(18+)
🦋Novel by LsnaaLuna_🦋
PLAGIAT PERGI JAUH-JAUH! HARGAI KARYA YANG SUSAH PAYAH SAYA BUAT⚠️
"Gue gak janji gue bisa nahan diri gue kalau posisi lo gini Violence, gue udah mati-matian nahan diri gue biar gak kurang ajar sama lo."ucap Brayen bera...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kepulangan Violence kerumah disambut oleh puluhan bodyguard yang berdiri berjejer disamping gerbang masuk.
Saat Violence menuruni mobilnya, satu bodyguard mendekat ke arah Violence. "Nyonya hubungi tuan Johannes sekarang juga, tuan sudah menghubungi nyonya berkali-kali."ucapnya sambil menunduk didepan Violence.
Violence sontak membuka tasnya, mencari-cari keberadaan ponselnya. Benar saja ada 39 panggilan yang terjawab disana. Habislah Violence.
"Ra, lo istirahat ke kamar gue, gue ada urusan bentar."perintah Violence.
Naura mengangguk cepat menyadari jika ada yang tak beres, karena tak ingin ikut campur Naura langsung berjalan menuju kamar Violence diantar dua bodyguard dibelakangnya.
"Andreas, Zey, saya tunggu diruang rapat."ucap Violence tegas kepada dua orang kepercayaan ayahnya itu. Sebenarnya Andreas dan juga Zey memiliki usia 2 tahun lebih tua dari Violence. Bisa disebut sepantaran saja, mereka juga terang-terangan menunjukkan kekhawatirannya pada Violence jika sesuatu terjadi pada nyonya besar mereka itu. Memangnya siapa yang tidak tertarik pada pesona seorang Violence.
"Baik nyonya."jawab Andreas dan Zey serempak.
Violence berjalan cepat menuju ruang rapat, ia memasuki ruangan itu dengan terburu-buru, meletakkan tas nya asal, lalu berusaha menghubungi sang ayah. Kesalahannya benar-benar fatal kali ini. Bagaimana bisa ia lupa mengecek ponselnya.
Setelah menghubungi beberapa kali akhirnya panggilan itu terhubung. "Daddy, I am so sorry, Rose tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi."begitu panggilan itu terhubung Violence langsung meminta maaf.
Hening, tak ada sahutan dari lawan bicara. "Daddy,"panggil Rose lagi.
Sebelum akhirnya sahutan Johannes terdengar, "Ini pertama kalinya kau lalai seperti ini Rose, kau tau acara malam ini sangat penting bagi daddy. Kau lalai lagi Rose, ada apa denganmu? Dengan siapa kau pergi?"tanya Johannes tajam.
Violence menghela nafasnya pelan, "I am so sorry daddy, Rose pergi bersama Naura."jawab Violence hati-hati. Takut memancing emosi sang ayah.
"Don't lie to me, Rose! I know everything."jawab Johannes tegas membuat Violence memejamkan matanya sejenak, ia lupa jika ayahnya tau segala hal yang ia lakukan tanpa terkecuali.
"I'm with Brayen, daddy. Hanya ke panti saja."jawab Violence jujur.
"Tak biasanya kau tak mengecek ponsel sedangkan ada hal yang penting malam ini, daddy sudah menegaskan hal ini beberapa kali padamu Rose, no true love! jauhi dia!"ucap Johannes penuh penekanan.
Deg.
Kenapa rasanya Violence takut sekali saat ayahnya menyuruhnya untuk menjauhi Brayen, bukankah sebelumnya ia tak pernah menentang satupun keputusan ayahnya. "Daddy, ini murni kesalahan Rose, jangan membawa siapapun dalam masalah ini. I beg you, I'll take care of everything."jawab Violence pasrah.