapan tajamnya. Rasa takut benar-benar menguasai dirinya, keringat dingin mulai menetes di dahinya.
"U-udah lama ya?"tanya Naura terbata, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan, namun dengan sekuat tenaga ia tahan.

Arsen berjalan mendekat kearah Naura, tanpa bicara sepatah kata pun. Membawa tubuh Naura bersandar pada tembok. Mengurungnya dengan kedua tangan kekarnya, Naura masih menunduk, tak berani menatap Arsen sedikitpun, dengan sisa kekuatan yang ia punya dan perkataan Violence yang selalu terngiang dalam benaknya.

Arsen langsung melumat bibir Naura dengan kasar, ciuman yang jauh dari kata lembut. Tangannya mulai turun, menarik tubuh Naura untuk lebih dekat lagi dengannya. Mengelus-elus pelan punggung Naura dari luar baju sekolahnya.

Arsen melepaskan ciuman itu sejenak, membiarkan Naura mengambil udara yang tersisa, matanya buta akan gairah, rasa takut, dan hasrat yang juga menggebu didalamnya.

Hingga detik berikutnya ia kembali melumat bibir Naura, tangan Naura tak berhenti mendorong tubuh Arsen namun tak juga berhasil, kekuatan nya tak sebanding dengan pria ini.

Naura hanya memejamkan matanya, bersamaan dengan air matanya yang perlahan mulai menetes tanpa henti. Tangan Arsen bergerak semakin liar dengan ciuman yang semakin menuntut. Ia bahkan tak sadar bibir Naura berdarah karena kasarnya ciumannya itu.

Tak berhenti sampai di situ, Arsen semakin nekat mengelus paha Naura dari dalam rok sekolahnya. Menyingkap rok selutut itu agar lebih memudahkan nya.

Baju Naura terlihat acak-acakan sekarang, matanya yang sembab karena menangis. Tak punya cara lain, akhirnya Naura menggigit bibir Arsen untuk menghentikan ciuman gila itu. Mungkin saja akan lebih dari ini jika Naura hanya diam saja.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang