Horrible

53.9K 2.7K 43
                                        

Violence menghela nafas pelan sembari mendudukkan tubuhnya pada kursi empuk yang berada tepat di balkon kamarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Violence menghela nafas pelan sembari mendudukkan tubuhnya pada kursi empuk yang berada tepat di balkon kamarnya. Malam ini begitu cerah sekali, bulan bersinar begitu terangnya ditambah sang bintang yang ikut membantu menghiasi langit malam ini.

Violence memusatkan pandangannya kearah langit, punggungnya ia sandarkan ke kursi, lagi-lagi hembusan nafas kasar terdengar, ah ia lelah sekali.

Violence mengambil ponsel yang sedari tadi belum ia periksa sama sekali. Ratusan pesan yang dikirimkan oleh Brayen masuk ke ponsel Violence, membuatnya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Melihat ratusan pesan itu saja mampu membuat rasa lelah Violence sedikit berkurang.

Baru saja Violence berniat membalas pesan Brayen, namun fokus ya teralihkan pada nomor asing yang masuk di ponselnya. Dengan cepat Violence melihat isi chat itu dengan rasa penasaran yang teramat sangat.

Violence sampai tertawa kecil melihat kelakuan Brayen yang berguling-guling seperti anak kecil sambil sesekali menyebut ia merindukan Violence. Argh! Kenapa jadi menggemaskan sekali.

Tangan Violence mengetik beberapa huruf sebagai balasan jika ia sudah melihat video yang Alex kirimkan.

Laporan diterima.

Pesan terkirim, itulah balasan dari Violence untuk Alex sang wakil ketua Raystrack. Violence terdiam sesaat sambil terus menatap video yang masih berjalan detik demi detik. Ia tak mengerti perasaan apa yang ada dalam dirinya namun sungguh melihat tingkah nya begitu saja sudah mampu membuat Violence lupa akan rasa lelahnya.

Dengan tekat yang sudah bulat, Violence memutuskan untuk menelpon Brayen terlebih dahulu, anggaplah ini permintaan maafnya karena mengabaikan pria itu.

Memanggil...

Brayen yang sudah terlelap dalam tidurnya, terganggu dengan deringan ponsel yang memenuhi pendengaran nya. Dengan mata yang terbuka segaris ia mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Gue lagi tidur, ganggu aja."jawab Brayen dengan suara seraknya.

Bukannya marah Violence malah tersenyum, ia mengerti jika pria ini mungkin belum menyadari jika ia lah yang menelpon sekarang.
"Jadi gue ganggu?"tanya Violence lembut sekali.

Seolah mantra yang mengalun begitu indah dipendengaran Brayen, membuat matanya yang tadinya begitu mengantuk kini terbelalak kaget. Brayen berkali-kali mengecek ponselnya dengan siapa panggilannya terhubung sekarang. Ia baru menyadari jika itu Violence.
"Sayang, I am sorry, gue gak liat tadi."ucap Brayen melemah seketika membuat Violence terkekeh kecil, Brayen benar-benar seperti anak kecil yang tengah merengek padanya.

"Katanya ganggu, yaudah tidur lagi aja."jawab Violence santai.

Brayen malah menghentakkan kakinya kesal, meskipun tak dapat dilihat oleh Violence namun ia benar-benar menyesali perkataannya barusan.
"Sayang tadi gak tau lo yang nelpon, maafin ya, gue kangen tau."rengek Brayen lagi.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang