Fix the situation.

31.7K 1.7K 26
                                        

Pesta ulang tahun yang tadinya begitu meriah perlahan mulai sepi, para tamu undangan juga sudah meninggalkan kediaman Clara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pesta ulang tahun yang tadinya begitu meriah perlahan mulai sepi, para tamu undangan juga sudah meninggalkan kediaman Clara. Banyak sekali tumpukan kado yang tergeletak diatas kasur Clara. Namun tak ada yang benar-benar menarik perhatiannya kecuali kotak kecil pemberian dari Rifki.
"Rifki kasih apa ya buat gue?"gumam Clara sambil terus menatap kotak itu sambil tersenyum lebar.

"Ah gue buka kado Violence dulu deh, tuh anak ngasih gue apa ya?"ucap Clara penasaran sambil membuka kado Violence lebih dulu.

Clara tertawa terbahak-bahak setelahnya, "Gila nih anak, ini racun ya? Wah bener-bener gila sih parah."heboh Clara.

Didalam kotak kado Violence terdapat satu botol kecil berisi racun dengan note kecil di atasnya.

Nih buat lo Ra, kalau lo bosan hidup tinggal minum aja.
–Violence

Itulah isi dari kotak kado itu. Clara kira hanya itu saja, ternyata ia salah. Ada sesuatu yang terselip dibawahnya.

Ada foto dirinya disana, Clara ingat sekali baju yang ia pakai di foto itu, itu adalah hari dimana ia memenangkan olimpiade yang begitu ia impikan. Matanya mendadak berkaca-kaca hingga tanpa sadar tangannya bergerak melihat tulisan di balik foto itu.

Ra, foto ini pernah gue liat di wallpaper handphone Rifki. Good luck fighting for your love.

Tulisan itu benar-benar membuat Clara terharu, ia benar-benar tak menyangka Rifki masih menyimpan foto yang sudah lama itu.

Tanpa pikir panjang lagi, Clara langsung membuka kado pemberian Rifki secara perlahan agar tak rusak.

Bukan hadiah yang mewah ataupun mahal, bukan juga barang-barang branded dengan harga miliaran. Hanya sebuah kuas lukis yang terlihat begitu indah bewarna lilac.

Clara menatap dalam kuas ditangannya, hingga bayangan-bayangan kebersamaannya dengan Rifki terputar ulang di kepalanya. Benda sederhana ini bahkan mampu membuatnya dejavu.

"Kenapa lo suka melukis Ki? Kok lo jago banget sih. Ayo ajarin gue."mohon Clara terus menganggu Rifki yang tengah menyelesaikan lukisan indahnya.

"Ara, ayo gue ajarin. Nanti kita bisa sama-sama terus, jadi pelukis terkenal."jawab Rifki seraya mengelus pelan kepala Clara.

Clara menatap penasaran ke arah Rifki, "Kenapa sih lo suka banget lukisan?"tanya Clara lagi.

"Lukisan itu indah banget Ra, sama kaya lo."jawab Rifki membuat Clara terkekeh pelan.

"Udah ayo ajarin gue, nanti kita sama-sama jadi pelukis terkenal ya Ki?"usul Clara girang.

"Siap cantik, gue akan berusaha semampu gue untuk mewujudkan mimpi kita."jawab Rifki lembut. Ia meraih tangan mungil Clara membantunya menyelesaikan lukisan yang Rifki buat.

"Sini Ra, gue ajarin."lirih Rifki sambil terus memegang erat tangan Clara.

Air mata Clara luruh tanpa ia sadari, memori-memori indah bersama Rifki membuatnya tak kuasa menahan tangisnya.
"Gue harus temuin tante Jihan sekarang juga."ucap Clara sembari menghapus air matanya dan berlari meninggalkan kamarnya.

VIOLENCE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang